
Di ruangan kerja kantornya, Ardy tampak bahagia sekali. Sebuah kotak makan berwarna putih bening berisi nasi goreng ternyata yang menjadi sumber kebahagiaannya saat ini.
Nasi goreng tersebut merupakan bekal sarapan yang di berikan oleh Jian. Dan ia yakin rasanya pasti akan mengalahkan nasi goreng yang ada di restoran berkelas.
Alice, sekretarisnya itu menatap bosnya heran. Sebab sejak tadi bosnya itu senyum-senyum sendiri. Dan yang membuatnya merasa aneh, seorang tuan Ardy membawa bekal ke kantor.
"Tuan, jadi bagaimana, apa kita akan menerima tawaran kerja sama dengan PT. Jeremy Gemilang?" tanya Alice untuk yang kesekian kalinya.
"Terserah kau saja! Aku percayakan semuanya padamu," jawab Ardy tanpa mengalihkan pandangannya dari kotak makan yang ada di hadapannya.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi!" pamit Alice.
Setelah sekretarisnya itu pergi, Ardy mulai tutup kotak makan tersebut. Kemudian mengambil sendok plastik yang menumpang di atas nasi goreng. Ia mendekatkan hidung mancungnya dan mencium dalam-dalam aroma nasi goreng itu.
"Hmm ... Wanginya mantap," ujarnyab
Lantaran sudah tidak sabar, Ardy segera menyendok nasi goreng di hadapannya. Begitu masuk mulut, beuuuh ... seperti dugaannya. Nasi goreng rumahan yang rasanya mengalahkan nasi goreng restoran berbintang.
Kedua matanya terpejam, mulutnya mengunyah sembari menikmati setiap kunyahan nasi goreng berpadu dengan telur. Bibirnya tak luntur dari senyum yang mengembang. Tapi pikirannya tiba-tiba mengingat seseorang yang membuatnya kini berhenti mengunyah, dan perlahan senyumnya memudar.
Ardy membuka kedua matanya, lalu menatap nasi goreng tersebut dengan tatapan sendu. Dulu, makanan itu yang menjadi menu sarapan keluarganya. Dan ibunya lah yang selalu membuatkan nasi goreng.
Pria itu menaruh kembali sendok yang masih ia pegang ke atas nasi goreng, lalu menutup kotak makannya. Kemudian menggeser kotak makan tersebut sedikit jauh. Ardy menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
Ia mengingat betapa bahagianya di, ketika keluarga mereka masih hangat dang baik-baik saja. Ibunya merupakan sosok wanita penyanyang, perhatian, serta pengertian. Sosok yang layak di sebut malaikat, sebelum akhirnya berubah menjadi iblis.
Ardy tersenyum getir. "Dia mirip sekali dengan Jian. Apa aku akan mendapatkan kebahagiaan itu lagi jika aku bersama Jian?"
Ardy kembali memandang kotak nasi goreng. "Jian pandai sekali memasak seperti dia. Ayah Jian juga sepertinya baik, sama seperti ayahku. Sepertinya kebahagiaanku ada di sana. Aku harus segera meraih kebahagiaanku, sebelum ada orang yang mengambilnya," ujarnya lagi.
🌷🌷🌷
Sore ini Ardy kembali mengantar Jian pulang. Dan sekarang mereka sedang berada di tengah kemacetan ibu kota.
"Tuan, berhentilah menatapku seperti itu!" pinta Jian lirih, menahan malu.
Ardy tersenyum, kemudian tangannya mengalihkan anak sulur rambut yang menutuli wajah Jian. Wanita itu sampai terkejut oleh perlakuannya.
"Memangnya kenapa? Kau cantik," pujinya.
Jian semakin di buat gugup dan salah tingkah. Dan lihatnya pipinya yang saat ini memerah seperti tomat. Ardy tersenyum geli melihat reaksi wanita itu saat ia goda.
"Berhenti menggodaku, tu tuan!" ujar Jian terbata.
"Aku akan terus menggodamu, kau menyenangkan," kata Ardy, kemudian menusuk bagian dada Jian dari samping menggunakan telunjuknya. Itu sangat empuk sekali.
Jian memekik geli. "Aaww .. Hentikan, tuan!"
Jian menangkis beberapa serangan telunjuk Ardy, dada dan pingangganya yang menjadi sasaran pria itu. Ardy sampai terbahak, menggoda wanita sepolos Jian ternyata akan semenyenangkan ini.
Sampai akhirnya wajah mereka kini berdekatan, dekat sekali. Dan keadaan dalam mobil cukup hening. Hangatnya napas Ardy terhempas ke wajah Jian, begitupun sebaliknya. Aroma vanilla dan stroberi bibir Jian menusuk sampai ke pikirannya.
Aku akan secepatnya menikahimu, Jian. Berada sedekat ini denganmu membuat aku tidak tahan. Aku tidak ingin melukaimu lagi dengan menikmati tubuhmu di luar suatu hubungan yang sakral.
Ucap Ardy dalam hati.
Bersambung...
___
Tinggalkan jejak dengan cara like, komen, vote, ataupun beri hadiah melalui POIN maupun KOIN.
Karena dukungan kalian sangat berarti untuk saya serta memberi semangat lebih dalam menulis. 😊😊😊
Follow juga Ig @wind.rahma