Menjadi Pelayan Pangeran Bupati

Menjadi Pelayan Pangeran Bupati
Tantangan Qiu Mei


Liena Sue terlihat tersipu malu saat bertatapan dengan mata Rong Bai yang penuh kasih.


Dia mencoba menolak Rong Bai yang membuatnya tidur di pangkuannya.


"Ah Rong, jangan seperti ini, nanti orang lain akan menilai kita tidak baik".


"Mereka tengah disibukkan melihat pemandangan bungamu ini Na'er". Jawab Rong Bai dengan lembutnya sambil mengusap rambut hitam Liena Sue dengan lembut.


Degg...


Liena merasa jantungnya berhenti berdetak, Perasaan hangat menjalar di dalam tubuhnya . Baru kali ini ada orang lain selain Ayah Ibu dan sang Kakak yang memanggil namanya dengan nama kesayangan.


"Kenapa wajahmu begitu merah Na'er?". Tanya Rong Bai lagi.


"Ahh Tidak, Sudahlah nanti ada yang melihat kita akan ada dalam masalah". Jawab Liena Sue yang kemudian bangun dari tidurnya .


"Kenapa kau sangat Khawatir Na'er? Bukankah semua ini memang rencana mu?".


"Tapi tidak untuk sekarang Ah Rong".


"Baiklah baiklah, kalau begitu maukah kau mengantarku berkeliling? Aku sudah ketinggalan Rombongan Cukup jauh". Ajak Rong Bai kemudian berdiri sembari mengulurkan tangannya kepada Liena Sue.


"Tentu, tapi jangan terlalu dekat. ".


"Kenapa?". Tanya Rong Bai.


"Pokoknya, kau tidak perlu protes. Ini Tempatku". Ucap Liena Sue Merajuk sembari bersedekap dada.


Dan akhirnya mereka berjalan beriringan untuk mengejar Rombongan Tamu undangan yang sudah jauh meninggalkan mereka.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang tengah menyaksikan keromantisan mereka berdua dengan mengepalkan tangannya karena marah.


"Pantas saja kau tidak pernah menemuiku, ternyata ada Gadis lain yang sudah merebut hatimu. Pangeran Rong, aku akan mendapatkanmu bagaimana pun caranya. Dan untuk gadis itu, aku akan menyingkirkannya secepat mungkin". Gumam Orang itu yang ternyata adalah Wang Feying yang menyamar sebagai seorang pelayan Istana.


Liena Sue berjalan mendahului Rong Bai yang berjalan santai di belakangnya.


"Na'er, kenapa kau berjalan begitu cepat?".


"Kau yang begitu lambat Ah Rong".


Rong Bai pun menggunakan kekuatan Internalnya untuk melayang dan menyamai langkah Liena Sue yang semakin jauh di depannya.


"Kau curang, kenapa kau menggunakan Kekuatan Internalmu Ah Rong?".


" Terlalu lelah berjalan biasa Na'er". Jawab Rong Bai dengan tersenyum .


Liena Sue tidak menanggapinya, Ia terus berjalan hingga menemukan Kelompok tamu yang tadi pergi berkeliling tampak sedang mengerumuni sesuatu .


Liena dan


Rong Bai melangkah memasuki kerumunan untuk melihat apa yang tengah mereka lewatkan.


" Sungguh Keajaiban, Gadis itu sangat berbakat dan mempunyai Kultivasi yang tinggi".


"Ya Benar, di lihat dari kemampuannya pasti dia berada di Tahap Roh Langit puncak".


"Apakah dia dari Negara Ba, Kalau memang iya Sudah Pasti Negara Ba terkenal dengan Kuktivator dengan tahap tinggi".


"Bukan , dilihat dari cara berpakaian dan Giok di pinggangnya. Sepertinya dia dari negara Sheng".


Terdengar suara orang orang yang tengah mengagumi sosok Gadis di atas panggung pertempuran Istana Negara Ba, Membuat Liena semakin penasaran siapa Gadis di atas panggung itu.


"Ada apa ini kenapa ramai ramai Kak Bian?". Tanya Liena Sue yang telah menemukan Bian Sue.


"Entahlah, gadis itu tiba tiba muncul kemudian menantang para tamu undangan untuk bertarung dengannya. Dengar dengar dia dari Negara Sheng, Apa kau mengenalnya Pangeran Zhao Wei?". Tanya Bian Sue kepada Zhao Wei yang berada di depannya


"Sebentar, akan ku amati dahulu". Jawab Pangeran Zhao Wei.


"Negara Sheng? Bukankah hanya anggota kerajaan Yang diundang? Lalu sejak kapan gadis itu kemari?". Tanya Liena penuh dengan pertanyaan.


"Tahap Roh Langit puncak, lumayan untuk Kultivator di Luar Negara Ba ". Gumam Rong Bai yang masih bisa di dengar oleh Liena Sue.


Mereka semua mengamati pertarungan di atas panggung pertempuran, ada yang terkagum dan ada yang biasa saja. Kebanyakan mereka yang kagum adalah orang dari luar Negara Ba, jika orang asli negara Ba mereka semua hanya terdiam tanpa ekspresi apapun.


Karena menurut mereka Putra Mahkota dan Putri Liena lah yang paling berbakat di usia muda, mungkin mereka di takdir kan menjadi Dewa setelah mencapai Tahap Roh tertinggi.


Walaupun begitu, tidak ada satupun orang yang berani mencela ataupun berkomentar buruk.


"Kepada Yang Mulia Kaisar Sue, Izinkan saya menantang Putri pertama anda. Yang Mulia Putri Liena Sue". Ucap Qiu Mei dengan sopan.


"Hahaha, janganlah bertanya padaku. Tanyakan saja dengan Putriku". Jawab Kaisar Sue sambil tertawa.


"Kalau begitu bolehkah saya meminta hadiah jika saya memenangkan pertarungan Yang Mulia?".


"Tentu saja Nona". Jawab Kaisar Sue.


"Jika Saya memenangkan pertarungan, semoga Kaisar berkenan memberikan saya pernikahan".


"Tentu saja Nona".


Tanpa ada yang menyadari , Qiu Mei menyeringai saat akan bertanya kepada Liena Sue.


"Apa yang direncanakan Gadis itu? Hufh , kenapa harus aku yang dipilih". Batin Liena Sue kesal .


"Yang Mulia Putri Liena, Bolehkan aku menantang mu bertarung di atas panggung ini?". Tanya Qiu Mei yang terlihat sopan tetapi di dalam hatinya sangatlah licik.


"Baiklah Nona". Jawab Liena Sue tanpa berpikir panjang.


Sebelum melangkah ke atas panggung, kedua tangan Liena di hentikan oleh Bian Sue dan Rong Bai. Mereka berdua membisikan perkataan yang sama di telinga Liena Sue.


"Berhati hatilah, Dia kelihatannya merencanakan sesuatu". Ucao Bian Sue dan Rong Bai.


"Kalian tenang saja, aku bisa mengatasinya".


Liena Sue pun segera melangkah menuju panggung tanpa mengurangi kewaspadaannya.


"Ingin bermain trik dan sandiwara, baiklah aku akan ikuti alurmu". Batin Liena Sue .


Setelah sampai di atas panggung, Liena pun dengan santainya menyapa Qiu Mei yang sedari tadi terlihat sinis dengannya.


"Salam Nona Qiu Mei,".


"Salam Putri Liena Sue, terimakasih telah menerima tantanganku. Anggap saja seperti pertarungan sungguhan Putri, kau bisa mengeluarkan seluruh kekuatanmu". Ucap Qiu Mei dengan nada sombong nya.


"Kalau begitu aku tidak akan sungkan Nona". Jawab Liena Sue dengan santai.


Qiu Mei oun mengeluarkan Pedang kesayangannya berwarna Kuning , sedangkan Liena Sue mengeluarkan pedang Dua Matanya yang berwarna gradasi antara ungu dan Biru.


Sepintas cahaya hijau menyelimuti pedang Qiu Mei yang perlahan lahan dari samar menjadi semakin kuat.


"Tahap Roh Langit puncak ya, Lumayan". Ucap Liena Sue, berhasil membuat Qiu Meu tidak suka dan menyerang duluan .


Qiu Mei mengeluarkan jurus bayangannya sehingga berhasil mengecoh lawan, Dengan Clone yang cukup banyak serta pedang di tangan masing masing. Mereka satu persatu menyerang Liena secara bertubi tubi tanpa celah sedikitpun.


Awalnya Liena terlihat kwalahan, tetapi lama kelamaan dia pun menjadi semakin lincah dalam mengelak serangan.


Tak mau kalah Liena Sue pun mengeluarkan jurus andalannya yaitu semburan api naga dari mulutnya, sehingga banyak Clone yang lenyap dalam sekejap hingga menyisakan tubuh asli yang tengah terengah engah.


"Ternyata kau hebat Putri, aku meremehkanmu". Kata Qiu Mei.


"Kalau begitu menyerahlah Nona".


"Tidak akan, aku tidak akan menyerah Putri".


Qiu Mei pun segera bangkit dan bersiap memasang kuda kuda lagi untuk mulai menyerang.