
Di sebuah parkiran kantor polisi.
Ardy, Jian dan Damar berdiri di samping body mobil pria tersebut.
"Ayah yakin ingin bertemu dengan Alana?" tanya Jian untuk yang kesekian kalinya.
"Yakin, nak. Ayah ingin bicara dengannya. Ayah ingin tahu, kenapa dia bisa setega itu pada ibumu," jawab Damar seraya menguatkan diri.
Jian menoleh pada Ardy, pria itu kemudian menganggukan kepala memberi isyarat.
"Baiklah, tapi ayah janji harus tetap bersikap tenang, ya!" pinta Jian sedikit cemas.
"Insha Allah, nak."
Akhirnya mereka bertiga berniat memasuki kantor polisi, tempat dimana Alana di tahan di sana. Namun baru beberapa langkah dari sana, mereka bertemu dengan sepasang suami istri yang baru saja turun dari mobil.
"Damar ..." panggil pria yang baru saja turun dari mobil tersebut.
"Doddy, Aina.." ucap Damar lirih, kemudian mereka saling berjabat tangan, dan berpelukan sekilas layaknya orang yang sudah lama sekali tidak bertemu.
"Lama sekali kita tidak bertemu, semenjak kepergian Amina," ujar Doddy.
Damar hanya menganggukan kepalanya sekali, rupanya pria di hadapannya ini belum tahu mengenai siapa yang di bunuh oleh putrinya itu.
"Oh, ya, sedang apa di sini? Ini putri dan menantumu?" tanya Doddy seraya menunjuk ke arah Jian dan Ardy.
"Ya, ini putriku dan ini calon suaminya, kami ke sini ingin bertemu dengan ..." Damar menghentikan kalimatnya seketika, ia bingung harus menjawab apa.
"Dengan siapa?" tanya Doddy penasaran.
"Alana, putrimu. Karena kebetulan, Jian ini temannya, " jawab Damar sedikit ragu.
Doddy dan Aina sedikit terkejut mendengarnya.
"Kami datang kesini juga untuk menemui putri kami. Alana di tangkap dengan berita yang tidak menyenangkan. Saya harap berita itu tidak benar dan hanya sebuah kesalahpahaman. Ayo, kita ke dalam bersama!"
"Ya."
Kemudian mereka memasuki kantor polisi secara bersamaan dan menunggu di ruang kunjungan. Tidak berapa lama saat meminta pihak kepolisian untuk memanggil putrinya, Alana pun datang dengan tangan yang terborgol.
"Alana, sayaaang.." teriak Aina begitu melihat putrinya datang, ia langsung mendekap putrinya tersebut ke dalam pelukannya.
"Ibu.." lirih Alana seraya terisak di bahu ibunya.
Aina menangkup kedua pipi putrinya sambil menatap lekat kedua manik mata itu.
"Sayang, ini semua tidak benar, kan? Ini hanya salah paham kan? Katakan pada ibu jika ini semua tidak benar, sayang!" tanya Aina di selingi isak tangis.
"Tolong bebaskan aku ibu, ayah, aku tidak bersalah!" pinta Alana seraya menatap kedua orang tua yang berdiri di hadapannya secara bersamaan.
"Ayah pasti akan berusaha membebaskanmu, sebab ayah yakin, kau tidak seperti yang mereka tuduhkan."
"Tapi sayangnya Alana harus menerima hukuman atas perbuatannya."
Ucapan Ardy barusan membuat Alana beserta orang tuanya menoleh ke belakang. Alana sungguh terkejut saat baru menyadari jika orang-orang yang tengah duduk di belakang orang tuanya merupakan orang yang sudah membuatnya terkurung dalam sel tahanan.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" tanya Doddy dengan raut wajah marah.
Ardy pun berdiri dari duduknya.
"Nama saya Ardy Tamajaya, pemilik perusahaan yang sudah di rugikan oleh Alana, putri kalian," jelas Ardy.
Suasana kini cukup menegangkan, Doddy dan Aina shock mendengarnya.
"Ya, nak, Alana tidak mungkin seceroboh itu. Dia anak yang sangat teliti dalam bekerja," timpal Aina dengan air mata yang belum kunjung surut.
Jian berusaha menenangkan ayahnya agar tidak terpancing emosi dulu, biarkan Ardy yang bicara lebih dulu pada mereka.
"Paman benar, saya sudah salah menuduh orang, yaitu Jian. Dan Alana lah pelaku sebenarnya. Alana sudah mengubah data keuangan perusahaan di ruang kerja Jian, sebab ia begitu membenci Jian, putri paman Damar," terang Ardy.
Doddy dan Aina semakin tidak percaya jika putrinya melakukan hal seperti yang di katakan Ardy.
"Itu tidak mungkin! Alana, kau tidak seperti yang orang ini katakan, bukan? Katakan pada ayah, nak!"
Alana menundukkan kepalanya, rasanya ia ingin membela diri, tapi sayangnya mereka memiliki bukti rekaman yang tadi siang pun Daven berikan padanya.
"Ya, sayang. Katakan pada kami jika itu semua tidak benar!" ucap Aina tidak sabar mendengar jawaban putrinya.
"Dan apa paman bibi tahu, jika Alana telah membunuh seorang wanita 4 tahun silam yang bernama Amina, teman baik paman sekaligus istri dari paman Damar dan ibu dari Jian?"
Doddy dan Aina terhenyak. Mendengar putrinya di tuduh sebagai pembunuh saja sudah sukses membuat tubuhnya lemas, apalagi mendengar kenyataan jika orang yang putrinya bunuh itu merupakan teman baiknya.
Doddy menoleh pada putrinya yang masih tertunduk dan menangis. Matanya kini menyala merah dan wajahnya merah padam menahan amarah yang bergejolak.
"Apa itu benar, Alana? JAWAB!" bentakan Doddy sukses membuat tubuh putrinya terlonjak.
Kemudian Doddy menoleh pada Damar yang kini masih duduk di belakangnya.
"Damar, apa itu benar?" tanyanya lirih, Damar mengangguk membenarkan.
Dengan cepat Doddy mengalihkan kembali pandangannya pada Alana dengan sorot mata tajam menakutkan.
Plaakk..
Sebuah tamparan luapan kemarahan itu mendarat mulus di pipi kanan putrinya, membuat tubuh Alana nyaris oleng kehilangan keseimbangan jika Aina tidak segera mendekap tubuh itu.
"INI KETERLALUAN, ALANA!! Ayah tidak menyangka kau tumbuh menjadi seorang iblis." Doddy benar-benar murka pada putrinya.
"Cukup, ayah! Bagaimanapun Alana itu tetap anak kita," tampik Aina.
"Tapi ayah tidak pernah mendidik seorang anak untuk menjadi iblis. Biarkan dia di hukum, dia pantas mempertanggung jawabkan perbuatannya," kata pria itu kemudian pergi dari sana membawa emosi yang tak tertahankan.
Meski sama marahnya dengan Doddy bahkan lebih, Damar masih memiliki rasa kasihan melihat Alana. Ia mengurungkan niatnya bertanya-tanya pada wanita itu dan memilih untuk pulang saja.
"Kita pulang saja, ya, nak. Yang terpenting pelaku pembunuh ibumu sudah tertangkap, dan ayah harap dia mendapat hukuman yang setimpal," ajak Damar pada Jian.
"Ya, ayah, ayo!"
Jian dan Ardy membantu Damar berdiri, kemudian pergi dari sana. Sementara Aina masih di sana bersama putrinya saling menumpahkan tangis.
Sampai akhirnya seorang polisi yang tadi membawa Alana datang.
"Waktu kunjungan sudah habis, nona Alana harus kembali ke dalam sel," ujar polisi tersebut.
Aina melepas putrinya dengan hati yang teramat berat. Sebagai seorang ibu, kasih sayang yang kita milikki pada sang anak tidak pernah sedikitpun berkurang. Meski sang anak melakukan kesalahan fatal sekalipun. Kasih sayang itu tidak akan pernah luntur dan akan terus mengalir dalam setiap aliran darah sang anak.
...Bersambung......
___
...LIKE,KOMEN,HADIAH POIN KOIN, tambah ke rak FAVORIT yaaaa...
...Bantu SHARE cerita ini ke grup fb atau WA yang suka baca Novel, ya 😊...