
Pertarungan tak terelakan antara Rong Bai dengan Tuan Muda Tang, Tuan Muda Tang tampak Kuwalahan melawan Sosok Putra Mahkota baru Negara Gu itu.
Dia beringsut mundur sambil memegangi dadanya karena kelelahan. Sedangkan Rong Bai tampak baik baik saja tanpa merasakan lelah sedikitpun.
"Setelah Ingatan dan kekuatan Dewa ku kembali aku lebih kuat dan bersemangat, Sungguh keberuntungan". Batin Rong Bai.
Tuan Muda Tang memilih pergi meninggalkan Rong Bai sendiri, Karena ia percaya bahwa Rong Bai tidak akan mudah menemukan Formasi yang ia buat itu.
Rong Bai kembali mencari pusat Formasi tapi anehnya ia tidak menemukan apapun di setiap penjuru desa. Rong Bai tampak Frustasi hingga akhirnya ia terfikir kan menuju ke rumah kepala desa Tang.
"Sepertinya ia menyembunyikan Formasi di suatu tempat". Gumam Rong Bai kemudian mencari kediaman Kepala desa.
Karena kejadian di Rumah Bordil jadi semua orang berkumpul di sana sehingga kediaman tidak ada yang menjaga sama sekali.
Rong Bai tanpa basa basi ia langsung menuju Kamar Kepala Desa Tang yang terlihat jelas dari lukisan wajah yang banyak terpajang di dinding.
Ruangan sederhana seperti tidak ada celah apapun sehingga membuat Rong Bai Frustasi dan terduduk di meja tamu dan memainkan Asbak yang berada di atas meja.
asbak itu bergeser hingga memunculkan sebuah kunci aneh di bawahnya. Kunci itupun di ambil oleh Rong Bai hingga sesuatu di almari terlihat bersinar.
Rong Bai menghampiri Almari itu hingga ia menemukan Sebuah patung kodok dengan mata yang bersinar berwarna merah . Ia pun mencoba meletakkan Kunci yang ia temukan di dalam mulut kodok itu, Hingga tiba tiba mulut itupun tertutup beserta matanya. Dan tak lama setelah itu muncul tangga menuju Ruang Bawah tanah dari balik meja tamu tersebut.
Rong Bai menggeser meja tamu itu kemudian segera memasuki Ruangan itu secara perlahan, Untung saja dia masih punya beberapa Mutiara cahaya sehingga gelapnya lorong kini terlihat lebih terang.
"Mungkinkah ini tempat menuju Formasi yang ia Buat". Gumam Rong Bai sambil terus berjalan.
Lorong yang begitu panjang tak membuatnya menyerah begitu saja, Hingga akhirnya ia menemukan Sebuah Altar segi enam yang setiap sudutnya terdapat seorang gadis yang tengah di rantai di setiap tangan dan kakinya.
Rong Bai pun semakin mendekat, alangkah terkejutnya ternyata setiap perempuan itu di sayat tangannya hingga mengeluarkan darah sehingga mengalir di altar formasi.
Rong Bai menyadarinya jika itulah Formasi yang ia cari sedari tadi. Pertama Rong Bai kini melepaskan semua wanita yang berjumlah enam orang itu, kemudian memberikan pil Sumsum tingkat dua kepada mereka sehingga mereka pulih dengan cepat.
"Terimakasih Tuan, kau telah menyelamatkan kami". ucap salah satu wanita itu.
"Sama sama, kenapa kalian bisa berada di sini?". Tanya Rong Bai.
"Kami semua adalah Istri dari Kepala Desa , Kami di ikat dan di siksa agar mengeluarkan darah segar untuk persembahan Tuan. Kami tidak tahu jika dia dan anaknya adalah Kultivator jahat sehingga kami semua tergiur karena uang. Dia menikahi banyak wanita namun setiap wanita tidak mengetahui dimana para selir yang lainnya, sehingga kami baru tahu saat kami berada di sini". Jelas wanita itu.
"Aku mengerti, Kalian lebih baik ikuti aku . Di Luar sedang ada kekacauan besar yang tengah di lakukan Kepala Desa dan anak laki lakinya Nona".
"Tapi, mereka berdua pasti akan mengetahui jika kita kabur Tuan. Karena Formasi itu akan aktif ketika darah kami masih banyak di atas altar, jika sudah habis atau mengering maka semuanya akan menjadi Normal kembali". Jelas wanita lainnya .
"Di altar masih cukup banyak darah jadi sudah cukup waktunya untuk kalian melarikan diri".Sahut Rong Bai.
Keenam wanita itupun mengangguk kemudian berdiri bersiap mengikuti Rong Bai..
"Tunggu Tuan muda, jika kau melewati Lorong maka kita tidak akan sempat. Lebih baik melewati jalan pintas saja". Ucap Salah satu wanita itu.
"Apa kau tahu jalannya? Dan kenapa kau tahu jalan masuk yang lain?". Tanya Rong Bai.
"Kalau begitu tunjukkan jalannya". Sahut Rong Bai.
Wanita itupun mengangguk kemudian menjadi petunjuk jalan diikuti Kelima istri kepala desa lainnya serta Rong Bai yang berada di paling belakang.
Tak Lama kemudian benar saja mereka keluar tepat di ruang ganti Rumah bordir.
"Kalian tetap di sini, jangan keluar. Jika kalian dalam bahaya kalian bisa menggunakan pedang ini ". Ucap Rong Bai sembari meletakkan beberapa pedang yang ia dapat dari beberapa prajuritnya.
"Baik Tuan Muda". Jawab mereka berenam.
.....
Suasana di Luar Rumah Bordil terlihat semakin mencekam, orang orang seperti Zombie itu yang tak ada habisnya menyerang mereka.
"Astaga.... Apakah aku bisa bersabar untuk tidak membunuh mereka". Ucap Cun Li menggerutu kesal .
Namun tak lama kemudian awan hitam pekat yang menutupi desa perlahan menghilang dan orang orang itu perlahan sadar satu persatu.
Tuan Muda Tang yang menyadarinya pun ingin segera pergi namun di cegah oleh Rong Bai.
"Sial , dia berhasil menemukan tempat formasiku. Aku harus segera pergi". Ucap Tuan Muda Tang.
"Kau ingin kemana Tuan Muda Tang?. Maksudku Master Kultivator jahat". Ucap Rong Bai yang keluar dari Rumah Bordir .
"Kau!! Kenapa kau bisa menemukan Formasi itu!!". Teriak Ruan Muda Tang.
"Rahasia, sepertinya kau dan Ayahmu harus membayar semua kejahatanmu Tuan Muda".
"Coba saja kalau kau bisa menangkap kami". Ejek Tuan Muda Tang.
Namun sebelum mereka berdua benar benar melarikan diri, Liena dengan cepat menjerat mereka dengan tali yang sudah di mantrai.
Bruggg... Kedua orang itupun terjembab ke tanah. Rong Bai dan Silas menyegel kekuatan mereka kemudian Prajurit kekaisaran menangkap Ayah dan anak itu dan digiring untuk di hakimi.
Yu Yin mengeluarkan ke enam Istri Kepala Desa dari Rumah Bordir sehingga membuat para warga terkejut.
"Bukankah itu Istri istri Kepala Desa, Kenapa mereka penuh dengan darah dan pakaian mereka tidak layak seperti itu".
"Kasihan sekali mereka, pantas tidak ada kabarnya setelah menikah dengan Kepala Desa".
"Kejam Sekali ternyata Kepala desa, Kita harus mengikuti dia dan melihat dihakimi dan dihakimi".
Ucap semua orang saling menyindir Kepala desa dan sang anak.
Setelah sampai di pelataran yang lebih luas mereka pun segera di adili langsung Kaisar Bai , Tuan Sheng dan Tuan Cun selaku Hakim.
Pakaian mereka di lucuti kemudian di hukum cambuk beberapa kali sebelum di bacakan apa kesalahan mereka.