One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Berkat Teh Manis


Keesokan harinya. Ardy dan Jian membawa Damar pergi ke Dokter spesialis jantung terbaik yang ada di Jakarta. Mella pun ikut bersama mereka, wanita itu masih saja curiga sebenarnya apa tujuan mereka.


Sampai di tempat tersebut, Damar segera memasuki ruangan dimana jantungnya akan di observasi. Sebelumnya Ardy sudah membuat janji dengan Dokter yang di ketahui bernama Jasson.


"Dokter, lakukan yang terbaik untuk paman Damar," pinta Ardy pada Dokter yang hendak memasuki ruangan.


Dokter tersebut pun mengangguk antusias. "Baik, kami pasti akan melakukan yang terbaik."


"Terima kasih, Dokter!" ucap Ardy dan Jian secara bersamaan.


"Sama-sama."


"Dokter, apa saya bisa masuk untuk menemani suami saya?" tanya Mella yang juga ada di sana.


"Maaf, tidak bisa. Sebaiknya ibu dan anda semua menunggu di sini. Pihak kami akan segera mengobservasi jantung tuan Damar."


Dokter Jasson pun masuk bersama beberapa orang yang akan membantunya. Sementara Ardy, Jian serta Mella menunggu di luar ruangan.


"Semoga ayah bisa sepenuhnya pulih," harap Jian.


"Aku yakin ayahmu pasti akan segera pulih, Jian. Kita percayakan pada Dokter Jasson dan Tuhan pasti akan memberi yang terbaik," tutur Ardy.


Mella tersenyum remeh mendengar percakapan di antara keduanya.


"Saya curiga, pasti ada sesuatu yang kalian tutupi di balik ini," cetus Mella.


Jian dan Ardy menoleh pada wanita tersebut.


"Seharusnya anda senang, tante. Suamimu akan pulih total setelah ini," sahut Ardy.


"Saya akan mengucapkan banyak terima kasih jika benar demikian," ucap wanita itu, lalu pergi dari hadapan mereka. Sebab ia muak melihat kemesraan antara Ardy dan anak tirinya itu.


Ardy tidak habis pikir dengan cara berbicara serta sikap wanita tersebut. Kemudian ia merengkuh bahu Jian dan mendudukannya di sederet bangku dengan sangat hati-hati.


"Jadi tante Mella itu ibu sambungmu?" tanya pria itu.


Jian mengangguk. "Ya, ibu Mella itu ibu sambungku. Sedangkan ibu kandungku bernama Amina," jawab Jian.


Pria itu menganggukan kepalanya beberapa kali. Awalnya ia pikir Mella merupakan ibu kandung Jian, tapi ternyata bukan. Pantas saja sikap dan perlakukan wanita itu seperti itu pada Jian.


"Mm .. Kau sudah meminum obat dan vitamin yang aku beri kemarin kan?" tanya Ardy mengubah topik pembicaraan.


Jian mengangguk sembari mengatupkan bibirnya. "Ya, aku sudah minum. Sebenarnya itu vitamin untuk apa?" Jian balik bertanya.


"Vitamin agaaaar .." Ardy tampak berpikir. "Agar tubuhmu sehat, kemarin kan kau sempat pingsan."


"Ooh." Jian mengangguk-anggukan kepala, ia tidak banyak bertanya lagi soal beberapa macam obat lainnya.


Beberapa saat saling diam dan menunggu apa yang akan Dokter sampaikan nanti mengenai tindakan apa yang para medis ambil supaya Damar bisa secepatnya pulih. Tiba-tiba saja Jian merasa pusing dan mual ingin muntah.


"Huoo .. huoo .." Jian membungkam mulutnya sambil menunduk.


Ardy panik seketika melihat wanita di sampingnya mual-mual seperti itu.


"Jian, kau kenapa? Kau tidak apa-apa?"


Jian menggeleng sembari memejamkan kedua mata. "Aku baik-baik saja, tuan. Mm, Huooo .."


Ardy cemas, namun ia teringat dengan apa yang Dokter wanita itu katakan kemarin. Jika Jian tengah hamil muda. Mungkin mual-mual seperti ini hal yang wajar.


"Kau mau aku bawa ke Dokter juga?"


"Tidak, tidak usah! Aku hanya pusing dan mual biasa. Aku hanya butuh ke toilet sekarang," ujarnya sembari menahan mual.


"Ya sudah, kalau begitu aku antar, ya!"


Jian mengangguk. Ardy membantu Jian untuk bangkit dari duduknya, merengkuh kedua bahu wanita tersebut dan berjalan menuju toilet dengan sangat hati-hati.


Ardy menunggu di depan toilet, sebab itu toilet khusus wanita dan ia tidak boleh masuk. Di dalam, Jian memuntahkan cairan bening dari mulutnya ke wastafel yang ada di sana. Lalu menyalakan keran untuk mengalirkan cairan tersebut dengan air bersih.


Setelah merasa puas dan lega, Jian segera keluar dari sana. Ardy yang melihatnya segera menghampiri.


"Kau yakin baik-baik saja?" tanyanya lagi, sebab Ardy cemas.


Jian menganggukan kepalanya lemah. "Aku baik-baik saja. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa pusing dan mual," ujarnya.


Ardy sedikit tidak tega melihat wajah Jian yang kini memucat. Mungkin wanita itu kurang darah, sebab kebanyakan wanita hamil cenderung memiliki darah rendah.


"Ya sudah, jika kau merasa tidak baik-baik saja, bicara padaku! Aku akan membawamu ke Dokter, oke?!"


"Ya, tuan. Terima kasih, seharusnya kau tidak perlu mencemaskanu berlebihan seperti ini," ucapnya segan.


Bagaimana aku tidak mencemaskanmu, Jian. Sementara calon anakku sedang tumbuh di rahimmu. Ujar Ardy dalam hati.


"Tidak apa-apa, tidak usah sungkan!"


"Sekali lagi, terima kasih banyak. Kau banyak membantuku dan keluargaku."


"Itu sudah menjadi tugasku untuk menebus semua kesalahanku. Kalau begitu, kita kembali ke sana. Nanti kau tunggu sebentar, aku akan carikan minuman untukmu."


"Tidak perlu, aku tidak haus!" tolak Jian.


"Tidak usah membantah!" ujar pria itu.


Ternyata sifat Ardy masih sama saja, keras kepala. Tapi yang membuatnya berbeda, adalah sikapnya.


🌷🌷🌷


Beberapa menit pergi, Ardy pun kembali dengan membawa teh manis hangat di tangannya.


"Minumlah, ini bagus untuk menaikkan darah!" pria itu menyodorkan teh manis yang ada di sebuah cup berukuran sedang.


Jian sedikit mengernyit. "Menaikkan darah untuk apa?" tanyanya polos.


Pria itu hampir saja keceplosan. "Mm .. Wajahmu pucat, aku rasa tekanan darahmu rendah. Maka dari itu aku belikan teh manis, sebab itu mampu menaikkan tekanan darah dalam waktu cepat," jelasnya.


Jian sedikit terkagum oleh pria itu. Ia tidak menyangka jika pria seperti Ardy bisa memiliki pengetahuan mengenai hal tersebut.


"Benarkah?"


"Hm, cepatlah minum, nanti keburu dingin!"


"Baiklah, terima kasih!"


Jian menerima cup tersebut dari tangan Ardy, lalu meminumnya.


"Habiskan!"


"Hah?"


"Habiskan, sayang!" ucap pria itu lirih dan lembut, sehingga Jian tiba-tiba tersedak.


"Uhuk uhuk .. uhuk .."


Ardy segera mengambil cup tersebut dari tangan Jian. "Makanya pelan-pelan! Minum lagi."


Ardy membantu Jian meminum teh manis tersebut agar batuknya reda. Sambil minum teh manis tersebut, Jian melirik wajah Ardy yang kini berada dekat dengan wajahnya. Pria itu tersenyum manis padanya. Sepasang mata coklat dan coklat karamel mereka bertemu. Dan itu membuat detak jantung Jian berpacu tidak beraturan.


Jian menghabiskan teh manis tersebut setengahnya, lalu Ardy menaruh cup tersebut di bangku di sampingnya.


"Kenapa sampai tersedak? Gugup?"


Pertanyaan Ardy semakin membuat Jian tidak karuan. Sebelumnya Ardy memang pernah menyebutnya dengan kata itu, tapi ia pikir hanya untuk membuat Daven tidak memiliki kesempatan untuk bicara dengannya saat di restoran. Tapi ternyata kata itu kembali pria itu ucapkan saat mereka tengah berdua seperti ini.


"Ja-jangan memanggilku dengan sebutan it-itu lagi, tu-tuan!" ujarnya gugup.


Ardy tersenyum geli melihat Jian salah tingkah seperti ini.


"Tidak apa-apa, lagipula kau pasti akan mendengarnya setiap hari suatu hari nanti. Bahkan kau pun akan memanggilku dengan sebutan yang sama," kata pria itu.


Ardy kembali melemparkan senyuman yang membuat Jian hampir kehilangan kendali tubuhnya.


Bersambung...


___


...Jangan lupa untuk tetap dukung Novel ini!...


...Kumpulin POIN dan VOTE...


...sebagai dukungan kalian!...


...Dengan cara klik HADIAH dan...


...klik gambar kopi ☕☕☕atau gambar ❤️...


...Tambahkan ke rak favorit, ya. Supaya kalian dapat notifikasi ketika bab selanjutnya publish😊...


...Follow ig @wind.rahma...