
Tetua Pertama kini melesat menuju dimana Liena Sue berdiri, ia juga mengeluarkan pedang salju kesayangannya .
Sedangkan Rong Bai kini merasa ada yang janggal dengan para Kultivator jahat itu, ia memerintahkan Mark untuk pergi menyelidikinya.
"Mark, kemarilah". Panggil Rong Bai.
"ya Yang Mulia"
"Coba kau lihat cahaya ungu di ujung formasi, coba kau awasi dan cari informasi secepat mungkin. Ada sesuatu yang aneh".
"Baik Yang Mulia". Jawab Mark.
Para Mayat hidup itu semakin mendekat, banyak diantara mereka lebih memilih mendekat agar lebih cepat meghabisi mereka daripada harus menunggu di tempat yang mana banyak para warga di antaranya.
Liena Sue dengan gesit melawan para Mayat hidup tanpa ekspresi apapun.
Semakin mereka banyak membunuh Mayat hidup itu semakin banyak pula yang berdatangan. Banyak diantara mereka yang kuwalahan dan kelelahan, Liena harus berpikir solusi secepat mungkin.
"Nona Liena , sepertinya Mayat hidup itu semakin banyak yang berdatangan". Ucap Qiu Bin.
"Kau benar Qiu Bin, ....Ughhh".
Sebelum menyelesaikan kalimatnya Liena mendapat serangan telak dari salah satu mayat hidup bertubuh besar, sehingga ia terpental menabrak dinding rumah warga.
Rong Bai yang melihatnya segera berlari ke tempat Liena Sue.
"Kau tidak papa Na'er?". Tanya Rong Bai
Liena Sue hanya menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk bangun . Qiu Bin pun juga datang tak lama kemudian.
"Nona Liena kau tidak papa?". Tanya Qiu Bin.
Sebelum Liena menjawab Qiu Bin, rong Bai terlebih dahulu memberikan tatapan membunuh kepada Qiu Binkemudian ia memapah Liena menuju Formasi pelindung.
"Ck, memangnya siapa dia.. Bukan Suaminya kan..". Gumam Qiu Bin dengan sinisnya.
Qiu Bin segera kembali ke medan pertempuran sedangkan Liena Sue kini tengah memulihkan diri bersama Rong Bai di dalam Formasi pelindung.
Saat memejamkan matanya tiba tiba Liena kehilangan kesadaran. Rong Bai terlihat mengguncang tubuh Liena yang sudah lemas , karena tidak ada jawaban Rong Bai menidurkannya dilantai untuk mentransferkan energi internalnya.
"Tuan Muda, Biarkan aku membantumu". Ucap seorang warga paruh baya di antara kerumunan.
"Apa Kau bisa Paman?". Tanya Rong Bai sedikit ragu.
"Keluarga kami adalah seorang alkemis, dan saya adalah Dokter pribadi Walikota Suwan. Jadi biarkan saya menolong Nona itu".
"Baik Paman, mohon periksa dia". Ucap Rong Bai memberi jalan paman itu untuk meriksa.
Paman itu memegang pergelangan tangan Liena Sue untuk memeriksanya, alangkah terkejutnya saat mengetahui detak nadinya yang semakin melemah.
"Tuan Muda, sepertinya Nona ini terkontaminasi racun dari Mayat hidup itu. Jika kita tidak menyegel penyebaran racun, Nona ini akan menjadi Boneka seperti Mayat hidup di luar sana...". Jelas Paman itu dengan ragu.
"Lalu apakah ada cara untuk mencegahnya?".
" Herbal yang di butuhkan sangatlah langka, dan beberapa Herbal itu tidak ada di Kota Suwan. Tuan Muda, sepertinya anda harus bertanya kepada Pak Tua Jun Li. Dia dulu juga Kultivator jahat, siapa tahu dia bisa membantu".
"Baik Paman, tolong tetap disini aku akan bertanya pada Tetua Jun Li".
"Baik Tuan Muda".
Rong Bai Pun tanpa berpikir panjang segera mendekati Pak Tua Jun Li untuk menanyakan apa yang di beritahu paman tabib tadi.
"Tetua Jun Li,".
"Aku tahu apa yang akan kau tanyakan, kau tenang saja. Nona Liena adalah Gadis pilihan , darahnya adalah darah turunan Dewa murni jadi hanya menunggu beberapa waktu untuk pulih kembali. Ini berikan pil penyembuh tingkat empat maka selebihnya dia bisa melakukan sendiri". Jelas Pak Tua Jun Li.
Rong Bai segera kembali ke tempat Liena kemudian meminumkan oil yang ia dapat dari Pak Tua Jun Li, setelah berhasil di minumkan Liena Sue kembali di baringkan dan menunggunya sampai sadar.
Di alam bawah sadar Liena Sue....
Terlihat dunia yang serba putih, dari tanah langit dan tumbuh tumbuhan yang semuanya putih.
Liena Sue yang juga berpakaian putih kini tengah berada di tengah tengah dunia serba putih itu, ia terlihat sedang kebingungan.
Liena mencoba menyususuri sungai putih untuk mencari ujung sungai tetapi sungai putih itu seperti tidak ada ujungnya.
Dia kini memilih berhenti dan duduk di batu besar tepi sungai , Tanpa sengaja ia mendongak ke dalam air. Terlihat wajah yang sama tetapi dengan penampilan yang berbeda,ada sebuah tanda berwarna putih di dahinya.
"Bagaimana kabarmu Putri". Terdengar suara paruh baya yang tiba tiba muncul di hadapannya.
"Siapa kau?". Tanya Liena Sue yang sedikit kaget.
" Chun Bai". Singkatnya.
"Chun Bai, apa kau bermarga Bai?". Tanya Liena.
"Bukan, aku tidak mempunyai Marga. Aku berdiri sendiri, Tubuh Paruh baya ini hanya sebagai wadah. Aku adalah sebuah segel yang berada di dalam tubuhmu".
"Segel? Aku tidak mengerti, kenapa sosok manusia sepertimu adalah sebuah segel". Dahi Liena Sue pun berkerut tidak memahaminya.
"Kau akan tahu ketika saatnya segel itu terbuka, dan hari ini waktunya untuk menyingkirkan Segelnya Putri".
"Lalu bagaimana cara agar bisa membukanya?". Tanya Liena Sue.
"Cukup teteskan darahmu ke sungai Putih di sampingmu itu Putri, ketika semuanya sudah berhasil tercampur maka aku akan menghilang. Tanda segel di tubuhmu akan benar benar terbuka". Jelas Chun Bai.
"Tapi bisakah kau menjelaskan terlebih dahulu apa yang terjadi?". Tanya Liena Sue.
"Aku tidak bisa menjelaskan secara menyeluruh, hanya saja aku bisa memberi tahu tentang intinya Putri".
"Kalau begitu cepat jelaskan".
"Semua yang serba putih ini adalah tanda dari Darah Dewa yang murni ". Singkat Chun Bai
"Jadi memang benar aku keturunan Dewa". Ucap Liena Sue.
"Yah bisa jadi seperti itu Putri, tapi kau hanya manusia setengah dewa jadi tidak abadi".
Liena Pun mengangguk paham dengan apa yang dikatakan Chun Bai kepadanya.
Di saat ia tengah larut dalam fikiran nya tiba tiba terdengar suara orang yang begitu familiar, Suara Rong Bai yang tengah memanggil namanya berkali kali sehingga ia baru sadar bahwa ia bukan di dunia sebenarnya.
"Rong Bai". Gumam Liena Sue.
"Cepat teteskan darahmu Putri, sebelum sungainya mengering dan kau tidak akan pernah kembali". Ucap Chun Bai yang sama khawatirnya.
"Baik". Liena segera menggigit jarinya hingga berdarah kemudian meneteskan darahnya ke sungai putih yang hampir sepenuhnya kering.
"Kenapa tiba tiba sungainya akan kering?".
"Itu karena tubuh fanamu dalam masa kritis". Ucap Chun Bai yang separuh badannya menghilang.
Liena Sue menoleh kembali ke arah sungai yang kembali terisi airnya seiring Chun Bai menghilang, Dunia yang awalnya berwarna serba putih kini berubah menjadi berwarna seperti alam yang damai.
Setelah itu tiba tiba di atas langit ada sebuah cahaya yang kemudian terbukalah pintu besar dengan tangga menuju tempat Liena Sue berada.
"Pergilah Putri, itu adalah jalan keluarnya". Suara Chun Bai menggelegar di alam berwarna itu.