
Qiu Mei pun diam diam menyimpan sesuatu di tangan kirinya, dia menyimpan dengan baik sehingga tidak bisa di lihat oleh Liena Sue..
Seringai kecil kembali muncul di wajah Qiu Mei.
"Aku akan menghancurkan mu, dan Aku akan menjadi Istri Pangeran Bupati Rong Bai J*L*ng". Batin Qiu Mei.
Qiu Mei memulai serangan lagi, dengan tangan kanannya mengayunkan pedang yang sudah dialiri kekuatan Internalnya.
Setelah sampai tepat di dekat wajah Liena, tiba tiba Qiu Wei melemparkan bubuk ke depan Wajah Liena sehingga Liena terhuyung kebelakang.
Rong Bai yang merasakan hal yang tidak beres ingin membantu Liena di atas panggung, akan tetapi di hentikan Liena dengan memberi isyarat tangannya.
"Ck, kau ingin berbuat Licik. Kalau begitu lihat akibatnya". Ucap Liena Sue yang kemudian bersiap menyerang Qiu Mei.
Liena Sue memejamkan matanya dan meletakkan Pedangnya di depan dadanya, dia memfokuskan kekuatannya ke seluruh tubuhnya.
Qiu Mei yang melihat ada kesempatan saat Liena memejamkan matanya kini kembali menyerang dengan kekuatan penuh, serta menyiapkan senjata tersembunyi di balik lengannya.
"Ck, cari mati . Pangeran Zhao Wei lebih baik kau hentikan gadis itu sebelum dia mati atau cacat". Bian Sue memperingatkan Putra Mahkota Negara Sheng agar memberi peringatan Qiu Mei.
"Biarkan saja, toh dia yang mengawali semuanya". Jawab Zhao Wei dengan santai.
" Kenapa dia memejamkan matanya, dan lihatlah Qiu Mei dia mulai kelelahan. Walaupun menyerang bertubi tubi tapi tidak ada satupun yang mengenainya". Ucap Tamu lain yang berada di dekat arena pertarungan.
"Putri Kami akan menerobos". Ucap salah satu Bangsawan dari Negara Ba.
"Apa?!! Bagaimana bisa dalam bertarung dia akan menerobos?".
Qiu Mei yang mendengar dari para tamu jika Liena Sue akan menerobos dia menghentikan serangannya.
"Ck, kau akan menerobos Putri. Tidak akan ku biarkan". Gumam Qiu Mei yang kemudian mengeluarkan Aura mengerikan membuat Para tamu terkejut kemudian berangsur mundur.
"Kultivator jahat, tidak mungkin... Kenapa Negara Sheng masih mempunyai Kultivator Jahat". Gumam Rong Bai.
"Yang Mulia Kaisar, sebenarnya anda menghentikan pertarungan ini. Jika terjadi dari Tuan Putri ...".
"Tidak perlu, Putriku bisa mengatasinya". Jawab Kaisar Dengan santai, sehingga membuat tamu yang awalnya khawatir kini sedikit lega.
"Kau harus mati, dan aku akan melahap Jiwamu.. Rasakan ini!!!!". Teriakan Qiu Mei yang sudah di selimuti Aura berwarna hitam, dengan wajah yang semakin menyeramkan.
Qiu Mei meluncurkan serangannya menggunakan telapak tangannya yang sudah di selimuti asap hitam sehingga menjadi bola hitam sedang yang kini di tujukan ke jantung Liena Sue.
Tepat setelah akan menyentuh dada , Liena membuka matanya yang sudah berubah berwarna Kuning emas diiringi suara ledakan dari tubuhnya tanda ia menerobos.
Liena Sue memblokir serangan Qiu Mei dengan telapak tangannya dengan tenang tanpa ekspresi apapun.
"Kau harus mati , J*L*ng!!!". Teriak Qiu Mei yang suaranya sudah berubah menjadi menyeramkan.
Duarr...
Terdengar ledakan dan terlihat asap tebal di arena pertempuran, hingga menutupi jarak pandang Para tamu yang akan menonton.
Bian Sue terlihat mencari cari sang adik, berharap Dia memenangkan pertempuran ini. Begitupun Rong Bai dan Kaisar yang sama khawatirnya dengan Liena Sue .
Para tamu undangan yang berada di tempat kejadian pun juga terlihat bertanya tanya, bagaimana nasib kedua Gadis yang berada di tempat pertempuran.
Hingga akhirnya Asap tebal itu tiba tiba menghilang , hingga memunculkan dua sosok gadis yang satunya masih berdiri dan satu gadis tengah terkapar di depan gadis yang berdiri itu.
"Sudah ku duga, Tuan Putri Kita menang". Sorak seorang dari kerumunan.
"Na'er, Akhirnya kau memenangkannya". Teriak Bian Sue .
Rong Bai dan Zhao Wei serta Pangeran Silas dengan bersamaan menghampiri Liena Sue yang masih berada di panggung pertempuran.
Liena Sue yang masih berdiri mematung tidak menyadari kedatangan tiga pria dari berbagai arah tersebut, Hingga akhirnya ia merasakan matanya yang tiba tiba berat. Dan Brugg....
Tepat pada pelukan ketiga Pria tampan yang berada di kanan kiri dan belakang Liena.
Mereka bertiga terlihat saling melempar pandangan mematikan satu sama lain.
"Kalian minggirlah, dia adalah tunanganku". Ucap Pangeran Silas.
"Ck, kalian yang minggir Putri ini adalah calon permaisuri Negara Sheng".
"Jangan berharap, Kau harusnya tahu dia di jodohkan denganku". Elak Silas.
"Apa kau tidak malu, ingin bertunanngan dengan Putri cantik ini? Bukankah kau melakukan banyak kesalahan seperti kejadian tadi dari ibumu itu". Ejek Zhao Wei.
"Kau!!! Jangan ikut campur.. Cepat kalian minggirlah".
Silas dan Zhao Wei terlihat cekcok satu sama lain, sehingga Rong Bai menggunakan kesempatan untuk menggendong Liena dan membawanya pergi dari tempat itu.
Rong Bai segera pergi di bantu oleh Mark dengan cepat menuju Kamar Liena Sue tanpa menghiraukan kedua orang yang masih berdebat di tempat pertempuran.(Karena Rong Bai masih menggunakan Kursi Roda, dan belum berniat menunjukkan kesembuhannya)
Hingga Pangeran Silas dan Zhao Wei baru menyadari bahwa mereka asik berdebat tanpa menyadari Rong Bai dan Liena Sue sudah tidak ada di sana.
"Semua karena mu". Ucap Zhao Wei dengan dingin.
"Kau,, kau tang mulai". Jawab Pangera Silas yang juga tak mau mengalah.
"Sudahlah, aku akan pergi menemui calon Permaisuri ku.. Kau janganlah mengganggu". Zhao Wei pun meninggalkan Pangeran Silas dan menuju Ke Istana Anggrek tempat Liena Sue berada.
"Hei tunggu, Aku ikut...". Teriak Silas yang akhirnya memilih mengikutinya.
Rong Bai meletakkan tubuh Liena ke atas ranjang empuknya, kemudian meminta pelayan untuk memanggil Tabib kekaisaran untuk mengecek kondisi Liena saat ini.
Tak lama kemudian Tabib segera tiba begitupun Zhao Wei dan Silas.
Tabib Pun memeriksa kondisi Sang Putri dengan penuh hati hati, hingga ia bisa bernafas lega saat mengetahui Sang Putri baik baik saja.
"Yang Mulia, Putri Liena baik baik saja, hanya kelelahan karena memaksakan mengeluarkan seluruh kekuatannya . Karena segel yang berada di dalam tubuhnya, jadi membuat dia begitu kelelahan" . Jelas Tabib.
"Segel? mengapa kekuatannya di segel?". Tanyq Zhao Wei.
"Itu adalah rahasia Negara Ba Yang Mulia". Jawab Tabib kemudian memilih pergi dari sana.
"Pantas saja, aku tidak bisa melihat di tahap mana yang ia capai". Batin Rong Bai.
"Rong Bai, kenapa kau dekat sekali dengan Jodohku?". Tanya Pangeran Silas.
"Dia pelayanku". Singkat Rong Bai.
"Pelayan? Pelayan dari mana? bukankah dia seorang Putri?". Tanya Pangeran Silas.
"Sudahlah, kalian pergi saja. Biarlah Na'er istirahat. Dan Kau Silas, belum tentu Ayah akan menjodohkanmu dengannya. Aku tidak akan membiarkannya". Ucap Rong Bai yang kemudian berlalu kekuar dari Kamar Liena.
Pangeran Silas menahan amarahnya ketika mendengar ucapan Rong Bai, dia hanya bisa mengepalkan tangannya. Karena tidak mau gegabah seperti Sang Ibu.
Zhao Wei pun mengikuti Rong Bai yang sudah keluar kamar, berniat ingin membicarakan suatu hal dengan Pangeran Bupati Negara Gu tersebut.
Silas mau tak mau juga harus meninggalkan Liena untuk beristirahat sendiri. Karena ia tidak mau menimbulkan masalah yang bisa menyebabkan gagalnya perjodohan.