
Damar serta Mella sudah sampai di tempat yang Ardy kirimkan alamatnya. Tempat itu tampak sunyi sepi sekali.
"Apa mereka ada di sini?" ujar Damar bertanya pada dirinya sendiri.
"Kita coba masuk saja, pah. Pintunya juga kebuka, tuh. Siapa tahu mereka di dalam," usul Mella dan mendapat anggukan dari pria itu.
"Iya, ma. Ayo!"
Damar dan Mella melangkahkan kaki ke dalam bangunan gelap tersebut. Dan mereka di kejutkan oleh seseorang yang berlari dari arah dalam kemudian jatuh tersungkur karena menabrak Mella.
"Tangkap dia!" teriak seseorang yang sepertinya tengah mengejar seseorang barusan.
Melihat kedua pria yang tengah berlari itu Ardy dan Daven, Damar langsung menarik lengan seseorang yang baru saja menabrak istrinya ketika hendak mencoba melarikan diri kembali.
Damar mengunci kedua tangan seseorang itu ke belakang, sehingga seseorang itu memekik kesakitan.
"Aaargghh.."
Suara teriakan tersebut seperti tidak asing di telinga Mella. Dengan tidak sabar Mella membuka tudung penutup kepala dan juga masker yang di kenakan seseorang tersebut yang ternyata seorang wanita.
"Kau-" lirih Mella, kedua pasang mata mereka bertemu dalam sebuah tatapan penuh ketidak percayaan.
Ardy, Daven, di susul oleh Diana dan juga Jian pun ikut terkejut saat melihat wajah wanita yang hendak membunuh Jian.
"Gea!" pekik Ardy.
Mella seketika menoleh pada pria yang baru saja menyebut nama wanita di hadapannya itu.
"Kau pun mengenalnya?" tanya Mella sedikit kaget dan di angguki oleh Ardy.
"Kenapa kau melakukan itu pada Jian, Gea? Kenapa kau mau membunuh istriku? Kenapa?" tanya Ardy dalam emosi yang tertahan.
"Membunuh?" batin Damar, ia langsung melepaskan Gea dengan mendorongnya. Tak sudi rasanya menyentuh seseorang yang berniat akan membunuh putrinya. Sehingga Gea jatuh tersungkur dan tak berdaya sekarang.
"Apa? Kau mau membunuh Jian?"
Pertanyaan Mella barusan membuat semua pasang mata sedikit terheran menatapnya. Sepertinya Mella begitu mengenal Gea.
Gea tertunduk dalam isak tangisnya. Semua orang menghakiminya seolah-olah dia adalah orang yang paling jahat di sini. Sedetik kemudian, ia mendongakan kepalanya dan menatap wajah orang-orang yang berdiri mengelilinginya secara bergantian.
"Ya, aku ingin Jian mati. Kenapa?" teriak wanita itu menggema di ruangan.
Semua orang tidak habis pikir dengan apa yang ada di dalam pikiran Gea.
"Apa kau sudah gila, hah?" seru Ardy dengan emosi yang meluap-luap, namun Daven berusaha menahan amarah temannya sebelum mendengar penjelasan dari mulut wanita iblis bernama Gea itu.
"Benar, aku gila. AKU GILA! aku gila kasih sayang. Kalian tahu kenapa? Jian telah merebut semua kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikku. Jian merebut kasih sayang yang seharusnya aku dapat. Jian merebut semuanya. Jian merusak kehidupanku. Aku ingin Jian lenyap dari muka bumi ini." Gea berusaha menumpahkan semua yang ia pendam selama ini, dan sorot matanya kini tertuju pada wanita paruh baya yang berdiri tepat di hadapannya.
"Dan, kau. Kenapa kau membuangku? Kenapa kau tidak mau mengakuiku sebagai anakmu hanya untuk menikah dengan pria miskin ini? Kenapa kau memerasku hanya untuk mengobati suamimu yang penyakitan ini? Kenapa? Kenapa?" seru Gea pada Mella, semua orang terhenyak mendengar apa yang di katakan Gea.
"Apa kau tahu seberapa menderita dan tersiksanya aku hidup sebatang kara sedangkan kau? Kau berjanji tidak akan memberi cinta dan kasih sayang pada anak pria ini, tapi apa? Beberapa hari lalu kalian justru berkumpul saling melemparkan canda tawa, sedangkan aku? Aku menangis di setiap harinya."
Kini sorot mata Gea tertuju pada Ardy.
"Secercah harapan di antara keputus asaanku seketika muncul saat aku mengenalmu, Ardy Tamajaya. Dan aku merasa seperti hidup kembali, saat kau memberi cinta yang aku pikir kau akan setia. Bahkan untuk mengaharapkan sebuah kesetiaan aku rela memberikan kehormatanku padamu. Tapi apa yang aku dapat? Justru aku harus menelan kekecewaan saat tahu ternyata kau memiliki wanita lain yaitu wanita sialan ini." Gea menunjuk wanita yang tengah hamil besar itu.
"Kau menuduh aku yang mengkhianatimu, padahal jelas-jelas kau yang mengkhianatiku dengan menghamili wanita sialan ini. Saat aku ingin menjelaskan kenapa aku tidur dengan pria-pria di klub malam itu, kau sama sekali tidak memberi aku kesempatan untuk bicara. Kau tahu, kenapa aku mau tidur dengan pria-pria itu? Sangat menjijikan tapi harus aku lakukan. Semua aku lakukan demi mendapatkan uang untuk dia," telunjuknya ia gunakan untuk menunjuk Mella, tanpa memalingkan pandangan dari Ardy.
Amarah Ardy seketika tergantikan oleh rasa iba, mendegar bagaimana tersiksanya hidup mantan kekasihnya. Jika bisa berandai, andai dulu Gea menceritakan kehidupan sebenarnya. Mungkin kebahagiaan berpihak pada wanita itu.
"Jadi Gea ini anakmu, ma?" pertanyaan Damar membuat tangis Mella semakin pecah.
"Kenapa mama tidak jujur kalau mama punya anak? Kalau mama jujur, mungkin kejadiaannya tidak akan seperti ini." Damar sangat menyangkan hal tersebut.
"Awalnya mama berpikir, ayah tidak akan mau jika mama punya anak. Maka dari itu mama meminta Gea untuk pergi jauh dan tidak sampai mengaku mama ini ibunya, begitupun sebaliknya."
"Astagfirullah, ma. Kenapa mama bisa punya pikiran seperti itu? Ayah juga punya anak, dan ayah tidak akan mempermasalahkan jika mama pun punya anak. Justru ayah senang memiliki keluarga besar."
"Maafin mama, ayah. Maafin mama juga Gea. Mama sudah sangat sangat keterlaluan padamu, nak," ucap Mella penuh penyesalan.
"Kau pikir dengan maaf bisa mengubah semuanya, hah?" seru Gea.
"Bisa," sahut Jian. "Dengan kau meminta maaf atas apa yang akan kau lakukan padaku, aku tidak akan membawa kasus ini ke jalur hukum," imbuhnya.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu, sialan. Kalau pun aku harus di penjara, aku akan terima."
"Sungguh? Kasus percobaan pembunuhan berencana itu hukumannya berat. Apa kau mau di sisa hidupmu kau menghabiskannya dengan penderitaan?"
Kalimat tanya Jian membuat Gea terdiam sejenak.
"Di sisa hidupmu kau berhak mendapat kebahagiaanmu, Gea. Jadi, buanglah rasa kebencian di dalam hati dan pikiranmu. Peluklah kedamaian, kita ini keluarga, Gea," tutur Jian tak bisa di bantah oleh wanita itu.
Gea menatap nanar wanita yang sudah melahirkannya, sepertinya wanita itu benar-benar menyesali perbuatannya karena sudah menelantarkannya selama ini. Kemudian wanita tersebut berjalan lebih dekat lalu memeluknya begitu erat. Awalnya Gea ingin meronta, tapi entah kenapa ia begitu nyaman dalam pelukan yang selama ini ia rindukan.
"Maafkan mama, Gea... mafkan mama, sayang... Mama akan perbaiki semuanya, maafkan mama. Mama sayang Gea, mama sayang, nak," ucap Mella di antara isak tangisnya, begitupun dengan Gea, air matanya menumpah ruah di pelukan sang mma.
Semua orang yang melihatnya merasa terharu, amarah berubah menjadi rasa iba.
Sebab sebuah kebencian mampu menggelapkan hati manusia, sehingga manusia yang di penuhi rasa benci tidak akan bisa berpikir secara jernih.
Bersambung...
...Hayoooo... Siapa yang sudah suudzon sama ALANA nih..? ...
...Mau minta maaf juga gak sma Alana? 😁😁😁...