Menjadi Pelayan Pangeran Bupati

Menjadi Pelayan Pangeran Bupati
Kembalinya Rong Bai dan Pangeran Silas.


Rong Bai mengernyitkan dahinya setelah selesai mendengarkan Pangeran Silas berbisik kepadanya, Setelah selesai Silas sedikit menjauh agar tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak lawan.


Rong Bai dan yang lainnya berhenti cukup lama di tepi duri beracun itu hingga di seberang sana terlihat Kaisar dengan para Pangeran tengah berjalan tergesa gesa menuju tempat mereka berdiri.


"Rong Bai, Sikas. Apa Kalian tidak apa apa?". Tanya Kaisar.


"Kami baik, tapi lihatlah di depanmu ini Ayahanda. Duri duri kecil beracun sengaja di tanam agar kami terluka". Jawab Rong Bai.


"Kalian periksa Siapa yang menaruh Duri duri ini, dan yang lainnya siapkan papan agar mereka bisa menyeberangi Duri ini". Perintah Kaisar.


"Kakak Pertama , Kakak Kedua. Syukurlah kalian baik baik saja". Ucap Pangeran ke Lima yang masih kecil.


Rong Bai ataupun Silas tidak menjawab Ucapan adiknya itu, Karena Mereka tahu Hanya permaisuri Dan Selir Ibu pangeran Kelima yang melakukan tindakan semua ini.


Pangeran Kelima yang merasa tidak di tanggapi kini hanya bisa mendengus kesal kemudian pergi dari tempat kejadian.


Papan pun di letakkan di atas duri duri kecil beracun itu, Kini mereka berjalan gantian melewati Papan sehingga mereka berhasil sampai di pelataran Seberang sana yang terdapat Kaisar dan yang lainnya.


"Salam Hormat kepada Ayahanda". Ucap Rong Bai dan Silas bersamaan.


"Bangkitlah, Syukurlah kalian tidak apa apa dan terlihat akur. Aku sedikit lega melihatnya". Ucap Kaisar Bai.


"Terimakasih Ayah". Jawab mereka berdua.


"Ayo kita ke dalam, Biarlah mereka yang mengurus masalah ini" .


Mereka pun memasuki Ruangan Kaisar , Dan duduk di kursi yang tengah di sediakan.


Liena Sue menunggu di Luar karena Ia menyamar sebagai seorang Kasim rendahan jadi tidak bisa memasuki Ruangan.


Tak Lama kemudian terlihat Beberapa Selir yang berbondong bondong menuju Ruangan Kaisar, di arah Lain Dengan angkuhnya Permaisuri juga mendatangi Ruangan Kaisar untuk Formalitas saja.


"Huh dasar wanita Ular, bisa bisanya dia masih begitu Sombong". Guman Liena Sue di dalam hati saat melihat betapa sombongnya Ibu Pangeran Silas itu .


Permaisuri dan para selir pun segera memasuki Ruangan Kaisar kemudian memberi Hormat Kepada Kaisar dan Pangeran yang berada di dalam sana.


"Bagaimana kabar Kalian Pangeran? Sepertinya baik baik saja". Tanya Permaisuri.


"Kami memang baik baik saja, apakah Yang Mulia Permaisuri terlihat Kecewa saat melihat kami baik terutama aku?". Tanya Rong Bai penuh intimidasi .


"Apa Maksudmu Pangeran Bupati, tentu saja aku sebagai ibu merasa khawatir . Apa lagi saat mendengar kalian di serang walaupun di dalam Istana. Sepertinya Kalian Sangat tenang".


"Tentu saja kami tenang, karena orang itu telah gagal Rencanannya". Sahut Rong Bai.


"Huhh dasar". Ucap Permaisuri mendengus kesal.


"Sudah jangan berdebat, kedua Pangeran baru saja pulang setelah sekian lama. Jangan menambah keributan". Ucap Kaisar menengahi.


Kini semua orang berbincang ringan satu sama lain kecuali Permaisuri dan pangeran ke lima, sedangkan Selir ke tiga selaku ibu pangeran ke lima pun terlihat menutupi semuanya dengan baik.


"Rong Bai, kau sebagai Pangeran Bupati. Apakah kau masih akan meneruskan enam bulan terakhir untuk kembali ke Akademi?". Tanya Selir ke dua


"Setelah semua urusan selesai , aku akan kembali bibi. Tapi jika nantinya ada sengaja menambah pekerjaanku aku tidak menjaminnya". Jawab Rong Bai.


"Semoga saja tidak ada masalah dan kau bisa belajar kembali, setelah itu pulang dan lanjutkan pernikahan". Ucap Selir kedua dengan Tulus.


Diantara Para selir, Hanya Selir kedua yang baik dengan Rong Bai karena dia adalah adik kesayangan dari Sang ibu. Hanya saja waktu itu setelah kematian Permaisuri lama, Selir Kedua tidak mau diangkat menjadi pengganti sang kakak jadi dia hanya menjadi Selir Agung saja. Akan tetapi walaupun jabatannya sebagai Selir Agung namun otoritasnya lebih besar berkali kali lipat di bandingkan Permaisuri saat ini. Jadi tidak ada yang berani mengusiknya termasuk Permaisuri.


"Terimakasih Ayah, terimakasih Bibi". Jawab Rong Bai.


Setelah pertemuan singkat di Ruangan Kaisar mereka pun bubar dan kembali ke kediaman masing masing, Kini Silas terlihat mendekati Rong Bai dan Liena Sue yang masih berpakaian sebagai kasim.


"Tunggu, Bawalah ini bersama kalian. Karena mulai hari ini kalian tidak akan tidur nyenyak". Ucap Silas sembari memberikan botol porselen berwarna hitam.


"Apa ini?". Tanya Rong Bai.


"Lemparkan ke langit jika kalian dalam bahaya, maka akan ada bala bantuan yang akan datang membantu kalian". Jawab Pangeran Silas .


"Terimakasih".


"Dan satu hal lagi, aku akan tinggal di Istana Sebelahmu. Ibuku menugaskan ku untuk mengawasi mu".


"Ya terserah kau saja". Jawab Rong Bai kemudian ia segera pergi menuju Istanannya sendiri.


....


Di Istana Permaisuri...


Permaisuri terlihat begitu marah sehingga ia memecahkan banyak perabot di Istananya.


"Aaggkk, kenapa anak haraam itu kembali dengan selamat!! Harusnya kau mati bersama ibumu saat kau masih kecil dulu!! Kau hanya menjadi benaluku untuk merebut Tahta". Ucap Permaisuri.


"Ck, untuk apa kau menyesalinya Yang Mulia". Ucap Selir ketiga yang tiba tiba datang ke tempat permaisuri.


"Untuk apa kau disini?!!". Tanya Permaisuri.


"Aku hanya ingin menyapa Permaisuri agung kita, dan kebetulan mendengarmu Memaki Pangeran Bupati. Jika semua terdengar Kaisar pastinya kau akan di hukum berat ". Jawab Selir ketiga yang kemudian duduk di kursi kamar tanpa memperdulikan Permaisuri yang acak acakan.


"Kau hanya akan mengejeku kan? Sudahlah aku tidak akan menerima tamu saat ini, cepat pergilah!". Ucap Permaisuri.


"Aku disini ingin mengajakmu berkerjasama".


"Heh, kerjasama macam apa yang kau maksud?".


"Aku akan membantumu menggulingkan Pangeran Bupati tapi kau juga harus membantu anakku untuk menjadi Pangeran Bupati selanjutnya jika Silas menjadi Kaisar".


"Ck janganlah banyak bermimpi, Kau hanya seorang selir maka tidak pantas anakmu menjadi Pangeran Bupati". ejek Permaisuri kepada Selir ketiga


"Jangan terlalu sombong! Kita mempunyai tujuan dan musuh yang sama. Pikirkan baik baik, Aku mempunyai banyak penyokong setelah selir Agung.". Ucap Selir ketiga sedikit merasa marah.


"Kau pergi dulu, aku akan mempertimbangkannya". Jawab Permaisuri akhirnya.


"Kuharap Yang Mulia benar benar mengambil langkah yang benar". Ucap Selir ketiga kemudian pergi meninggalkan Istana Permaisuri .


Sedangkan Permaisuri kini memilih untuk berendam agar meringankan beban fikirannya, Tak lama kemudian muncullah burung pembawa pesan yang bertengger di jendela kamar mandi Permaisuri.


"Siapa yang mengirim pesan malam malam". Gumam permaisuri.


Permaisuri pun mengambil surat yang berada di kaki burung pengantar pesan itu, kemudian membacanya secara perlahan.


Setelah selesai membaca, ada seringai di balik wajah paruh baya yang terlihat masih cantik itu.


"Heh, aku akan menghancurkan mu Rong Bai seperti aku membunuh ibumu". Gumam Permaisuri kemudian menyimpan pesan itu ke dalam laci almari kecil di dekat bak mandinya.