Menjadi Pelayan Pangeran Bupati

Menjadi Pelayan Pangeran Bupati
penyempurnaan Jiwa Dewi Yuna Yuwen


Tetua Pertama mengajak mereka ke sebuah Goa di Dunia lain atau tepatnya Dunia buatan Dewa Takdir, Hanya Bawahan setia Dewa Takdir yang bisa menemukan dan memasuki Dunia itu.


"Dimana Kita?". Tanya Liena Sue.


"Ini adalah Dunia Buatan Dewa Takdir, Kakak Ibumu jadi hanya Bawahan setia yang bisa memasukinya". Sahut Tetua Bao.


"Begitu Ya, Indah ya...". Gumam Liena Sue.


Mereka berjalan melewati jalan yang mengapung di atas danau berwarna Pink , Jalannya cukup jauh hingga muncullah Sebuah kediaman Mewah Bak Istana Dewa dengan cat berwarna Putih susu yang di padukan dengan Biru muda.


Mereka memasuki kediaman itu dan mencari sebuah Ruangan atau kamar tempat Jiwa Dewi Yuna Yuwen berada.


"Ini tempat jiwa Dewi Yuna Yuwen". Ucap Tetua Pertama sambil menunjuk sebuah tempat kaca besar berisi butiran butiran jiwa yang mulai meredup.


"Lalu kapan kita akan memulai menyempurnakan Jiwanya Tetua?". Tanya Rong Bai.


"Hari ini, Jika kalian ingin membantu kami kalian harus makan terlebih dahulu". Jawab Tetua Pertama.


"Baik tetua terimakasih". Ucap mereka bertiga.


Setelah selesai makan , Tetua Pertama mengajak mereka untuk membuat formasi bulat yang sudah diarahkan oleh Tetua pertama. Mereka duduk di masing masing titik yang sudah di tentukan.


"Disini kalian hanya membantu Tetua Pertama menopang energinya, selebihnya serahkan kepada Tetua". Ucap Tetua Bao


"Kami mengerti Tetua".


"Apapun yang terjadi jangan buka mata kalian, karena ini akan memakan waktu cukup lama. Kuharap kalian mengerti". Ucap Tetua pertama.


"Baik Tetua". Jawab mereka serentak.


"Ibu, aku akan bertemu denganmu lagi.. Setelah ratusan tahun berlalu". Batin Liena Sue.


Mereka pun memulai memejamka mata, Tetua Bao meletakkan Giok darah yang sudah di cairkan ke dalam wadah Jiwa


 Dewi Yuna bersama beberapa bahan yang sudah mereka dapatkan .


Setelah di rasa siap Tetua Bao segera duduk di belakang Tetua Pertama yang duduk dekat dengan Batu jiwa Dewi Yuna. Liena Sue , Rong Bai dan Gong Fai bersama bawahan Tetua Pertama pun segera menyalurkan Energi Internal mereka kepada Tetua Pertama .


Prosesnya cukup memakan banyak energi sehingga membuat beberapa orang di bawah Tahap Langit spiritual hampir tumbang, namun mereka masih mempertahankan posisi sebaik mungkin.


Liena dan lainnya pun juga masih terfokuskan dan tidak terusik sama sekaki karena mereka sudah berada DI tahap Alam Roh Dewa Tingkat tertinggi dan Tahap Alam Roh Agung tingkat menengah.


Batu batu jiwa yang awalnya hanya berupa butiran kecil kini perlahan membentuk sebuah wujud manusia walaupun masih sangat transparan.


Tetua Pertama merasakan bahwa mereka tengah berhasil, ia pun memberi semangat kepada mereka yang memberikan Energi Internalnya untuk membantu .


"Untuk yang berada di bawah tahap Roh Langit kalian bisa bergantian dengan teman teman yang lain , tapi ingat harus cepat". Ucap Tetua pertama yang masih fokus dan memejamkan mata.


Bawahan para tetua yang tidak kuat pun dengan cepat segera bergantian dengan teman yang lainnya, ada yang hampir tumbang ada yang mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. Untung saja mereka cukup banyak untuk saling bergantian.


Tubuh transparan tersebut perlahan terisi hingga memunculkan sosok wanita cantik yang masih menutup matanya, Hanya saja Tubuh tersebut masih polos bak bayi baru lahir.


Tetua Bao memerintahkan semua untuk memejamkan matanya saat membantu Tetua pertama ataupun saat sudah bergantian dengan teman temannya, Karena ia tahu Sang Dewi nanti akan tanpa Busana ketika ia terlahir kembali.


Gong Fai yang mulai lelah kini sudah memuntahkan darah dari mulutnya namun ia tidak menyerah sama sekali. Sedangkan Rong Bai dan Liena Sue masih terfokus menyalurkan Energi internal mereka walaupun sebenarnya tubuhnya mulai lelah dan lemas.


"Putri Sue, Bisakah kau bantu Dewi Yuna berpakaian selagi kami menutup mata? Diantara semua hanya kau seorang perempuan disini". Ucap Tetua Pertama.


"Apakah sudah selesai Tetua?". Tanya Liena Sue.


"Sebentar lagi, dan ketika aku berkata cukup kau bisa mendekati Dewi Yuna dan membantunya berpakaian. Sedangkan Yang lain tetap menutup mata hingga Sang Dewi selesai berpakaian". Jawab Tetua Pertama.


"Baik Tetua". Jawab Liena Sue.


tubuh yang awalnya masih seperti hologram itu perlahan pun terisi sempurna, Awalnya tubuh itu melayang dan kini perlahan turun menyentuh tanah .


Tetua Pertama pun segera berkata CUKUP sehingga semua berhenti menyalurkan energi Internal mereka, Dan Liena Sue pun dengan sigap segera berlari menuju Tubuh Dewi Yuna yang polos tanpa Busana dengan perasaan campur aduk.


Liena Sue menghampirinya kemudian memakaikannya pakaian yang sudah di siapkan Tetua mereka. Dewi Yuna masih belum membuka mata namun sudah terlihat bernafas sehingga Liena Sue tidak terlalu khawatir dengan keadaanya.


"Sudah selesai". Ucap Liena Sue setelah selesai membantu berpakaian Dewi Yuna.


Semua orang membuka matanya, mereka terkejut saat mendapati Dewi Yuna yang tengah di pangkuan Liena Sue sangatlah mirip dengan Putri Negara Ba itu. Tetapi tidak dengan Halnya Rong Bai yang sudah tahu pasti di Kehidupan masa lalu.


Tetua Bao dan Tetua Pertama tampak terheran heran juga, Pasalnya Paras mereka seperti sosok kembar Identik hanya Saja Paras Dewi Yuna lebih tua, walaupun Tua dia juga sangatlah cantik.


"Kenapa bisa begitu mirip?". Tanya Tetua Bao.


"Apa kau lupa jika Putri Sue adalah Rengkarnasi Manusia setengah Dewa, Dewi Li Na yang mati bunuh diri ratusan tahun lalu". Sahut Tetua Pertama dengan cepat.


"Astaga aku lupa". Ucap Tetua Bao.


"Tetua, Kenapa Dewi Yuna belum membuka matanya?". Tanya Liena Sue .


"Tunggu sebentar lagi, setelah ratusan tahun Sang Dewi Agung menjadi serpihan jiwa saja jadi wajar jika harus menyesuaikan". Jawab Tetua Pertama.


"Karena Dewi sudah berhasil di bangkitkan, Kalian ku antar keluar dari Dunia ini". Ucap Tetua Bao kepada Bawahan yang ia bawa untuk membantu.


"Baik Tetua". Jawab Mereka Semua.


Tetua Bao pun mengantarkan semua bawahannya, Kecuali Liena serta suami dan Ging Fai yang masih ingin menunggu sang Dewi terbangun.


"Tetua biarkan kami disini, kami ingin melihat Dewi membuka matanya". Ucap Liena Sue.


Sontak tang lainnya segera menghampiri Liena dan Dewi Yuna.


"Baiklah, Kalian boleh menunggu disini". Ucap Tetua Pertama.


Setelah satu jam lamanya, Mata Dewi Yuna pun perlahan bergerak dan membuka dengan sangat perlahan.


Liena yang melihatnya segera memanggil Rong Bai dan yang lainnya yang tengah meminum teh tak jauh dari tempat mereka.


"Ah Rong, Tetua. Dewi sudah membuka matanya". Ucap Liena Sue.