
Di depan ruang bersalin, Damar dan juga Mella sudah tidak sabar menunggu kabar dari Dokter mengenai kelahiran cucu mereka. Daven yang memberi tahu bahwa Jian akan melahirkan. Ia juga masih berada di sana bersama Diana.
Begitu Dokter keluar, Mella langsung memberi sederet Dokter itu dengan sederet pertanyaan.
"Bagaimana persalinannya, Dok, apa Jian dan bayinya selamat?"
Semua orang menatap Dokter dengan tidak sabar. Dokter tersebut mengulas senyum sebagai jawaban.
"Alhamdulillaah.. Nona Jian dan bayinya selamat."
"Alhamdulillaah.." ucap mereka serempak.
"Jadi, apa kami sudah bisa melihatnya?" tanya Damar kemudian.
"Tentu saja. Tapi secara bergantian, ya. Jangan langsung semuanya masuk," pesan Dokter itu.
"Baik, Dok. Terima kasih."
Damar beserta istrinya yang lebih dulu masuk, mereka sudah tidak sabar melihat sang cucu.
Begitu masuk ke dalam, bayinya sedang di adzankan oleh Ardy. Jian yang mendengarnya pun tidak menyangka, jika suaminya memiliki suara yang begitu indah saat mengumandangkan suara adzan.
Usai di adzani, baru Damar dan Mella mendekat.
"Laki-laki atau perempuan, nak?" tanya Damar penasaran.
Jian menatap ke arah suaminya yang tengah berbahagia.
"Laki-laki, yah," jawab Ardy, jenis kelamin yang begitu ia inginkan.
"Alhamdulillaah.. Akhirnya keinginan ayah terkabul juga," ucap pria paruh baya itu penuh syukur.
Jian menatap ayahnya sedikit terkejut.
"Jadi ayah pun menginginkan cucu laki-laki?" tanya Jian dan mendapat anggukan dari ayahnya.
"Keinginan kita sama, yah," timpal Ardy.
Meski keinginan Jian anaknya berjenis kelamin perempuan, tapi ia sama sekali tidak kecewa. Apapun yang di berikan Tuhan, itu pasti yang terbaik bagi mereka.
Mella meminta bayi yang berada di dalam pangkuan Ardy, ia juga ingin sekali menggendongnya.
"Tampan sekali, sayang. Persis opamu," ujar Mella sambil menyubit lembut batang hidung bayi yang mancung itu.
"Mirip akulah, bu. Masa mirip ayah Damar, sih, kan aku yang buat," cetus Ardy menciptakan gelak tawa di ruangan tersebut.
"Ya Allah cucu ibu.." Lily mengambil alih cucunya dari pangkuan Mella.
"Tampan kan, bu?" tanya Ardy pada ibunya.
"Laki-laki?" wanita paruh baya itu balik bertanya.
"Iya."
"Alhamdulillaah, ya.. Harapan ibu akhirnya terkabul," ucap wanita itu seakan mendukung penuh harapan Ardy.
"Banyak yang menginginkan jenis kelaminnya laki-laki, maka dari itu Tuhan mengabulkannya. Kalau mau perempuan, nanti kita buat lagi ya, sayang.." kalimat Ardy kembali membuat semua orang tertawa.
"Emang otak mes*m kau, Dy. Istri baru lahiran sudah ngajak bikin lagi. Aku saja masih proses, benar kan, sayang?" sahut Daven sembari menyenggol bahu Diana.
"Apaan sih," ujar Diana malu.
Semua orang tertawa mendengar candaan-candaan yang keluar dari mulut Ardy dan Daven. Kebahagiaan tengah berpihak pada Ardy dan Jian. Semoga mereka terus berbahagia tanpa ada masalah yang menerpa.
"Oh, ya. Nama baby-nya siapa?"
Pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Diana mewakili rasa penasaran semuanya.
Ardy terlihat berpikir sejenak, mengingat nama yang sudah ia buat jauh-jauh hari jika anaknya terlahir laki-laki. Nama itu juga suda di sepakati oleh Jian.
"Aiden Gabriel Sanjaya."
"Nama yang sangat bagus," puji mereka semua.
TAMAT...
Pengumuman!
Terima kasih banyak untuk semuanya yang sudah setia membaca ceritaku ini, semoga kalian semua di berikan kesehatan, rizki yang berlimpah. Sambil nunggu BONUS CHAPTER, silahkan mampir ke karya baru aku yang berjudul:
Dark Wife Mr. JEF
Bisa klik di kolom pencarian, atau langsung klik Avatar aku. Baca juga karya-karya aku yang lainnya, ya.
Salam hangat,
Wind Rahma