
Terlihat Liena berkeringat membasahi tubuhnya karena mimpi yang ia alami, namun tidak ada yang mengetahui karena kesibukan masing masing dan Yuri sudah beristirahat.
Di dalam Mimpi Liena Sue...
Sosok Pria yang samar selalu muncul di kepalanya, namun ketika mengingat wajahnya tidak bisa karena setiap mengingat atau memimpikannya tidak terlalu jelas .
"Li Na , Jangan kau berdiri di tepi tebing seperti itu...". Teriak seorang pria .
" Aku hanya melihat kupu kupu, janganlah terlalu khawatir". Jawab Li Na.
Memang benar jika Li Na kini tengah bermain dengan Kupu kupu berwarna Ungu mirip dengan Binatang Roh kupu kupu surgawi.
Setelah mendapatkan satu Li Na tanpa sengaja melukai tangannya dan menetes di Kupu Kupu berwarna ungu itu.
"Aww kenapa jariku berdarah". Gumam Li Na.
Setelah membuat kontrak tanpa di sengaja itu, kekuatan di tubuh Li Na meningkat drastis hanya saja ia tidak menyadarinya sama sekali.
Li Na membawa kupu kupu itu pulang ke rumah bersama pria itu.
Di Lihat dari mimpi Liena Sue sosok Li Na terlihat sama persis dengannya, hanya saja tempat Li Na sangat indah bahkan ia tidak pernah menemukan di Dunianya saat ini .
Sesampainya di Rumah, atau tepatnya sebuah kediaman Mewah seperti Istana itu Li Na menyembunyikan Kupu Kupunya dan langsung memasukinya .
"Li Na, jangan cepat cepat Jalanmu... ". Teriak pria yang menemaninya di tebing tadi.
"kau saja yang lambat , Cepatlah Kai...". Sahut Li Na.
"Awas saja kau Li Na.. Akan ku adukan dengan Ayahmu". Ucap Kai atau sosok pria yang menemaninya sedari tadi.
"Ancaman ancaman terus,, Kau menyebalkan Kai". Sahut Li Na yang akhirnya berhenti memilih menunggu Kai.
Kai Yang merasa gemas dengan Li Na pun mencubit hidung mancungnya karena gemas sehingga membuat Li Na semakin memanyunkan bibirnya.
"Cepatlah, Sudah lama malah menggoda dan membuatku marah". Ucap Li Na merajuk.
"Baiklah baiklah, Aku haus nanti sampainya di Paviliun mu kau harus menjamu ku tau". Goda Kai.
"Huh merepotkan".
Kai pun tertawa pelan melihat Li Na yang tengah jengkel dengannya, walaupun seperti itu dia tetap saja menyayangi Kai.
Li Na di mimpi Liena adalah seorang anak perdana Mentri dengan keturunan garis Dewa, Walaupun Sang Ayah hanyalah Makhluk Fana namun Sang Ibu adalah seorang Dewi Agung.
Namun sejak Kecil, Li Na tidak pernah bertemu dengan Sosok Ibunya. Dan Ayahnya pun juga tidak menikah lagi setelah di tinggal Sang Istri.
Sedangkan Kai yang bernama lengkap Kai Yuwen adalah Pangeran dari Dunia Dewa, Dia adalah Dewa Perang di Dunia Dewa.
Namun semenjak mengenal Li Na, Kai Yuwen lebih sering turun ke Dunia Fana untuk sekedar bermain dengan Li Na.
..
Hari di mana Dewa Yuwen ayah Kai Yuwen mengetahui anaknya sering datang ke dunia manusia menemui Li Na sehingga ia murka dan menghukum Kai Yuwen di Istanannya tanpa boleh keluar selangkahpun.
"Ayah kenapa kau selalu saja melarangku bertemu Li Na? Bukankah dia keponakanmu sendiri? Bibi Yuna Yuwen selalu baik denganmu ". Protes Kai Yuwen.
"Omong kosong!! Bibimu sudah melanggar Hukum langit, dia melanggar aturan Dewa untuk memilih menikah dengan Manusia itu. Itu berarti dia begitu berdosa apalagi anaknya!!". Sahut Kaisar Yuwen.
"Ayah, memang bibi melakukan kesalahan, tetapi Li Na tidak tahu soal itu. Dan ketika Li Na lahir bukankah Bibi Yuna berjanji meninggalkannya dan kembali Ke dunia Dewa?". Sahut Kai Yuwen tak mau kalah.
Kai Yuwen tampak berfikir sejenak kemudian ia memutuskan untuk menemui bibinya atau ibu Li Na di Istananya.
"Ayah izinkan aku menemui Bibi jika kau tidak mengizinkanku menemui Keponakan". Ucap Kai Yuwen.
Dewa Yuwen pun berfikir sejenak, Yuna Yuwen semenjak meninggalkan Dunia Manusia tidak bisa menemui Putrinya. Jika Kai Yuwen bisa membujuknya paling tidak Yuna Yuwen mau keluar dari kediamannya, siapa tahu dia mau menikah dengan Dewa yang ia jodohkan.
"Baiklah, bujuk bibimu untuk keluar melihat suasana Dunia Dewa".
"Ayah, Bagaimana jika aku mengantarkan Bibi bertemu Putrinya? Kurasa dia akan lebih senang?".
"Tidak Kai, jika kau mempertemukan mereka, Bibimu akan memilih tinggal di dunia Fana".
"Huh , Ayah kau terlalu menyebalkan".
Kai Yuwen pun pergi menuju Istana Yuna Yuwen untuk sekedar menceritakan keberadaan Li Na.
Semenjak itu, Yuna Yuwen kini lebih banyak tersenyum dan sesekali keluar istana untuk berjalan jalan.
Dewa Yuwen melihatnya ikut senang, bahkan sesekali memamerkan beberapa Dewa Tampan untuk di jodohkan kepada adik perempuannya itu. Namun ia tetap menolak dan tidak mau menikah dengan Dewa manapun.
Suatu ketika Seorang Dewi bernama Xiang Mei mendengar kedekatan Kai Yuwen dengan Li Na dari dunia Fana. Ia sangat marah dan menghancurkan barang barang di dalam kamarnya.
Dia ingin ke dunia Fana untuk mencari Sosok Li Na itu di temani dayang dayangnya.
Kai Yuwen yang merasakan perasaan yang tidak enak yang kini berada di Istana Yuna Yuwen mengajak Sang Bibi untuk pergi menemui Li Na. Entah apa yang akan terjadi, tetapi firasat Kai tidak mungkin salah..Tanpa persetujuan Sang Ayah, Kai Yuwen membawa bibinya menuju Dunia Manusia.
Tak lama Kemudian Dewa Perang bernama Bai Rong mengikuti mereka berdua.
"Kai, apakah kau ingin menemui Gadis itu?". Tanya Bai Rong.
"Benar, Apakah kau mau membantu kami?". Tanya balik Kai Yuwen.
"Memangnya ada apa?". Tanya Bai Rong.
"Sepertinya Li Na dalam bahaya, Tolong bantu kami Bai Rong".
"Baiklah, Kau bisa mengandalkan ku".
Bai Rong sering sekali diam diam memperhatikan Kai Yuwen menemui Li Na, Bahkan ia sering juga menemui Li Na di Dunia Fana. Kai Yuwen yang mengetahuinya tidak marah malahan dia senang melihat Bai Rong mendekati sang keponakan.
Sesampainya di tempat Li Na, Mereka menemui Dewi Xiang tengah mencengkeram leher Li Na dengan kejamnya.
"Kau harus mati gadis bodoh.. Kau hanya menjadi penghalang ku untuk bersama Pangeran Kai Yuwen!! Matiii!!". Teriak Dewi Xiang.
Kai Yuwen dengan cepat menyerang Dewi Xiang hingga terpental menabrak pohon . Terlihat ayah Li Na tengah terkapar bersimbah darah tak sadarkan diri menyita perhatian Yuna Yuwen.
Dia menghampiri sosok lelaki yang selama ini ia rindukan, Sosok fana yang sudah paruh baya berbeda dengan dirinya yang masih sama seperti enam belas tahun yang lalu.
"Aku kembali, kumohon buka matamu". Terdengar tangisan Yuna Yuwen memegangi wajah Suami fananya yang bersimbah darah.
Sang Suami pun membuka matanya dan tersenyum.
"Yuna, aku sudah membesarkan anak kita. Tugasku sudah selesai, Kuharap kau bisa membawanya bersamamu".
"Tidak, kau tidak boleh pergi". Namun apa daya Suami fanannya kini telah pergi untuk selamanya.