
"Hei, siapa kau? PERGILAH! Aku tidak ingin ketenangan kami terganggu gara-gara kau!" Usir Ardy kasar dengan menggebrak meja makan cukup keras.
"Sayang, jaga sikapmu!" ucap Jian lirih berusaha meredamkan emosi suaminya.
Mendengar bentakan yang kurang mengenakan, wanita yang tengah mengambil sendoknya itu mendongak dengan wajah ketakutan.
Ardy terperangah melihat wajah wanita yang saat ini berada di hadapannya.
"Kau-" lirih Ardy sambil dengan bibir gemetar.
"Anakku.."
Dengan cepat ibu itu beranjak dari meja makan kemudian menghambur memeluk Ardy.
"Anakku, akhirnya kita bertemu kembali, sayang.." ucap ibu yang kini menangis dalam pelukan Ardy, air matanya menumpah ruah di sana.
Anakku? Dia ibunya.. Batin Jian, lalu membungkam mulutnya tidak percaya, ternyata wanita yang ia tolong itu merupakan ibu mertunya.
Wanita yang mengaku sebagai ibu Ardy itu kini melepaskan pelukannya. Kemudian berpindah menangkup kedua pipi pria tersebut.
"Nak, apa ini sungguhan? Ini bukan mimpi kan, sayang?" ujar ibu itu sambil meraba bagian tubuh Ardy.
Ardy diam mematung, namun sedetik kemudian ia menjauhkan dengan sedikit mendorong tubuh wanita di hadapannya.
"Jangan sentuh aku!"
Ucapan Ardy barusan membuat si ibu terhenyak. Bagaimana mungkin anaknya mampu berbuat kasar padanya.
"Tidak, kau orang jahat. Kau mengkhianati ayahku, kau sudah menyebabkan ayahku meninggal," seru Ardy.
Isak tangis yang semula terdengar keras dari mulut sang ibu, kini seketika terhenti. Ibu itu seakan membisu mendengar sebuah kenyataan yang dia sendiri sama sekali tidak tahu.
"Apa maksudmu ayahmu meninggal, nak?"
Ardy tersenyum getir. "Tidak usah pura-pura bodoh dan berlaga polos. Kau sudah mengkhianati ayah dengan cara berhubungan dengan pria lain sampai membuat serangan jantung ayah kambuh dan meninggal. Bahkan saat ayah meninggal, kau tidak datang," terang Ardy kembali meluruhkan bulir bening dari benteng pertahanan pelupuk mata wanita itu.
"Nak, Ardy sayang. Dengarkan ibu, nak! Bahkan ibu sama sekali tidak tahu masalah ini, nak. Ibu baru tahu sekarang, sayang. Ketahuilah, Ardy. Bahwa beberapa tahun lalu ibu di lecehkan oleh banyak pria yang ibu sendiri tidak kenal. Selama ini ibu di sekap di sebuah gudang yang jauh dari pemukiman warga!" papar sang ibu.
Sebersit rasa sakit menyayat hati pria yang berdiri di antara kedua wanita yang berada di sana.
"Selama ini ibu di jadikan bahan pemuas mereka yang tak terhitung. Tangan ibu di ikat, mulut ibu di sumpal, tapi mata ibu di biarkan melihat hal menjijikan itu. Tubuh ibu di biarkan terbuka setiap harinya. Setiap detik ibu berdo'a agar ibu bisa terlepas dari semua ini, ibu bahkan sampai putus asa. Dan hari ini, Tuhan mengabulkan apa yang selama ini menjadi do'a ibu. Tapi kenapa kau malah seperti ini pada ibu, sayang?" ucap ibu iti dengan menangis sesenggukan, tangisnya bahkan pecah.
Jian lemas mendengar apa yang baru saja ibu mertuanya sampaikan pada Ardy. Tentang apa yang selama ini ibu itu lewati.
Lutut Ardy rasanya tak sanggu lagi menopang beban tubuhnya, sampai ia jatuh terkulai lemas di lantai. Wajahnya menunduk, air matanya mulai bercucuran. Ternyata, apa yang selama ini ia perbuat pada banyak wanita sama seperti apa yang di terima ibunya. Perih sekali rasanya, rasa sakitnya tidak mampu di gambarkan dengan kata-kata. Air mata lah yang mampu menceritakan bagaimana perasaannya sekarang.
Seketika Ardy bangkit dan langsung memeluk tubuh ibunya cukup erat, menumpahkan tangis dan rasa sesalnya di bahu sang ibu.
"Maafkan aku, bu.. aku sudah termakan oleh berita yang belum tentu kebenarannya. Maafkan aku yang tidak berusaha mencari ibu. Maafkan aku karena selama ini aku bersumpah membenci ibu yang aku kira menjadi penyebab kematian ayah. Maafkan aku, bu.. Maafkan aku.." Ardy menangis tersedu-sedu.
Jian sangat terharu melihat apa yang kini ada di depan matanya. Sebagai seorang wanita, Jian tahu seberapa kacaunya hati ibu Ardy. Namun rasa sakit itu kini seketika sirna saat sudah kembali di pertemukan dengan sang anak, meski kenyataan pahit ikut serta tentang berita kematian sang suami.
Bersambung...