
Setelah teh di sajikan mereka bertiga memulai berbincang satu sama lain.
Rong Bai menceritakan Masa lalunya setelah pindah ke Negara Gu, Liena dan Bian Sue menjadi pendengar yang baik sembari memakan camilan yang di sajikan.
"Lalu siapa yang akan dijodohkan dengan adikku Rong Bai?". Tanya Bian Sue.
"Kakaku Silas,". Jawab Singkat Rong Bai.
"Bukankah kau menolaknya Liena, lalu apa rencanamu?". Tanya Bian Sue kepada Adiknya .
"Apa kau ingin tahu Kakak?". Tanya Liena Sue yang kini bergantian menggoda Bian Sue.
"Iya".
"Kemarilah, dekatkan telingamu. Aku tidak ingin semua terbongkar sebelum memulai".
Bian Sue pun mendekatkan telinganya dengan serius, tetapi Setelah Telinganya dekat , Liena malah berteriak dengan kencang hingga membuat Bian Sue otomatis menutup kupingnya.
"Kauu,,,,, Awas kau ya Na'Er". Geram Bian Sue sambil mengusap kupingnya yang sakti karena teriakan Liena.
"Hahahahah,, kau lucu kak". Liena Tertawa terbahak bahak saat melihat Kakaknya menderita.
Bian Sue pun menggerutu melihat kejailan sang adik, Sedangkan Rong Bai kini tengah menikmati kedekatan bersaudara di depannya.
"Baik baik, sekarang aku serius. Aku akan memberitahumu rencanannya". Ucap Liena kemudian.
Liena Sue dengan serius memberitahukan Rencananya dengan memelankan suaranya , sehingga hanya mereka bertiga yang mengetahui Rencana Liena.
"Baiklah ,aku akan ikuti rencanamu Na'er". Ucap Bian Sue kemudian.
Mereka pun berbincang satu sama lain tanpa ada yang mengetahui jika Putra Mahkota Sheng kini tengah berdiri di pinggir kolam dekat Gazebo, sehingga ia mendengar sedikit perbincangan Hangat ketiganya.
"Jadi dia akan dijodohkan dengan Silas dari Negara Gu, tetapi menolaknya. Menarik, aku punya kesempatan untuk mendekatinya". Batin Zhao Wei.
"Apakah aku boleh bergabung?". Tanya Zhao Wei.
"Kau Putra Mahkota Negara Sheng ya, kemarilah bergabung dengan kami". Ajak Bian Sue.
Rong Bai terlihat tidak suka dengan Zhao Wei, begitupun Liena Sue yang terlihat risih karena Zhao Wei memandangi dia terus menerus.
Rong Bai yang paham dengan ketidaknyamanan Liena, Berinisiatif untuk mengajaknya berkeliling.
"Tuan Putri, karena aku Tamu dari Luar Negara. Bisakah Kau mengantarku berkeliling Istana?". Tanya Rong Bai.
"Tentu". Jawab Liena Sue sambil tersenyum.
"Kakak, aku akan meninggalkanmu sebentar. Apakah tak apa?". Tanya Liena.
"Pergilah, aku ingin beristirahat disini saja". Jawab Bian Sue.
"Kalau diperbolehkan, Bolehkah Pangeran Ini ikut dengan Kalian berdua?". Tanya Zhao Wei.
"Tidak!! Kau bisa meminta pelayan untuk mengantarmu". Ucap Rong Bai dengan Aura dinginnya.
"Aku tidak bicara denganmu Pangeran, tetapi dengan Putri Liena Sue". Jawab Zhao Wei tak kalah dingin.
Liena yang berada di tengah tengah dua wanita tampan kini terlihat bingung , karena kedua pria itu tengah perang mata dengan sengit.
Liena yang tidak tahan pun memilih beringsut mundur diam diam dan pergi menuju Kamarnya untuk beristirahat saja.
"Kak Bian, Ayo ikutlah denganku.. Apa kau akan tetap di tempat yamg dingin ini?". Tanya Liena Sue sambil memandang kedua pria yang masih berdiri di depannya.
"Kau pergilah, aku akan pergi ke kamarku". Jawab Bian Sue.
"Baiklah ,kak .. Yuri ayo kembali". Bisik Liena , kemudian segera berjalan mengendap endap menuju kamarnya yang tak jauh dari Gazebo itu.
Rong Bai dan Zhao Wei segera menyadari bahwa Liena tidak ada di antara mereka , mereka mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Liena Sue tetapi mereka tidak menemukannya sama sekali.
"Ck, semua ini salahmu". Ucap Zhao Wei menggerutu.
"Kau yang salah, jika kau tidak ingin mengikuti kami Liena tidak akan pergi ". Elak Rong Bai.
Keduanya mendengus kesal kemudian segera pergi ke Kamar mereka masing masing.
...
Di Alun alun Kota Negara Ba Malam Hari...
Wang Feying kini telah tiba tepat di tengah lorong gelap dekat alun alun, ia sengaja turun di tempat itu agar tidak ada yang memperhatikannya .
"Hufh , Akhirnya sampai". Gumam Wang Feying.
"Dimana Istana kekaisaran ya". Gumam Wang Feying sembari berkeliling.
Wang Feying mencoba bertanya dengan warga yang tengah berlalu lalang .
"Maaf Tuan, Istana Kekaisaran Ba di mana?".
"Anda wisatawan nona?". Tanya Warga itu.
"Benar Tuan, bisakah anda memberi tahu arahnya?". Tanya Wang Feying.
"Anda bisa melewati jalur utama ini Nona, jika anda menemukan Patung Buda di pertigaan jalan ambillah jalan di sebelah kiri. Nanti Istana Kerajaan Ba sudah terlihat di tempat itu". Jelas Warga tersebut panjang lebar.
"Terimakasih Tuan".
Wang Feying kemudian segera berjalan melewati arah yang di tunjukkan warga tersebut.
"Itu dia Patung Budhanya, ambil kiri". Gumam Wang Feying.
Dia berjalan sendiri hingga akhirnya menemukan Bangunan megah bertingkat empat yang sudah terlihat di pusat kota.
"Benar benar Keindahan, Pantas Kerajaan Ba terkenal kemegahan". Gumam Wang Feying.
"Aku harus mencari penginapan dulu, besok akan kembali mencari cara untuk memasuki istanaa". Sambung Wang Feying.
Gadis itu segera menuju penginapan terdekat dengan Istana Kerajaan untuk bisa mencari cara memasukinya.
Setelah beristirahat di dalam penginapan Wang Feying pun segera mengirim surat kepada Sang Ayah jika dia sudah berada Di Kerajaan Ba.
....
Kediaman Jenderal Wang...
"Tuan,, ada surat dari Nona Feying". Ucap pelayan Jendral Wang.
"Surat? Bukankah Feying berada di kamarnya?". Tanya Jendral Wang.
"Sebaiknya anda membacanya dulu Jendral".
Jendral Wang pun membuka surat putrinya kemudian segera membacanya.
Betapa terkejutnya saat mengetahui bahwa Putrinya bertekad ke Negara Ba tanpa persetujuannya.
Ingin rasanya Dia marah akan tetapi Sang Putri sudah berada Di negara Ba, jadi mau tidak mau Jendral Wang mengirim beberapa pengawal ke tempat Putrinya.
"Shefhu, Kemarilah".
"Baik Jendral".
"Siapkan pengawal terbaik menuju Negara Ba". Titah Jendral Wang.
"Dimana Nona Feying Jendral?".
"Dia berada di penginapan Dekat Istana, ".
"Baik Jendral, Bawahan undur diri dulu". Ucap Shefhu.
Jendral Wang terlihat cemas dan menundukkan kepalanya yang tiba tiba sakit memikirkan Sang Putri yang begitu Nekat.
"Tuan, minumlah agar lebih tenang". Selir Jendral Wang tiba tiba mendatangi Ruang Kerja Sang Jendral dengan membawa cawan teh untuk Jendral.
"Letakkan di meja". Perintah Jendral Wang .
"Kenapa anda terlihat begitu cemas Tuan?". Tanya Selir.
"Putriku Feying kini berada Di Negara Ba". Jawab Jendral Wang dengan lesu.
"Bagaimana bisa?, bukankah tadi dia berada di kamarnya?". tanya Selir Jendral.
"Entahlah, ". Singkat Jendral.
"Minumlah dulu Tuan, nanti baru kita pikirkan lagi. Jaga kesehatan anda baik baik Tuan".
"Terimakasih, kau boleh pergi. Aku ingin sendiri dulu".
"Baik Tuan, segera istirahatlah Tuan".
Jendral Wang tidak menjawab ucapan Selirnya, ia kini segera mengambil secarik kertas dan tinta untuk menulis surat balasan kepada Sang Putri.
Setelah selesai , Jendral Wang segera memanggil Burung pengantar pesan untuk di berikan kepada Wang Feying.