One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Sebuah Ide


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Dokter Jasson keluar dari ruangan. Jian, Ardy, serta Mella yang kini kembali menunggu di depan ruangan tersebut segera berdiri.


"Bagaimana, Dok, apa suami saya bisa pulih total?" seru Mella.


"Ya, Dok, bagaimana hasil observasinya?" tambah Jian.


"Barusan tim kami sudah melakukan observasi pada jantung tuan Damar. Dan untuk hasilnya akan keluar sekitar 2 sampai 3 hari," jawab Dokter Jasson.


"Jadi apa masih harus melakukan tindak medis lagi, Dok?" kini Ardy yang bertanya.


Dokter Jasson mengangguk. "Ya, tentu saja. Kami pasti akan melakukan tindak medis sesuai hasil observasinya."


"Baik, Dok. Lakukan saja yang terbaik untuk beliau!"


"Saya sarankan tuan Damar untuk tetap di sini sampai semuanya selesai," saran Dokter Jasson.


Ardy menoleh pada Jian. "Bagaimana, apa kau tidak keberatan jika ayahmu berada di sini sementara waktu?"


Jian menggeleng. "Tidak, yang penting ayah sembuh."


"Ya, Dok. Kalau begitu, terima kasih banyak!"


"Sama-sama. Saya permisi," pamit Dokter Jasson.


Setelah Dokter Jasson pergi, Mella melangkah lebih dekat pada Ardy dan Jian.


"Jika kalian ingin pergi, pergilah! Biar saya saja yang menunggu di sini selama hasil observasi itu belum keluar," ujar Mella.


"Sungguh?" tanya Ardy.


Mella menganggukan kepalanya. "Ya."


"Ya sudah kalau begitu. Saya dan Jian akan pergi, nanti kami juga akan kembali lagi ke sini. Jika terjadi sesuatu, kabari saya!"


"Ok."


Ardy pun mengajak Jian untuk pergi dari sana. Awalnya ia juga ingin tetap berada di sana untuk menunggu hasil observasi Damar. Namun melihat kondisi Jian yang sepertinya membutuhkan banyak istirahat, mereka pun memilih pulang saja.


Di dalam perjalanan pulang.


"Jian, sementara waktu kau tinggal lagi di Unitku, ya! Di rumahmu tidak ada siapa-siapa, aku takut kau kenapa-kenapa," ajak pria itu.


Jian tampak berpikir. "Tapi, tuan-"


"Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam lagi padamu. Aku hanya ingin menjaga dan melindungimu. Dan aku minta, kau tidak usah bekerja, ya!"


"Mm, maksudmu kau memecatku?"


Ardy menggeleng. "Bukan, Jian. Aku hanya ingin melindungi dari Alana. Aku takut jika dia melakukan hal buruk padamu saat aku sedang tidak bersamamu. Setelah kita mengatakan kebenarannya pada ayahmu, aku juga akan langsung memecat Alana dan membawa wanita itu jalur hukum. Selain dia sudah membunuh ibumu, dia juga sudah merugikan perusahaanku," jelasnya.


Jian pun kini paham. Dalam hati, ia masih tidak menyangka jika Alana, teman yang ia anggap paling baik itu ternyata wanita terkeji. Semua masalah yang muncul dalam kehidupannya ternyata berasal dari wanita keji itu.


Ardy yang masih fokus menyetir menoleh ke arah Jian sesekali. Ia melihat wanita di sampingnya tengah melamun, dan nampak kesedihan dalam raut wajahnya. Hal tersebut membuat rasa bersalah Ardy mulai timbul.


"Maafkan aku, Jian! Saat itu aku emosi, sehingga aku langsung memutuskan sesuatu tanpa mencari bukti kebenarannya lebih dulu," sesal Ardy.


Jian menatap wajah Ardy dari samping dengan tatapan sayu. Memang, jika di ingat kejadian itu membuatnya sangat sakit. Saat ia di terpa dua pilihan yang keduanya sama-sama membuatnya ketakutan. Dan pilihan tidur dengan pria itulah yang membuatnya terasa sakit sekali. Tapi di balik ini semua, ia jadi tahu kebenarannya. Dan ia sangat bersyukur akan hal itu.


"Tidak apa-apa, tuan! Sudah ku bilang jangan bahas itu lagi, aku akan semakin terluka!" pinta Jian dengan nada lirih, sebab kedua matanya mulai berkaca-kaca.


"Ya, Jian."


Ardy menoleh sekilas wanita di sampingnya yang tampak sedang menahan tangis. Itu membuatnya kian cemas mengingat kondisi Jian tengah hamil muda, dan wanita itu tidak boleh stress.


"Oh, ya, kau bawa obat dan vitamin yang kemarin?" tanya Ardy lagi setelah beberapa saat keheningan terjadi.


"Tidak, obat dan vitaminnya ada di rumah."


"Ya sudah, aku akan membeli lagi di Apotek depan. Nanti, kau tunggu di mobil saja, ya!"


"Baik, tuan."


Sesampainya di Apartemen. Mereka berpapasan dengan Daven yang baru saja keluar dari Unit. Pria itu sedikit mengernyit saat menutup pintu Unitnya ketika melihat Jian berada di sana bersama Ardy.


"Hei, Dav," sapa Ardy pada temannya itu.


Daven tersenyum hambar. "Hei."


"Oh, ya, Dav, mampir ke Unitku, ya! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu mengenai rekaman itu."


Daven mengangguk ragu. "Ya, boleh."


"Ya sudah, ayo!"


Ardy dan Jian jalan lebih dulu, sementara Daven mengekor di belakang. Kedua matanya terpaku pada kedua tangan orang di depannya yang saling bertaut.


Di dalam Unit Ardy, mereka bertiga duduk di sofa ruang tengah di sana. Ketiga wajah mereka kini tampak serius sekali.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Daven memulai percakapan.


"Ya, langsung saja. Kau merekam pembicaraan teman Jian dimana?"


"Restoran Jepang dekat kantormu."


Ardy kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. Sementara Jian memilih untuk diam lebih dulu.


"Kau tahu, siapa wanita yang bersama teman Jian?"


Daven menggeleng. "Jika saja Jian tidak mengatakan nama Alana itu temannya, mungkin aku juga tidak akan tahu."


Ardy diam sejenak. Pria itu tampak sedang berpikir, namun suara Jian seketika memperlancar idenya.


"Alana orang yang naksir berat Daven. Maka dari itu Daven tahu Alana itu temanku," cetus Jian.


Seketika Ardy tersenyum. Sementara Daven memejamkan kedua mata, kenapa Jian harus menceritakan hal tersebut pada Ardy. Apa wanita itu benar-benar sepolos ini.


"Ow ow ow, ternyata kau laku juga, Dav," ejek pria itu sambil tertawa, sementara Daven membuang wajah kesal.


"Jadi aku kesini untuk kau ejek? Baiklah, aku akan pergi. Ada yang lebih penting dari pada ini," ujar pria itu sambil beranjak.


Ardy segera mencegah kepergian temannya. "Hei, santai lah tuan Daven. Sejak kapan kau memiliki sifat ambekan? Duduklah!"


Mau tidak mau Daven akhirnya duduk lagi. Jian yang melihat mereka seperti itu tanpa sadar mengembangkan senyum. Akan sangat hangat kelihatannya jika mereka seakur ini.


"Ya sudah cepat, apa yang ingin kau bicarakan lagi denganku?"


"Aku butuh bantuanmu. Bisa?"


"Bantuan apa?"


Keadaan kembali serius. Kemudian Ardy mengatakan apa yang harus temannya bantu. Awalnya Daven menolak, tapi demi Jian, akhirnya ia pun mau membantu apa yang menjadi ide Ardy. Meski terdengar gila.


...Bersambung......


__


...Jangan lupa untuk tetap dukung Novel ini!...


...Kumpulin POIN dan VOTE...


...sebagai dukungan kalian!...


...Dengan cara klik HADIAH dan...


...klik gambar kopi ☕☕☕atau gambar ❤️...


...Tambahkan ke rak favorit, ya. Supaya kalian dapat notifikasi ketika bab selanjutnya publish😊...


...Follow ig @wind.rahma...