
Pagi hari...
Liena Sue serta yang lainnya sudah menyelesaikan sarapan paginya, tiba tiba ada seorang pelayan laki laki menghampiri mereka .
"Tuan Muda, Nona. Pemilik penginapan menyiapkan empat kuda untuk kalian sebagai ucapan terimakasih karena membebaskan kami dari Cao Meilan semalam".
Liena Yang mengetahui tidak begitu terkejut, sedangkan Bian Sue merasa tidak enak hati saat mendapatkan bantuan cuma cuma itu.
"Apa tidak terlalu berlebihan?". Tanya Bian Sue
"Tidak Tuan, Bos kami dengan tulus membantu kalian. Dan ini dia menitipkan Token kepada Kalian".
"Token, Token apa?". Tanya Bian Sue lagi.
"Di dalam kotak berisi Token ini ada sebuah surat, nanti bisa Tuan Muda buka setelah sampai di tujuan".
"Kalau begitu sampaikan kepada Mastermu , kami berterimakasih atas semuanya". Ucap Bian Sue.
"Baik Tuan Muda, Silahkan".
Pelayan itupun mengantar mereka menuju kuda kuda yang sudah di siapkan di depan penginapan. Liena Sue mendapat kuda Putih yang cantik, sedangkan Bian Sue mendapat Kuda Hitam Yang Gagah. Begitupun Yuri dan Sam juga mendapatkan Kuda Coklat yang gagah.
"Hiyatt.. hiyat".
Mereka pun meninggalkan Penginapan sambil memacu kuda dengan keras. Sedangkan di lantai tiga Kai Yuwen menatap kepergian Liena Sue dan lainnya .
"Siapkan Kuda, dan bawa beberapa penjaga terbaik. Kita akan melindungi mereka diam diam". Perintah Kai Yuwen.
"Baik Master". Jawab Kedua Bawahannya.
Kai Yuwen kini mengenakan Cadar dengan pakaian serba putih dan menggunakan Topi agar tidak mudah dikenali. Ia turun dari penginapan menuju kuda yang telah di persiapkan.
Setelah semuanya siap dia dengan beberapa pengawal pergi menyusul Liena Sue dan Yang lainnya.
"Kenapa kita mengikuti mereka master?". Tanya Bawahan Kai Yuwen.
"Karena mereka dalam bahaya, Keluarga Cao pasti akan menghalangi mereka lagi dan lagi. Dan agar kau Tahu, Mereka adalah Putri dan Pangeran Negara Ba kita". Jawab Kai Yuwen.
"Bawahan Mengerti Master".
...
Perjalanan menuju Kamp Militer dari desa tempat menginap Bian Sue memerlukan waktu 24 jam jika berjalan, dan karena mereka menunggang kuda mereka bisa menempuh paling lama 18 jam saja.
Kini mereka memutuskan beristirahat terlebih dahulu untuk makan siang dan untuk memberi waktu kuda beristirahat dan makan.
"Kakak, apakah kau akan langsung mengambil alih Kamp?". Tanya Liena Sue.
"Tidak, kita intai saja dulu. Jika ada celah, kita kumpulkan orang penting kepercayaan kita untuk menyusun rencana". Jawab Bian Sue
"Baguslah kak kalau begitu, Surat untuk ayah apakah sudah sampai kak?".
"Sudah, bahkan aku sudah mendapatkan jawabanya".
"Apa yang ayah katakan?".
"Dia sudah mengirim dekrit untuk mencopot posisi Hakim Daerah, dan kini Hakim baru sudah dalam perjalanan. Dan tadi waktu aku bangun tidur, aku mendapatkan surat ini . Bacalah". Ucap Bian Sue sambil menyodorkan dua surat, yang satu dari Kaisar dan satunya tidak diketahui.
"Ini? ini nama nama para pengkhianat yang memihak Keluarga Cao kan kak?".
"Sepertinya begitu, Coba baca salah satu dari nama di sana. Ada nama Jenderal Du jenderal Kepercayaan Kaisar, sepertinya kita akan sedikit sulit memasuki Kamp".
"Sepertinya tidak Kak, apa kau lupa dengan lupa perampok itu".
"Kau benar, aku lupa.. Kita tunggu berita dari mereka". Jawab Bian Sue.
....
Di Kamp Tentara, kelima Perampok kini telah bersujud menghadap Cao Feng selaku Tuan Tua keluarga Cao.
"Salam Master".
"Bangkitlah, katakan bagaimana hasil kalian?". Tanya Cao Feng.
"Ck, ternyata terlalu mudah. Ambillah hasil kalian itu, aku tidak mau menerimanya".
"Terimakasih Master".
"Bagus, kalau begitu kalian ambil kembali keluarga kalian masing masing. Dan pergi sejauh mungkin dengan uang yang sudah disiapkan, ambil masing masing satu kantong".
"Terimakasih Master, anda sangat bermurah hati".
"Tentu saja".
Kelima orang tersebut segera keluar dari Kamp kemudian menjemput keluarga mereka yang di sekap.
Namun alangkah terkejutnya saat mereka menemukan seluruh keluarga mereka telah mati di penggal yang sepertinya sudah di penggal beberapa hari yang lalu namun mayat masih berserakan.
Merasakan ada yang tidak beres, kelima pria tersebut segera memegang senjata masing masing dan saling adu punggung untuk bersiap melawan sesuatu yang pastinya akan menyerang mereka.
"Apa kalian ingat apa yang di berikan Nona Liena itu?". Tanya Bos kelima orang itu.
"Kami ingat bos, dan tadi aku sudah memasukkan satu ke dalam minuman Master". Sahut pria lain sambil berbisik juga .
"Bagus, kalau begitu kita tinggal cari satu lagi korban dan serahkan kepada Yang Mulia".
Tak lama kemudian para penjaga bawahan Cao Feng kini menyerang kelima perampok itu, mereka ingin membunuh seluruh orang itu beserta keluarga mereka untuk menutupi kesalahan sang Master.
Namun, karena kelima orang itu sudah tahu terlebih dahulu kini mengeluarkan Pil berukuran satu kepalan tangan kemudian menjatuhkan di depan para penjaga itu.
Ternyata itu adalah Bom asap yang sudah di siapkan oleh Liena Sue dan di berikan oleh mereka berlima.
Karena musuh lengah Kelima orang tersebut menyelinap pergi dan mencari Jenderal Du yang dimaksudkan.
Untung saja alat yang di berikan Liena Sue benar benar berguna, mereka sedikit kagum pasalnya semua benda itu sangat berguna seperti Liena Sue dapat memprediksi semuanya.
"Bos, bukankah itu tenda Jenderal Du?". Tanya Bawahan .
"Ya kau benar, kemarilah kita harus menyusun rencana".
"Sepertinya menyelinap itu keahlianku Bos, bagaimana kalau aku saja yang menyelinap, sementara kalian berjaga untukku". Ucap Pria lain.
"Setuju, kalau begitu ayo cepat bergerak!!". Perintah Bos mereka.
Salah satu dari kelimanya kini mencoba mengalihkan perhatian dari penjaga Tenda Jenderal Du.
Penjaga itu melihat buronan berlari di depannya pun dengan sigap mengejarnya dan meninggalkan tenda.
Tak lama kemudian salah satu dari mereka lagi memasuki tenda dengan perlahan .
Untung saja Jenderal Du tidak berada di dalam tenda jadi ia dengan mudah memasuki tenda. ia mencari cari teko teh hingga akhirnya menemukannya dan memasukkan pil yang sama yang ia berikan kepada Cao Feng tadi.
Setelah selesai ia pun menyelinap keluar melalui tenda belakang. Untung dia keluar tepat waktu karena pas saat ia keluar , Jenderal Du memasuki tendanya..
"Kelima orang itu benar benar merepotkan!! Cepat cari mereka hidup atau mati!!". Perintah Jenderal Du kepada Bawahannya.
"Baik Jenderal". Ucap mereka kemudian segera pergi keluar tenda.
"Dan kau , tuangkan teh ". Perintah Jenderal Du kepada bawahan yang lain.
"Baik Jenderal". Ucap bawahan sambil menuangkan teh ke gelas Jenderal Du.
Tanpa berpikir lama Jenderal Du akhirnya meminum teh hingga habis.
"Ck, Cao Feng sangat sombong!! kenapa dia bisa membunuh Putra Mahkota dan Seorang Putri negara kita? Bukankah berarti membawa kita ke dalam Jurang kematian!". Runtuk Jenderal Du.
"Tapi, apa sudah memastikannya Jenderal
jika itu mereka berdua?".
"Yaa, barang barang itu memang milik mereka berdua. Kau tahu Jenderal Putri yang mereka takuti? Dia adalah Putri tertua Negara Ba, Liena Sue".
"Aku baru di sini Jenderal, jadi tidak tahu detailnya". Jawabnya polos.
"Kalau begitu berhati hatilah , jika Kaisar menghukum kita karena membunuh kedua anaknya".