
Setelah di buat pusing mencari minuman segar bernama cincau di tengah teriknya matahari, akhirnya Ardy menemukannya juga. Seorang kakek yang sudah tampak keriput di makan usia, serta bagian gigi yang hanya menyisakan beberapa biji di bagian pinggir itu tersenyum lebar melihat Jian yang sedang asik dan betapa menikmatinya cincau dagangannya.
Sementara Ardy menatap lekat tiada henti calon istrinya tanpa mengedipkan mata dengan sorot mata heran, mengapa istrinya begitu menginginkan sebuah minuman yang berisi gumpalan hijau yang membuatnya bergidik sendiri.
"Apa kau mau juga, tuan?" tawar Jian seraya menyendok cincau di tangannya.
Ardy langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, kau saja!" tolaknya.
"Sungguh? Ini enak, loh. Kau akan menyesal jika tidak mencobanya," ujar Jian sembari menyuapkan cincau barusan ke dalam mulutnya, lalu meminum air berwarna pink yang rasanya sangat manis dan segar.
Tidak bisa di pungkiri, pria itupun sebenarnya sangat haus. Melihat Jian menikmati minuman tersebut, membuatnya meneguk salivanya dengan susah payah.
"Sungguh itu enak?" tanya Ardy memastikan, entah kenapa sekarang ia jadi penasaran.
"Hm, tentu saja. Kalau kau mau, pesan lagi saja, ya! Yang ini untukku," ujar Jian.
Ardy menoleh pada kakek sang penjual cincau, kakek tersebut melemparkan senyum padanya.
"Kalau mau saya buatkan, nak," kata kakek itu.
Ada keraguan dalam benak Ardy, tapi ia tak mau mati penasaran soal rasa cincau itu. Akhirnya ia pun menganggukan kepala pada sang kakek.
"Ya sudah, buatkan saja! Tapi jangan terlalu banyak hijau-hijaunya," pinta Ardy kemudian.
"Siap, nak," kata kakek itu seraya memberi hormat layaknya saat upacara bendera.
Tidak berapa lama, kakek itupun selesai meracik minuman cincaunya. Dengan tangan gemetar ia menyodorkannya pada Ardy.
"Terima kasih, kek," ucap Ardy seraya menerima gelas bening yang memiliki sebelah telinga itu.
Pria itu mendekatkan isi gelas tersebut ke bawah lubang hidungnya, baunya terasa enak dan sepertinya menyegarkan. Jian yang menyaksikan hal tersebut tertawa kecil melihatnya.
"Cepatlah coba, nanti cincaunya akan mencair," ujar Jian memberi tahu.
"Benarkah? Tapi ini bukan es," kata Ardy tak percaya.
"Ya sudah, diamkan saja terus! Lama kelamaan akan mengecil cincaunya," desis Jian.
Ardy menatap Jian yang masih fokus menyantap cincaunya, apa benar cincau itu akan mencair. Ah, masa iya. Pikir pria itu.
Perlahan Ardy menyentuh sendok di dalam gelas tersebut, dan mulai menyendok airnya dulu. Dan begitu sendok tersebut menempel di bibirnya, yang pertama ia rasakan dingin. Kemudian sendok tersebut berhasil menerobos pertahanan mulutnya, sehingga Ardy membulatkan matanya tak percaya, jika air tersebut benar-benar terasa manis dan menyegarkan.
Hm, enak juga, ya, ternyata. Jian memang pandai memilih jenis minuman segar. Calon istrinya yang pintar. Pujinya dalam hati.
Ardy mengambil sendok tersebut dari dalam gelasnya. Dan meneguk air cincau tersebut langsung ke dalam mulutnya, sampai menyisakan setengahnya lagi. Tawa Jian kini pecah melihat kelakuan calon suaminya.
Ardy menghentikan minumnya dan menoleh pada wanita di sampingnya sambil memamerkan sederet barisan gigi putih yang rapi.
"Hehehe.. iya enak, sayang," jawab Ardy menciptakan rona merah di pipi Jian.
Sang kakek yang menyaksikan tingkah pembelinya ikut tersenyum, namun tak berlangsung lama, senyuman itu pudar dan berganti menjadi raut wajah kesedihan.
Jian yang menyadari hal tersebut langsung menanyakan kondisi sang kakek.
"Kakek kenapa sedih?"
Kakek tersebut segera menyeka air mata yang baru saja luruh membasahi pipi menggunakan lengan kausnya.
"Tidak, nak. Tidak apa-apa," jawab kakek tersebut sembari berusaha tersenyum.
"Sungguh, kakek tidak kenapa-kenapa?" Jian meletakan cincau di tangannya ke bangku kayu panjang yang di dudukinya, kemudian menghampiri kakek yang duduk di bawah gerobaknya.
"Tidak, nak. Kakek hanya teringat alm. istri yang mirip sepertimu," terang kakek itu.
"Kau mengingatkan kakek padanya, dulu saat kami masih muda, istri kakek pun begitu menyukai cincau. Saking sukanya, kakek sampai berjualan sendiri, bahkan sampai sekarang," imbuhnya.
Jian dan Ardy ikut terharu mendengarnya. Hatinya terenyuh mendengar cerita masa muda kakek tersebut.
"Mm.. memangnya kakek tidak memiliki anak, sampai kakek masih berjualan? Kakek kan sudah tua."
Kakek tersebut menghela napas berat, pertanyaan Jian membuat air mata yang semula surut kini menderas lagi.
"Kakek tinggal sebatang kara, nak. Istri kakek dulu tidak bisa memiliki keturunan. Maka, jika kalian memiliki seorang anak, bersyukurah. Sebab banyak di luaran sana yang begitu menginginkan keturunan, sampai apapun mereka lakukan untuk mendapatkannya," tutur sang kakek di dalam isak tangisnya.
Jian menoleh pada Ardy, sepasang mata mereka kini bertemu dalam sorot mata sendu.
Memang banyak sekali sepasang suami istri yang sulit mendapat keturunan, bahkan mereka sampai menyerah dan berujung cerai karena tidak mendapatkannya. Dan tak jarang juga, sepasang kekasih yang berhubungan badan dan gampang sekali hamil, kemudian memilih membuang janinnya, baik melalui aborsi ataupun saat sudah melahirkan.
Dari sang kakek pedagang cincau itu Jian bisa memetik sebuah pelajaran, jika apapun yang terjadi dalam kehidupan, kita harus tetap mensyukurinya. Sebab apa yang kita miliki saat ini, bisa jadi masih menjadi impian bagi orang lain.
Bersambung...
___
...LIKE,KOMEN,HADIAH POIN KOIN, tambah ke rak FAVORIT yaaaa...
...Bantu SHARE cerita ini ke grup fb atau WA yang suka baca Novel, ya 😊...