One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Jangan lakukan itu, Ardy!


"Aku tahu kau memang tipe pria yang memperjuangkan keras seorang wanita demi mendapatkannya. Tapi tidak dengan menghalalkan segala cara apalagi dengan memisahkan aku dengannya! Aku memang selalu memlermainkan wanita, tali tidak dengan kali ini. Jian berbeda dengan wanita lainnya, dan aku ingin memilikinya," ucap Ardy mantap.


"Tapi kau masih berhubungan dengan kekasihmu. Jangan egois, lepaskan Jian untukku!"


"Tidak akan pernah! Dan jangan pernah bermimpi untuk memilikinya!" ucap Ardy lagi, kemudian bangkit dari duduknya.


Pria itu mengeluarkan sebuah pisau cutter dari balik saku jas hitam yang ia kenakan. Perlahan berjalan lebih dekat ke arah Daven.


Tajamnya pisau cutter itu memantulakn silau di kedua manik mata Daven, wajah pria itu seketika berubah menegang.


Langkah Ardy kian mendekat, pria itu semakin mengikis jarak. Bulir keringat dingin mulai menetes di kening Daven. Pria itu sampai menelan salivanya dengan susah payah.


"Aku akan melepaskanmu, tapi jangan memaksaku untuk melepaskan Jian!" Ardy meletakkan pisau cutter tersebut di telapak tangan Daven yang masih di ikat.


Daven menghirup napas lega, ia pikir Ardy akan berbuat yang tidak-tidak padanya.


"Kau teman baikku sejak lama, jadi tidak mungkin aku melakukan sesuatu seperti yang baru saja kau pikirkan. Aku masih punya perasaan, dan sisa perasaan itu hanya ku berikan untuk Jian," imbunya, seperti dapat membaca pikiran Daven.


Setelah itu Ardy pergi dari sana, namun sebelum itu ia sempat berhenti di ambang pintu dan mengatakan sesuatu pada Daven.


"Satu lagi, setelah ini jangan pernah dekati Jian lagi! Kau hanya akan membuatnya lebih terluka daripada ini, camkan itu!"


🌷🌷🌷


Setelah 3 hari berada di ruang ICU, akhirnya hari ini Damar sudah bisa di pindahkan ke ruang VVIP rawat inap. Dan Ardy bersdia untuk membayar semua biaya rumah sakit pria paruh baya itu.


"Tuan, bagaimana caranya supaya aku bisa membayar semua ini padamu?" Rasanya Jian enggan menerima kebaikan pria itu.


"Tidak usah khawatir! Kau tidak perlu melakukan apapun, karena aku tidak mengharapkan imbalan apapun darimu," tuturnya.


"Sungguh? Apa aku tidak perlu melakukan hal itu lagi denganmu untuk-"


Ardy menempelkan jari telunjuknya di bibir Jian, sehingga wanita itu berhenti bicara.


"Jangan katakan itu lagi!" pinta Ardy kemudian.


Jian mengangguk kaku. "Baiklah. Terima kasih banyak, tuan."


"Ya, sama-sama," jawabnya seraya melemparkan senyum yang membuat hati Jian terasa adem ayem.


Seorang Dokter baru saja keluar dari ruang rawat inap Damar, Jian dan Ardy segera menghampiri Dokter tersebut dan memberinya sederet pertanyaan.


"Dokter, apa kondisi ayahku sudah membaik? Apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah bisa di bawa pulang? Cepat katakan, Dokter!" tanya Jian dengan tidak sabar, ia sama sekali tidak memberi kesempatan Dokter itu untuk bicara menjawab pertanyaannya.


Doktet itu tersenyum. "Tenang dulu, nona! Aku akan menjawab semua pertanyaanmu," kata Dokter.


"Baiklah, katakan sekarang!"


"Ya, kondisi ayahmu sudah mulai membaik. Hanya saja jika untuk di bawa pulang hari ini sepertinya belum bisa, nona. Kami harus melihat perkembngan selanjutnya. Jadi, masih memerlukan waktu 2 sampai 3 harian lagi. Harap sabar, ya!" papar sang Dokter.


Ada raut wajah bahagia sekaligus kecewa dalam sorot mata Jian. "Baiklah kalau begitu. Tapi, apa kami boleh masuk?"


Jian mengangguk paham. "Ya, Dok. Terima kasih!"


"Sama-sama. Tuan, nona, kalau begitu saya permisi," pamitnya, lantaran harus menangani pasien lainnya.


"Tuan, kalau begitu aku yang masuk lebih dulu dan kau tunggu di sini, tidak apa-apa kan?" tanya Jian pada Ardy yang setia berdiri di sampingnya.


"Ya, tidak apa-apa. Lagipula, kau kan putrinya," jawab Ardy setuju.


"Ya. Aku duluan, ya," pamitnya.


Ardy mengangguk. "Ya, Jian."


Baru 2 langkah Jian pergi dari hadapan Ardy menuju pintu ruang rawat inap ayahnya, seorang wanita tiba-tiba saja datang lalu menarik lengan Jian cukup kasar.


"Kau tidk boleh masuk!" seru wanita tersebut yang ternyata merupakan ibu tirinya.


"Kau mau, ayahmu serangan jantung lagi karena melihat wajah orang yang sudah tega membohonginya, hah?" imbuh wanita tersebut.


"Tapi bagaimanapun Jian ini putrinya, tante," timpal Ardy.


Mella mengalihkan sorot matanya pada Ardy. "Kau tidak usah ikut campur!"


"Sudah, cukup!" lerai Jian. "Ya, ibu benar. Ayah pasti masih kecewa denganku. Aku tidak akan menemui ayah sebelum ayah yang lebih dulu memintaku untuk menemuinya," ucap Jian mengalah.


"Bagus," kata Mella merasa puas, lalu melipir masuk ke ruang inap tersebut.


"Tapi, Jian-"


"Ibu benar, tuan. Aku tidak mau memperburuk kondisi ayahku," ujarnya memotong kalimat Ardy barusan.


Ardy menghela napas panjang, ia tidak habis pikir, mengapa sikap dan perlakuan ibu Jian seprrti itu. Apa memang semua ibu di muka bumi itu memperlakukan anaknya sesuka hati?


"Ya sudah, kalau begitu kau duduk di sini. Aku akan membeli makanan di kantin, kau belum makan sejak pagi. Ya?!"


Jian mengangguk lemah dan menuruti perkataan pria tersebut.


Bersambung...


___


Kebahagiaan seorang Author itu simple!


Yaitu jejak yang di tinggalkan seorang pembaca.


Jadi, tinggalkan jejak dengan cara like, komen, vote, ataupun beri hadiah melalui POIN maupun KOIN.


Karena dukungan kalian sangat berarti untuk saya serta memberi semangat lebih dalam menulis. 😊😊😊