
Liena Di dalam Dunia Giok Surgawi....
"Baihu, memang ada Perpustakaan di Dunia ini?". Tanya Liena Sue.
"Ada, dan kata Burung Hitam itu kau bisa memasukinya. Di sana terdapat buku buku langka bahkan buku dari para Dewa di atas sana". Jawab Bai Hu.
"Kalau begitu antarkan aku".
"Baik Nona".
Mereka pun segera berjalan melewati hutan yang berisi beraneka ragam buah, lalu terlihatlah tanaman rambat yang sepertinya menutupi mulut Goa. Baihu berhenti di depan tanaman rambat itu kemudian mengetuknya tiga kali.
Betapa ajaibnya ketika Baihu selesai mengetuk tiga kali, Tanaman itupun menyingkir dengan sendirinya. Hingga terlihatlah Mulut Goa yang di depannya tidak terlalu panjang, atau tepatnya swperti pintu masuk ke sebuah Mansion.
"Ternyata ada bangunan seperti ini ya". Gumam Liena Sue.
"Aku juga baru mengetahui belum lama ini Nona".
"Lalu dimana Perpustakaan itu?". Tanya Liena Sue.
"Sebelah barat Nona, ". Jawab Baihu.
"Dewi... Dewi... ". Terdengar suara kecil dari balik pilar.
"Siapa Disana?". Tanya Liena Sue.
"Ini Aku Phoenix Merah, Baihong". Ucap Burung Hitam yang kemudian bertengger di bahu Liena Sue.
"Kau mengagetkanku saja".
"Maaf Dewi, Ehh.. sudah lama Dewi tidak memasuki Dunia ku. Sekarang kemari apakah ada sesuatu Dewi?" . Tanya BaiHong.
"Yahh, Aku ingin ke perpustakaan mu untuk mencari Buku Surgawi yang berwarna biru muda. Bisakah kau pimpin jalan?".
"Tentu saja Dewi, aku akan mengantarmu. Baihu kau bisa pergi sekarang".
"Baiklah Kalau begitu Baihu pergi Dulu Nona". Ucap Baihu.
"Baik, terimakasih oke".
Baihong pun segera mengarahkan Liena Sue ke perpustakaan yang di maksud, ia merapal mantra hingga pintu besar perpustakaan pun segera terbuka.
Terlihat buku buku tersusun rapi dengan Rak yang begitu banyak, Liena Sue meneguk ludahnya karena melihat ribuan buku di depannya.
"Astaga.. kenapa banyak sekali,.. Bagaimana aku akan menemukan dengan cepat jika banyak buku seperti ini". Ucap Liena Sue menggerutu.
"Dewi, kau bisa menggunakan darahmu untuk mencari buku yang kau maksud". Sahut Baihong.
"Lalu, bagaimana caranya?". Tanya Liena Sue.
"kau ambil sediki darah dan masukkan ke cangkir perak ini , setelah itu tinggal kau sebutkan buku yang seperti apa yang ingin kau cari Dewi". Jawab Baihong.
"Baiklah akan kucoba".
Liena Sue pun mengambil cangkir perak do depannya, kemudian melakukan seperti apa yang di katakan oleh Baihong. Setelah selesai ia menyebutkan buku yang ia ingin cari, dan tak lama kemudian Sekitar sepuluh buku yang hampir mirip berterbangan menuju Liena Sue yang kemudian segera tertata rapi di meja perpustakaan.
"Ternyata masih banyak yang mirip". Gumam Liena Sue.
"Dewi tenang saja, hanya sepuluh buku. Setiap buku mempunyai judul di sebalik sampul, jadi kau bisa memilah dari judulnya saja". Jelas Baihong.
"Baiklah, aku akan memulainya". Jawab Liena Sue.
Liena memulai membuka satu persatu buku yang sudah tertata rapi di atas meja, ia membuka dan membaca setiap judul dengan teliti. Hingga satu buku terakhir yang membuat ia penasaran, Buku itu tidak bisa di buka karena ada Kunci di sampul bukunya .
"Baihong, kenapa buku ini terkunci?". Tanya Liena Sue .
"Coba kulihat Dewi, emmm sepertinya memang terkunci". Jawab Baihong.
"Apa kau punya cara membuka kuncinya?". Tanya Liena Sue lagi .
"aku tidak tahu Dewi, karena aku hanya menjaga dan tidak pernah membuka buka buku yang terkunci seperti ini". Jawab Baihong merasa bersalah.
Liena Sue pun duduk, sembari mengusap usap buku itu sambil memikirkan cara membukanya. Tak sengaja jari itu terkena ujung runcing dari kunci itu dan mengeluarkan darah, Darahnya menetes di atas buku. Tanpa di duga setelah darah itu menetes, buku itupun tiba tiba melayang dan mengeluarkan cahaya biru muda.
"Baihong kenapa dengan buku itu?".Tanya Liena Sue
"Sepertinya Darah Dewi bisa membuka kunci di buku itu". Jawab Baihong.
"Benarkah?". Ucap Liena senang.
"Coba Buka Dewi".
"Baiklah, aku akan membukanya".
Liena Sue kembali duduk dan membuka buku biru terakhir itu, dan akhirnya buku yang ia cari kini sudah di tangannya. Hanya saja ia tidak paham dengan tulisan yang berada di buku itu sehingga ia menutup kembali buku tersebut.
"Kenapa di tutup?". Tanya Baihong.
"Aku hanya paham judulnya saja, tapi tidak dengan isinya...". Jawab Liena Sue.
"Bagaimana kalau kau buka kembali Dewi".
"Kenapa harus di buka lagi?".
"Sudahlah buka saja,".
Liena Sue pun membuka kembali buku itu, alangkah anehnya huruf huruf aneh yang tadi kini menghilang menjadi bahasa biasa dan bisa di mengerti oleh siapapun.
"Hurufnya berganti, Hebat". Ucap Liena Sue.
"Kalau begitu ambillah Dewi, sepertinya teman temanmu menunggumu".
"Baiklah Baihong Terimakasih, bisakah kau mengantarku keluar?".
"Tentu saja, Dewi tidak perlu keluar menuju kolam jika ingin keluar dari Dunia ini, cukup usap kepalaku tiga kali saja".
Liena Sue mengusap tiga kali kepala Baihong hingga akhirnya ia kembali ke tempat dimana kakak dan kekasihnya tengah berbincang.
"Na'er, Bagaimana?". Tanya Bian Sue.
Liena Sue tidak menjawab namun ia menunjukkan buku yang ia bawa. Kai Yuwen terlihat terkejut pasalnya rumor buku itu hanya berada di perpustakaan Dewa Takdir tetapi kini malah berada di tangan Liena Sue dengan mudah.
"Darimana kau mendapatkannya Liena?". tanya Kai Yuwen.
"Sudah kubilang kan aku akan mendapatkan dengan mudah, tidak perlu tahu darimana sekarang kita cari segel yang kau maksudkan kakak".
"Baiklah, kemarikan buku itu".
"Ini".
"Ehh sudah di buka kuncinya? bagaimana kau tahu cara membukanya ?". Tanya Kai Yuwen.
"Aku tidak sengaja melukai tanganku dan darahnya menetes ke buku ".
"Pantas saja, hanya darah Dewa yang bisa membuka Buku ini".
Kai Yuwen pun mengangguk kemudian segera membuka buku itu, ia mencari dari lembar satu ke lembar berikutnya.
"Ini dia.. sudah ketemu". Ucap Kai Yuwen .
Liena Sue dan yang lainnya kini berkumpul mendekati Kai Yuwen dan ikut membaca isi dari buku itu.
" Kita hanya butuh Bulu Naga Hijau dan serpihan Giok darah".
"Memang Naga punya Bulu?". Tanya Liena dan Bian Sue saling berpandangan.
"Aku tahu dimana Naga hijau berbulu itu, itu terletak di Bukit Tunarsana . Itu peliharaan Tetua Bao". Sahut Rong Bai.
Mendengar Bukit tunarsana dan Tetua Bao , Liena jadi teringat dengan Tetua hebat yang sangat ingin ia temui.
"Benarkah? Apa kau tahu di mana letaknya?". Tanya Liena Sue.
"Tahu, Aku pernah sekali ke sana Na'er". Jawab Rong Bai.
"Baguslah kita sudah menemukan satu bahan, hanya tinggal Giok darah yang belum tahu tempatnya". Sahut Kai Yuwen.
"Sepertinya aku pernah mendengar Giok itu, sebentar aku ingat ingat dulu..... Nah ketemu, Kakak bukankah pasar Lelang akan melelang Giok Darah?". Tanya Liena Sue.
"Pasar Lelang Yang Mana?". Tanya Bian Sue yang tidak paham.
"Lelang Tengah malam yang berada di Bawah Rumah Bordil tengah kota". Jawab Liena Sue.
"Ya aku ingat, memang benar malam ke lima belas nanti di sana akan mengadakan pelelangan Giok darah".
"Malam Lima belas, itu berarti besok malam". Sahut Rong Bai.
"Baiklah, kita harus ikut pelelangan besok malam". Ucap Kai Yuwen dan Liena Sue hampir bersamaan.