One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Rekaman CCTV


Usai mendapat telepon dari temannya, Ardy langsung berpamitan pada sang ibu tanpa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak mau membuat ibunya ikut cemas. Pria itupun meluncur ke Apartemen menggunakan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sampai di Apartemen, ia mendapati Daven dan istrinya, juga seorang security di sana. Ia bergegas turun dari mobil dan menghampiri orang-orang tersebut.


"Bagaimana Jian bisa di culik, Dav? Katakan, siapa yang sudah berani menculik istriku!" tanya pria itu dengan napas tersengal akibat panik.


"Aku tidak tahu persis bagaimana ceritanya. Tapi yang pasti, Jian sepertinya di bawa oleh dua orang pria yang datang ke sini dengan cara membiusnya," jelas Daven.


"Kenapa kau bisa menyimpulkan seperti itu?"


"Begini, Dy. Satu jam sebelum aku datang ke sini, kami saling bertukar chat. Sebab hari ini aku berniat akan pergi ke luar kota. Jadi aku akan menempatkan istriku di Unit sebelahmu. Aku meminta Jian untuk menemaninya selama istriku berada di sini. Dan begitu kami sampai di lantai tujuh, aku menemukan sandal Jian tergeletak sembarangan di lantai. Lalu aku memutuskan mengecek keberadaannya di Unit. Tapi pintu Unitnya terbuka dan terdapat sapu tangan tergeletak di sana. Lalu aku menanyakan pada pak security, apakah ada yang datang sebelum aku. Dia mengatakan iya, dua orang laki-laki dengan mobil Jeep, dan pergi saat pak security sedang ke kamar mandi," jelas Daven lagi panjang lebar.


"Apa benar begitu, pak?" tanya Ardy pada security yang berdiri di hadapannya.


"Benar, tuan. Tadi memang ada dua orang pria datang memakai mobil Jeep. Mereka mengatakan akan menjemput seseorang di Apatemen ini. Saya tidak tahu mereka membawa ataupun menculik nona Jian, sebab saya sedang pergi ke toilet sebentar," tambah security.


"Apa anda mengingat plat nomer mobilnya?" Ardy menatap tajam security dengan secercah harapan.


"Wah, maaf sekali. Bahkan saya sama sekali tidak melihatnya," kalimat security berhasil mematahkan harapan Ardy.


"Bagaimana kalau cctv. Kita bisa memastikan apa Jian benar-benar di bawa oleh mereka atau bukan, dan jika benar, kita bisa sekalian lihat plat nomer mobil mereka," usul Diana.


Daven memetik Jari di depan wajah istrinya. "Cerdas," pujinya.


Mereka berempat bergegas menuju ruang monitor cctv. Sebelumnya security yang meminta izin untuk masuk ke sana. Beruntungnya mereka di izinkan sebab ada sesuatu yang mendesak.


Ardy mulai menajamkan matanya, saat layar monitor memperlihatkan sebuah mobil Jeep datang ke Apartemen. Dan begitu melihat istrinya di bius dan di bopong oleh para preman itu, Ardy pun naik pitam.


"Bangsaaattt..." teriaknya meluapkan kekesalan dengan menendang ke sembarang arah.


Petugas penjaga monitor pun mulai mengarahkan kembali ke bagian parkiran, dan memperbesar layar guna melihat plat nomer yang terdapat di dalam mobil tersebut. Pria itu mengeluarkan ponselnya untuk mengambil gambar plat nomer tersebut. Sementara Daven meminta rekaman cctv-nya.


Sampai kantor polisi, hanya sebuah kekecewaan yang mereka dapatkan. Sebab plat nomer tersebut palsu dan tidak tercantum. Hingga Ardy bertemu dengan pria bertubuh besar di sana, yang merupakan anak buah Sagara. Pria itu baru saja selesai di obati karena sakit.


"Kau-" pria bertubuh besar itu masih mengenali wajah Ardy dengan jelas, tampak emosi meluap-luap di wajah merah padamnya.


Beberapa menit kemudian, Ardy berhasip meredam amarah preman tersebut. Ia mengajak si preman untuk berbicara dengannya, entah apa yang ada dalam pikiran Ardy sekarang. Tapi jelas, pria itu butuh bicara dengan anak buah papanya Daven.


Daven menunjukkan salinan rekaman cctv di Apartemen itu pada anak buah papanya, pria berbadan besar itu lantas tersenyum miring.


"Kalian pikir gua bakal tertipu lagi, hah?" seru preman itu.


"Saya janji, jika kau mau memberi tahu siapa mereka, saya akan langsung mencabut laporanmu," ujar Ardy dengan sungguh-sungguh, namun preman itu tidak percaya begitu saja.


"Apa jaminannya?" tanya preman itu memastikan.


"Aku akan menanggung kehidupan anak istrimu selama beberapa tahun ke depan."


Tawaran Ardy sejenak membuat preman itu berpikir. Jika ia tidak menerima tawaran pria di hadapannya, maka bagaimana dengan nasib anak istrinya? Meski dia bukan manusia baik-baik, tanggung jawab sebagai suami ia penuhi.


"Baiklah, tapi deal," preman itu mengulurkan tangannya dan segera di raih oleh Ardy.


"Deal."


"Gua tahu siapa mereka," ucap preman itu kemudian.


"Siapa? Cepat katakan!" pinta Ardy dengan tidak sabar, begitupun dengan Daven dan Diana.


Bersambung...