
"Aku tahu apa tujuan kalian kemari, Karena kalian lulus ujian kalian pantas mendapat apa yang kalian inginkan". Ucap Tetua Bao.
"Ujian? Ujian dalam hal apa Tetua?". Tanya Bian Sue.
"Kalian berhasil mengalahkan Siluman siluman itu, kalian berhasil berkerjasama untuk mengalahkannya dan satu hal lagi, kalian bisa mengesampingkan rasa kasihan sesaat kalian kepada wanita itu".
"Jadi itu ujian dari tetua?". Tanya Bian Sue lagi.
"Tentu saja, karena itu aku akan memberikan dua bulu naga ku secara cuma cuma.".
"Terimakasih Tetua". Ucap mereka berempat.
Tetua Bao tersenyum kemudian segera memanggil Naganya dari Balkon tersebut.
"Yi, Keluarlah".
Keluarlah Naga Hijau berbulu dari dalam danau terbang ke arah balkon menuju Tetua Bao setelah memanggilnya.
Naga bernama Yi itupun menundukkan kepalanya ke depan mereka semua , Tetua Bao berdiri dan mengambilkan beberapa Bulu dari tubuh naga Hijau itu kemudian memberikan kepada Kai Yuwen yang berada di dekat Tetua Bao .
"Ternyata ada naga berbulu". Gumam Liena Sue.
"Terimakasih Tetua". Ucap Kai Yuwen sambil menerima bulu bulu itu.
"Apa kalian akan membuka segel ingatan?". Tanya Tetua Bao.
"Benar Tetua". Jawab Liena Sue.
"Kalau begitu biar ku bantu, Apa kalian sudah membawa bahan lainnya?".
"Kami membawanya Tetua". Jawab Liena lagi.
"Kalau begitu kita bisa memulai dan aku bisa membantu kalian, karena jika hanya kekuatan kalian saja belum cukup untuk membuka Segel".
Melihat ketulusan dan inisiatif Tetua Bao mereka sangat senang, Rong Bai mengeluarkan Giok darah dari dalam cincin spesialnya dan di letakkan di atas meja.
"Giok darah yang besar, kalian bisa memotongnya menjadi lima bagian. Sedikit saja sudah cukup untuk membuka segel". Ucap Tetua Bao.
"Tapi kami tidak tahu cara membaginya Tetua". Ucap Bian Sue.
"Bawa kemari, aku akan membaginya".
Bian Sue meletakkan Giok darah berukuran Besar itu ke depan Tetua Bao, Tak Lama kemudian Tetua mengeluarkan Pedang berwarna Putih kemudian dengan gerakan cepat ia memotong Batu yang seharusnya keras itu dengan mudah terbagi menjadi lima.
"Kalian gunakan Satu untuk membuka Segel, Sisanya kalian simpan. Dan Berikan kepada Orang yang nanti meminta sedikit batu Giok ini, Dia orang Baik".
Tetua Bao yang bisa melihat masa depan dengan mudah memberi tahu kepada mereka tentang apa yang akan terjadi. Rong Bai di perintahkan Tetua Bao untuk duduk bersila menghadap Danau, sedangkan Liena dan ke dua kakaknya di minta untuk duduk mengelilingi Rong Bai dengan Tetua Bao yang memimpin.
"Kalian lihatlah gerakan yang ku lakukan dan ikuti, Gunakan Empat puluh persen kekuatan Internal kalian . Jangan terlalu banyak, itu akan menguras tenaga". Jelas Tetua Bao.
"Baik Tetua". Ucap mereka bertiga.
Tetua Bao memulainya dan ketiga orang itu mengikuti gerakan yang di praktikkan Tetua Bao. Bulu naga kini di selipkan di sela jari ,Sedangkan Giok darah itu di letakkan di depan Rong Bai.
Tak lama kemudian mereka segera menyalurkan energi internal mereka setelah selesai melakukan beberapa gerakan.
Tubuh Rong Bai terlihat sedikit bergetar ketika menerima energi internal dari mereka, Sedangkan Giok darah itu terlihat bersinar dengan terangnya. Cahaya Giok mencoba memasuki dahi Rong Bai bersamaan dengan Bulu naga di tangannya yang perlahan berubah menjadi seutas cahaya.
Cahaya merah, hijau dan beberapa cahaya dari kekuatan internal yang bervariasi itu kini terlihat bercampur seperti pelangi. Tanda segel yang berada di belakang telinga kanan Rong Bai mulai menyala merah sehingga membuat Pemilik tubuh merasakan kesakitan yang teramat sangat.
Tak hanya di kepala, rasa panas di dada Rong Bai membuat Darahnya naik hingga ia benar benar memuntahkan darah segar .
"Jangan pedulikan, tetap salurkan kekuatan Internal kalian atau dia akan mati jika kita memutus di tengah jalan". Ucap Tetua Bao memperingatkan ketika melihat Liena Sue kurang berkonsentrasi karena melihat Rong Bai memuntahkan darah segar.
"Baik Tetua". Jawab mereka bertiga.
Mereka pun tetap melanjutkannya walaupun Rong Bai semakin kesakitan dan pucat serta memuntahkan darah cukup sering.
Hingga sakit kepala yang begitu kuat, Ingatan ingatan asing tiba tiba muncul dan Rong Bai yang tak kuat pun pingsan. Untung saja proses pembukaan segel telah selesai, simbol yang menyegel ingatan Rong Bai telah menghilang.
"Tetua, kenapa dia pingsan? Apakah akan baik baik saja?". Tanya Liena Sue.
"Dia hanya terkejut mendapatkan ingatan lama, kalian tenang saja. Para pelayan di sini akan mengantar kalian untuk beristirahat di rumahku, aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian".
"Terimakasih Tetua".
....
Sudah dua hari mereka tinggal di Kediaman Tetua Bao namun Rong Bai belum membuka matanya sama sekali, Liena Sue terlihat cemas dan tidak meninggalkan Rong Bai sama sekali.
karena saking lelahnya menunggu, Liena Sue pun tertidur di tepi ranjang tempat di mana Rong Bai tertidur.
Tak lama kemudian, Rong Bai yang sudah dua hari terlelap kini membuka matanya perlahan dan menemukan bahwa Liena Sue tengah tertidur di tepi ranjangnya.
ia mengusap lembut rambut Liena hingga pemilik rambut membuka matanya karena merasakan ada pergerakan.
"Ah Rong, kau sudah bangun". Ucap Liena Sue dengan Suara Parau.
"Iya, Kau tidurlah kembali. Lihatlah kantung matamu yang menghitam ini". Ucap Rong Bai sambil menunjuk kantung mata Liena.
"Tidak mau, aku menunggumu terbangun. Maka dari itu aku tidak akan tidur sebelum kau memakan makananmu, Sudah dua hari kau tidak makan dan ini sudah siang hari sudah terlambat untuk sarapan. Jadi baru saja pelayan memberi kita makan siang, Apa kau mau aku suapi?".
"Boleh, Bawalah kemari makanannya dan kita bisa makan bersama".
"Baik, Kau tetap di sini oke". Ucap Liena Sue yang pergi ke meja makan membawakan makan siang untuk Rong Bai
"Apa kau sudah makan Na'er?".
"Belum, yang terpenting kau saja. Aku nanti sajA". Sahut Liena Sue.
"Tidak, kemarilah kita makan bersama. Tidak ada tolakan".
Liena Sue hanya pasrah pun mendekat dan menerima suapan dari Rong Bai.
Sore hari telah tiba, Rong Bai sudah lebih baik . Bian Sue memutuskan untuk kembali hari ini karena hari pernikahan sang adik akan segera tiba, dan alasan lainya adalah ia merindukan istri barunya yang belum sempat ia temui lagi setelah hari pernikahannya lima hari yang lalu.
"Tetua Bao, karena Rong Bai sudah membaik. Kami ingin pamit lebih cepat, karena acara pernikahan Adik saya tinggal satu minggu lagi dan kami harus melakukan banyak persiapan". Ucap Bian Sue.
"Baiklah, Oh ya ini aku punya hadiah untuk kalian sebelum kalian pergi". Ucap Tetua Bao Sembari memberikan Empat kotak berbeda kepada mereka berempat.
Rong Bai mendapatkan Kotak panjang yang berisi pedang putih yang di gunakan Tetua Bao saat memotong bulu naga.
Bian Sue mendapat Cambuk Surgawi yang terbuat dari bulu naga terpilih, Kai Yuwen mendapat Panah emas dan Liena Sue mendapat Jarum Perak dengan ukiran Phoenix di atasnya.
"Terimakasih Tetua, Kami pamit terlebih dahulu".