One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Obrolan Menantu dan Mertua


Ini merupakan hari ke 3 Lily tinggal bersama putra dan menantunya. Kini mereka tengah sarapan pagi bersama.


"Dy, besok ibu mau pindah ke rumah ibu saja, kan tidak enak juga jika ibu harus tinggal bersama kalian," ujar wanita itu.


"Jangan dulu, bu. Aku tidak mau ibu tinggal sendirian, lagipula orang itu belum bisa di temukan, aku tidak akan tenang jika membiarkan ibu tinggal di sana," ucap Ardy cemas.


Apa yang di katakan Ardy barusan sangatlah benar. Mau tidak mau, Lily harus tetap tinggal bersama mereka di Unit sampai pelaku kejahatan itu tertangkap.


Usai sarapan, Ardy berpamitan pada kedua wanitanya untuk berangkat ke kantor. Sebab Alice memberi tahu jika sudah ada staf yang akan menggantikan posisi kerja Jian.


Sementara Jian mencuci piring, Lily membantu membereskan apa yang ada di sana. Selama tinggal di sana, wanita itu belum pernah mengobrol seputar hubungan putra dan menantunya selain tentang pernikahan dan kehamilan mereka.


Lily pun berjalan dan berdiri tepat di samping Jian, membantu merapikan piring yang baru saja menantunya cuci.


"Nak, ibu boleh tanya sesuatu padamu?" tanya Lily memulai obrolan.


"Ya, ibu, tentu saja," jawab Jian seraya tersenyum.


"Kau sudah berapa lama menikah dengan Ardy? Dan bagaimana kalian bisa bertemu?" tanya wanita itu penasaran.


Jian sedikit terkejut oleh pertanyaan ibu mertuanya. Memang mereka sudah memberi tahu jika mereka sudah menikah, tetapi mereka tidak memberi tahu jika sebenarnya Jian hamil duluan.


Jian mulai menyusun kata-kata dalam kepalanya, dan berusaha bersikap tenang agar Lily tidak curiga.


"Mmm ... Sudah 4 bulan, bu," jawab Jian bohong, mengingat usia kehamilannya yang sudah menginjak ke 3 bulan.


Lily menganggukan kepalanya beberapa kali. "Apa kau dan keluargamu tidak pernah menanyakan keberadaan ibu? Atau Ardy memang mengatakan hal lain?"


Ada raut sedih yang terpancar di wajah Lily. "Apa Ardy tidak berusaha mencari ibu?" tanya wanita itu penasaran.


"Saat itu Ardy begitu membenci ibu, saking bencinya dia bahkan benci jika aku mengucapkan kata 'ibu'di depannya. Dan kebencian itu Ardy lampiaskan pada banyak wanita yang menjadi korbannya. Namun saat sudah bertemu denganku, kebencian Ardy pada ibu sedikit terkikis, dan saat itu muncul rasa penasaran dimana kebaradaan ibu," jelas Jian.


Lily kemudian terdiam, ternyata menghilangnya dirinya menciptakan kesalahpahaman yang teramat besar.


"Lalu, apa kau juga termasuk korban pelampiasan kebencian Ardy?" tanya Lily sedikit ragu.


Pertanyaan tersebut membuat Jian seketika gugup.


"Maksudmu, bu?" Jian balik bertanya.


"Tidak, ibu tidak bermaksud bertanya seperti itu. Sudahlah, tidak perlu di jawab. Yang terpenting Ardy sudah berubah sekarang. Dan terima kasih karena sudah menolong ibu, ibu tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak menolong ibu," ucap Lily.


Jian sedikit terharu oleh ucapan terima kasih ibu mertunya.


"Sama-sama, bu. Mungkin semua ini juga sudah di gariskan oleh Tuhan," balas Jian sambil menaruh piring terakhir yang ia cuci.


"Ibu beruntung memiliki menantu yang baik sepertimu, nak. Ardy memang tidak salah memilih," kata wanita itu.


Jian tersipu malu di buatnya. Ia juga merasa sangat beruntung karena memiliki suami serta mertua sebaik mereka.


Bersambung...