One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Misi


Keesokan harinya, Jian memaksa ingin bekerja. Meski berulang kali Ardy melarang, wanita itu tetap saja keras kepala. Menurutnya, berdiam seorang diri di Unit Apartemen membuatnya bosan. Lantaran Ardy yang berniat menemani harus meeting dengan perusahaan yang kebetulan milik Daven.


Daven pun kini sampai di perusahaan Ardy bersama sekretarisnya. Mereka ingin membahas kerja sama yang mereka sepakati beberapa waktu lalu. Sepuluh menit sebelum memasuki ruang meeting, Daven pergi ke toilet duli sebentar.


Usai membuang hajat, pria itu berniat kembali ke ruang meeting. Namun dengan tidak sengaja ia melihat sosok wanita menangis di dekat pintu toilet wanita.


Daven memicingkan matanya, memperjelas siapa wanita itu. Kemudian ia berjalan mendekat ke arah wanita tersebut.


"Kenapa menangis?" pertanyaan Daven membuat wanita itu seketika mendongak.


"Tuan Daven?" wanita tersebut buru-buru menghapus cairan bening yang mengalir di kedua pipinya.


"Kau mengenalku?"


"Ya, tuan," jawabnya.


"Lalu kenapa kau menangis, apa kau ada masalah?" Daven mengulang pertanyaannya.


Alih-alih menjawab pertanyaan Daven, wanita itu justru malah mengulurkan tangan.


"Sebelumnya, perkenalkan dulu, namaku Alana, tuan."


Daven sungguh terkejut mendengar nama yang di ucapakan oleh wanita di hadapannya barusan.


Jadi ini yang namanya Alana, pengkhianat yang mengatasnamakan teman baik pada Jian? ujarnya dalam hati.


Sorot matanya memancarkan kemarahan, namun ia pandai mengontrol diri, sehingga ia menutupinya dengan ketenangan.


Daven mengangguk kaku, kemudian mau tidak mau menjabat tangan wanita itu. Hanya beberapa detik, ia langsung melepaskannya kembali.


"Jadi, aku memiliki masalah dengan temanku yang bernama Jian, tuan. Kau mengenal Jian juga, bukan?"


"Ya, ada apa masalah apa kau dengan Jian? Menurutku dia orangnya baik, apa yang membuat dia sampai bermalasah denganmu?"


Terlihat dari aura wajah Alana, jika ia tidak suka melihat pria di hadapannya memuji Jian.


"Kau sungguh keliru, tuan. Akupun begitu. Awalnya aku pikir Jian orang yang baik tapi ternyata-" Alana menggantung kalimatnya dengan kembali menangis dan mendramatisir.


"Kenapa?"


"Ternyata Jian menusukku dari belakang," imbuhnya sembari terisak.


Bukannya iba, dalam hati Daven justru ingin merobek mulut Alana sebab pandai sekali membalikkan fakta.


"Benarkah?"


Alana mengangguk. "Ya, tuan, dia wanita bermuka dua. Di depan seolah baik, tapi ternyata di belakang dia sangat busuk. Aku harap kau tidak lagi dekat-dekat dengannya."


Daven memutar bola mata, benar-benar wanita picik Alana. Kemudian ia melirik jam tangan abu-abu yang melingkar di pergelangan tangannya. Dua menit meeting akan segera di mulai.


"Mm, Alana. Aku harus pergi."


"Tunggu, tuan!" Alana mencegah pria yang nyaris beranjak dari sana.


"Ya, kenapa?"


"Mm .. tuan, apa kau nanti tidak sibuk? Aku ingin mengajakmu makan siang nanti, apa kau bisa?"


Daven diam sejenak, kemudian mengangguk. Alana tersenyum girang.


"Sungguh? Kau mau makan siang denganku?"


"Ya, Alana. Nanti aku tunggu di depan gedung ini, ya!"


"Iya, iya, ok."


"Ya sudah, aku harus pergi."


"Ya, tuan. Bye!"


"Yes, yes, yes. Akhirnya aku bisa memiliki kesempatan untuk makan siang dengan tuan Daven. Tidak sia-sia aku akting menangis untuk menarik simpatinya. Ternyata semudah itu. Setelah ini aku akan membuatnya kasihan padaku dan membuatnya membenci Jian. Kemudian dia akan menjadi milikku. Oh my Daven, i love you, sayaaaang ...."


Alana kembali berjingkrak-jingkrak sampai tidak memperdulikan karyawan wanita lain yang hendak memasuki toilet. Tidak apa orang berpikir jika dirinya sudah gila, memang dia gila dan tergila-gila pada Daven.


🌷🌷🌷


Tepat jam makan siang, Alana segera keluar dari gedung guna menemui pria yang katanya menunggu di sana. Dan benar saja, mobil pria itu masih terparkir di sana.


Alana mempercepat langkah, dan tidak sabar untuk segera makan siang dengan pria tersebut.


"Hai, tuan," sapanya membuat Daven yang semula menundukkan kepala di stir mobil kini mendongak.


Daven tersenyum sekilas, itupun senyum hambar. Tanpa di suruh, Alana masuk ke dalam mobilnya dan duduk di jok depan.


"Ayo, tuan. Kita makan siang bersama!" ajak Alana tanpa malu.


Daven sampai tidak habis pikir, kok ada wanita seperti Alana di dunia ini.


"Makan siang dimana?" tanya Daven kemudian.


"Mmm .." Alana tampak berpikir. "Di tempat yang biasa aku makan saja, bagaimana? Tempatnya tidak jauh dari sini."


Daven mengangguk. "Ya."


Kemudian Daven menghidupkan mesin mobil dan pergi dari sana, sebenarnya berjalan kaki juga bisa, lantaran jaraknya yang sangat dekat.


Alana tak henti-hentinya menatap wajah Daven, pria itu sampai risih di buatnya. Sedari tadi ia memalingkan wajah dan berusaha fokus memandang lurus ke depan. Berbeda halnya jika sedang bersama Jian, ia pasti akan merasa senang. Sayangnya, ia tidak bisa memiliki wanita tersebut, menjadi teman baiknya saja sudah lebih dari cukup.


Alana sengaja mengajak Daven ke tempat tersebut, lantaran ia ingin Jian melihat bahwa mereka bisa dekat tanpa harus embel-embel bantuan Jian yang modal dusta. Sebab Alana yakin, Jian bukan membantunya tapi justru menikungnya. Teman macam apa itu? pikirnya.


Dan benar saja, begitu mereka sampai dan memasuki restoran, ada Jian di sana. Wanita itu tengah makan sendiri. Alana kemudian mengajak Daven untuk duduk di dekat meja Jian. Daven pun menurut.


"Tuan, kau mau pesan apa? Biar aku pesankan," tawar Alana, mencoba memanas-manasi Jian.


"Biar aku saja," jawab Daven datar.


Alana sedikit kesal, usahanya memanas-manasi Jian ternyata gagal. Hingga beberapa menit setelah memesan makanan, makanan itupun datang.


"Tuan, kau mau coba makananku? Ini enak sekali," ia menyendok makanannya lalu menyodorkan pada mulut Daven. Pria itu melirik Jian menggunakan ujung ekor matanya, kemudian membuka mulut.


Ini merupakan kebahagiaan yang luar biasa untuk Alana, bisa menyuapi seorang tuan Daven, pria yang ia puja-puja selama ini akhirnya terwujud, bukan hanya sekedar impian.


Alana tersenyum menyeringai sambil melirik Jian, rupanya usaha memanas-manasi wanita itu kini berhasil. Namun sayangnya, Jian justru bersikap tidak perduli dan memilih pergi dari sana usai menghabiskan makanannya. Alana merasa semakin menang.


Daven menghembuskan napas lelah, sampai akhirnya ponsel dari balik saku jas hitamnya mengelurkan suara notifikasi. Dan ia segera merogoh benda pipih tersebut.


"Good job and good luck, Dav!"


...Bersambung......


___


...Jangan lupa untuk tetap dukung Novel ini!...


...Kumpulin POIN dan VOTE...


...sebagai dukungan kalian!...


...Dengan cara klik HADIAH dan...


...klik gambar kopi ☕☕☕atau gambar ❤️...


...Tambahkan ke rak favorit, ya. Supaya kalian dapat notifikasi ketika bab selanjutnya publish😊...


...Follow ig @wind.rahma...