Menjadi Pelayan Pangeran Bupati

Menjadi Pelayan Pangeran Bupati
Menyambut tamu


Kediaman Jendral Wang...


Wang Feying merasa sangat kesal pasalnya sudah lima kali ia ikut sang ayah masuk kedalam Istana tetapi tidak bertemu dengan Rong Bai sama sekali, malahan ia selalu bertemu Pangeran Silas yang amat ia benci itu.


Prankkk..


"Agghh menyebalkan, Kemana kau berada Rong Bai". Teriak Wang Feying sembari melempar apapun ke lantai.


"Nona, tolong bersabarlah. Sudah lama anda tidak keluar kediaman, jadi mungkin Yang Mulia pindah ke tempat lain". Ucap Fafang pelayan Wang Feying.


"Kalau begitu kau cari Informasi dimana Rong Bai sekarang". Perintah Wang Feying.


"Baik Nona".


Setelah Pelayan Fafang pergi, Wang Feying kembali ke meja Rias untuk berias dengan pelayan yang lain. Ia ingin mengunjungi Rong Bai hari ini ketika dia sudah mengetahui dimana Pujaan Hati nya itu.


"Nona, Sarapan anda sudah siap. Tunggulah kabar Fengfeng dengan memakan sedikit bubur ini Nona".


"Letakkan di situ, aku akan memakannya". Perintah Wang Feying dengan malas.


Karena Pelayan itu tidak kunjung meninggalkannya, mau tidak mau dia harus memakan bubur di depannya dengan malas.


"Kenapa Kau lama sekali Fengfeng". Gerutu Wang Feying dalam hati.


Setelah suapan terakhir Fengfeng pun tiba dengan tergopoh gopoh memasuki kamar Wang Feying.


"Nona,. Nona....".


"Duduklah dan katakan perlahan".


"Baik Nona". Ucap Fengfeng yang masih naik turun nafasnya.


"Yang Mulia Pangeran Bupati sudah beberapa bulan tinggal di istananya sendiri dekat alun alun kota, Akan tetapi saat ini Yang Mulia beserta para pangeran sedang dalam perjalanan Ke Negara Ba untuk menghadiri Ulang tahun Kaisar Negara Ba". Jelas Fengfeng Panjang lebar


"Huhh pantas saja, setiap aku ikut Ayah ke istana dia tidak ada. Fengfeng bilang dengan Ayahku, aku akan pergi Ke Negara Ba". Ucap Wang Feying .


"Tapi nona, untuk apa anda kau ke Negara Ba?".


"Untuk menyusul Pangeranku Fengfeng!!". Jawab Wang Feying dengan kesalnya.


"Tapi Nona, tidak mungkin Jendral Wang akan mengijinkanmu".


"Aku tidak mau tahu, apapun hasilnya aku akan tetap ke Negara Ba".


Fengfeng mau tidak mau menjalankan perintah sang nona nya itu. Ia memberanikan diri untuk berbicara dengan Jendral Wang yang kini tengah berkutat dengan dokumen di Ruang kerjanya.


Setelah mengutarakan perintah Sang Nona kepada ayahnya, Jendral Wang pun mengijinkannya hanya saja dia harus diawasi oleh penjaga bayangan Sang Ayah.


Wang Feying kini tengah berjalan kesana kemari karena cemas dan penasaran hasil dari Fengfengnya. Hingga yang di tunggu tunggu pun tiba .


"Bagaimana?". Tanya Wang Feying antusias.


"Anda di izinkan Nona, hanya saja pengawalan


tetap akan dilakukan. Tapi Nona, Ulang tahun Kaisar Negara Ba akan berlangsung dua hari lagi. Dan Para tamu pasti hari ini sudah sampai di sana, lalu apakah kau bisa menyusulnya Nona?". Tanya Fengfeng cemas.


"Tidak masalah, dan kita ke sana akan menggunakan Binatang Rohku agar lebih cepat. Mungkin hanya butuh satu hari kita sampai".


"Tapi Nona, jika kita menggunakan Binatang Roh bukankah akan mengundang banyak pasang mata?".


"Kau tenang saja Fengfeng, Binatang Rohku adalah Elang Hitam. Dan kita akan pergi di malam hari, maka tidak ada orang yang akan melihat kita". Ucap Wang Feying dengan senyum penuh rencana.


"Baiklah Nona, kalau begitu aku akan mempersiapkan semuanya".


"Tentu, lakukan . Kita akan berangkat nanti malam".


....


Di Istana Kekaisaran Negara Ba kini tengah disibukan oleh ratusan pelayan yang tengah mendekorasi Istana yang sudah delapan puluh persen jadi.


Dari segi Keamanan, Keramahtamahan , Keadilan adalah ciri Khas Negara Ba.


Satu persatu tamu dari berbagai negara telah sampai dua hari sebelum acara. Ada yang membawa seluruh keluarga, ada yang hanya perwakilan, dan ada yang hanya para pangeran yang tiba.


Liena Sue yang kini tengah berdiam diri di kamarnya terkejut saat Yuri dengan tergesa gesa memasuki kamarnya.


"Yang Mulia Putri, para tamu sudah banyak yang datang. Yang Mulia Kaisar memanggilmu untuk menyambut para Tamu Undangan". Ucap Yuri sambil mengatur nafas.


"Dandani aku, dan pilihkan baju yang cocok. Ingat jangan terlalu mencolok".


"Baik Putri".


Yuri dengan cekatan memilih pakaian yang cocok untuk sang Putri. Warna peach, warna lembut dengan motif Bunga Tulip yang menggunakan benang emas. Walaupun warna yang tidak terlalu mencolok tetapi masih terlihat mewah.


Yuri menyanggul separo rambut Liena, dengan menggunakan hiasan Pita sutra kelas atas di tambah mahkota kecil di tengah sanggulnya.


"Selesai Putri, Lebih baik kau segera bergegas". Ucap Yuri setelah selesai merias Liena Sue dengan riasan Tipis.


"Terimakasih"..


Karena Istana Anggrek dengan Gerbang utama Istana terletak cukup jauh dan membutuhkan sekitar sepuluh menit berjalan, Liena Sue berniat untuk berteleportasi. Dia mencari tempat yang sepi dan sunyi untuk melakukan teleportasi.


Setelah sampai di dekat gerbang, Liena pun segera bergabung dengan Saudara saudaranya dan Putra Mahkota yang ternyata sudah pulang dari perbatasan.


"Kakak Bian, Kapan kau Pulang? Huh tidak mengabariku". Ucap Liena sembari memanyunkan bibirnya.


"Tadi Pagi Tuan Putri". Jawab Bian Sue sembari mencubit bibir lucu adiknya.


"Kakak kedua, kau jahat. Kenapa hanya Kakak Bian yang kau ingat, bagaimana dengan Kami?". Ucap Pangeran Ruo Sue adik ketiga .


" Heheh, kalian apa kabar.. Uhh aku merindukan kalian". UCap Liena Sue sembari merentangkan tangannya dam memanyunkan bibirnya, sehingga membuat saudaranya tertawa melihat tingkah saudaranya itu.


Rombongan dari Negara Sheng kini telah memasuki Istana, Di dalam gerbong terlihat putra mahkota dari Negara Sheng yang tengah mengamati Liena Sue sedari ia memasuki Gerbang.


Wajah Tampan Putra Mahkota Negara Sheng membuat para wanita yang melihatnya histeris saat dia menyibak tirai keretanya.


"Siapa Gadis lucu itu?". Tanya Putra Mahkota Negara Sheng dengan saudaranya di dalam kereta.


"Bukankah dia Putri Negara Ba, dan di sampingnya adalah para Pangeran Dan Putri dari Negara Ba juga". Ucap Sosok laki laki yang berada di dalam kereta(Saudara).


"Menarik". Singkat Putra Mahkota Negara Sheng dengan senyum penuh damba.


"Apa Kau tertarik dengan Putri itu ?".


"Yahh sepertinya, dia keindahan yang tidak di buat buat. Lihatlah tingkahnya yang sangat berbeda dari para putri bangsawan ".


"Kau benar, mungkin kau bisa meminta pernikahan dengan Ayah jika kita pulang nanti" . Ucap Saudaranya.


Liena yang sedari tadi merasa di perhatikan , ia pun mencoba melihat orang yang tengah memperhatikannya sedari tadi.


"Kakak Bian, itu rombongan dari mana? Dan siapa itu yang senyum senyum denganku?". Tanya Liena Sue.


"Ohh, itu adalah Putra Mahkota dari Negara Sheng. Apa Kau tertarik dengannya? Kurasa dia tertarik denganmu?". Ucap Bian Sue .


"Tidak tidak, aku tidak tertarik. Yah walaupun dia tampan. Masih tampan seseorang".


"Kalau begitu, Putra Mahkota itu untukku ya kak". Sahut Adik Keempat Putri Jili Sue.


"Ambil ambil Adik keempat". Ucap Liena dengan sembrono.


Setelah rombongan dari Negara Sheng tiba, tak lama kemudian tibalah Rombongan dari Negara Gu tiba.


Deggg....


Jantung Liena Sue tiba tiba berlomba saat mendengar Kasim memberitahukan bahwa Dari Negara Gu telah tiba.