
Besoknya....
Hari sudah mulai siang, Rombongan Rong Bai dan Liu Zhang segera mengisi kembali perbekalan serta tak lupa untuk makan siang sebelum berangkat kembali.
Liena Sue yang masih pada masa hamil muda masih sangat sensitif terhadap bau apapun sehingga ia tidak makan siang bersama melainkan di atas kereta dan di temani oleh Suami tercinta.
"Makanlah yang banyak, Biar Calon bayi lebih sehat".
"Huhh memang aku sapi, Harus makan banyak banyak. Padahal makan lebih dari beberapa suap saja aku sudah sangat kenyang". Jawab Liena Sue yang mulutnya masih penuh.
"Telan dulu baru bicara, Kata Ibu Luo , orang hamil harus banyak makan makanan bergizi. Jadi kau harus memakan semua makanan yang aku belikan oke ".
"Ah Rong, Makan makanan bergizi bukan berarti memakan semua ini. Huhhh ini porsi lima orang tau Ah Rong, Kau menyebalkan.. Nanti kalau aku gendut ". Rengek Liena Sue .
"Hehehhe , aku tidak tahu. Dan kata pelayan semua ini cocok untuk ibu hamil".
"Kalau begitu bungkus lagi saja, Makan di perjalanan nanti kalau lapar".
"Siap Tuan Putri". Sahut Rong Bai.
Tak lama kemudian mereka pun segera berangkat kembali karena semua perbekalan sudah terpenuhi dan mereka juga sudah makan siang untuk mengganjal perut.
Mereka meninggalkan Kota kecil dan segera memasuki Hutan bambu yang sangat luas, Mungkin lebih di kenal Hutannya para Panda karena di setiap perjalanan mereka banyak menemukan panda panda lucu dari yang masih kecil hingga yang sudah dewasa.
Hutan bambu yang rimbun dan sejuk jika tertiup angin terdengar seperti suara seruling yang bersahutan sehingga siapapun yang mendengarnya akan merasa nyaman. Begitupun Liena Sue yang tengah hamil, Rasanya seperti tengah di nyanyikan sebuah lagu sehingga ia pun mudah terlelap di pangkuan sang Suami.
Karena hari mulai siang dan waktunya makan siang, Mereka pun memilih beristirahat di tengah tengah Hutan Bambu yang terlihat lebih lapang dan jarang ada bambu.
Rong Bai yang tidak tega membangunkan Liena Sue kini hanya memandangi dengan penuh kasih sayang sang istri yang masih terlelap. Tak lama kemudian datanglah pelayan untuk melaporkan makan siang kepada Rong Bai dan Liena Sue.
"Yang Mulia, Makan Siang dan tenda sementara sudah siap". Ucap Pelayan itu.
"Sstt, jangan keras keras. Letakkan di dalam kereta saja nanti aku akan memakannya setelah istriku bangun".
"Baik Yang Mulia". Ucap Pelayan itu kemudian mengambilkan jatah makan Siang untuk mereka berdua.
Hari sudah semakin sore tapi Liena belum juga terbangun, Hingga mereka melakukan perjalanan kembali.
Rong Bai yang sudah mulai lapar pun mau tidak mau membangunkan sang istri yang masih tertidur itu.
"Sayang,, Bangun... ". Ucap Rong Bai sambil menggoncang pelan tubuh Liena Sue.
"Emmmmm....". Sahut Liena Sambil menggeliat.
"Apa kau tidak lapar Na'er? Sampai sampai kau tidur tidak bangun bangun".
"Hoammmm... pukul berapa sekarang Ah Rong?" Tanya Liena Sue dengan suara khas bangun tidur sembari perlahan terbangun dari pangkuan Rong Bai .
"Astaga, Kenapa kau tidak membangunkan ku? Kau pasti belum makan siang kan? Astaga Ah Rong". UCap Liena Sue panik.
"Sstt sudahlah, Lihatlah di depanmu makanan sudah siap. Ayo kita makan bersama".
"Tapi kan makanannya sudah tidak hangat, Apa kau tidak apa apa?".
"Tidak apa apa, Lihatlah". Ucap Rong Bai kemudian mengeluarkan sedikit sihir sehingga makanan yang awalnya sudah dingin kini menjadi hangat kembali.
"Wahh kau hebat Ah Rong, Kalau begitu mari makan".
"Selamat makan Istriku". Sahut Rong Bai sehingga membuat Liena tersedak makanan .
"Pelan pelan, Minumlah". Ucap Rong Bai sambil menyodorkan minuman.
Selesai makan bersama mereka pun saling berbincang hingga malam pun tiba, Kali ini Rong Bai yang terlelap terlebih dahulu sedangkan Liena Sue kini menikmati langit malam yang penuh bintang. Rasanya ia baru merasakan apa itu damai yang sebenarnya, Entah apakah ini akan menjadi akhir kisah nya atau bukan yang pastinya ia sangat senang melihat betapa damainya Dunianya sekarang.
Perjalanan menuju Akademi Langit Suang memakan berminggu minggu lamanya akhirnya kini mereka benar benar telah sampai , tepat satu hari sebelum Ujian di laksanakan.
Banyak Para Siswa yang hadir yang memperhatikan kedatangan mereka, Pasalnya sudah lebih dari enam bulan mereka tidak datang ke akademi tapi sekarang malah akan ikut Ujian Akhir Akademi ..
"Lihatlah mereka, Bukankah setelah Liburan Musim Semi lalu mereka tidak lagi kembali. Lalu mengapa mereka kembali di ujian Akhir?".
"Benar, Tidak tahu malu".
"Ya Banar, Huhh pastinya mereka sudah tertinggal sangat jauh semua mata pelajaran".
"Benar, Kurasa mereka tidak akan Lulus Ujian".
Semua Siswa saling menyindir Rong Bai dan Yang lainnya, Mereka terlihat tenang kecuali Yu Yin yang sudah sangat emosi namun di dinginkan oleh Shilin dan Liena Sue .
Tak lama kemudian Tetua Bao Tetua Dao dan Tetua Lainnya beserta Para Guru Akademi pun telah tiba, Termaksud Kakak Ipar Liena Sue yaitu Guru Ji Hua kini ikut berjajar rapi di deretan para Guru muda.
"Selamat datang Para Siswa Akademi, Kali ini Tetua Pertama tidak bisa hadir karena suatu kepentingan. Jadi acara Ujian akan menjadi tanggung jawabku untuk sementara". Ucap Tetua Bao .
Siswa begitu Riuh mendengar Tetua pertama yang tidak bisa hadir, Pasalnya tahun tahun sebelumnya beliau tidak pernah absen sekalipun.
"Dan kali ini Saya ucapkan kembali kepada Semua Siswa untuk berlaku adil dalam ujian nanti, Jangan ada kecurangan atau semacamnya. Ujian Kali ini kalian akan di masukkan dalam Dunia Dimensi yang sudah di buat oleh Para Tetua, Setiap kelompok terdiri dari lima orang. Di Dalam Dunia Dimensi itu kalian harus mengumpulkan banyak banyak Batu Spiritual yang terdapat pada pohon ataupun Binatang yang langka yang terdapat di dalam Dunia itu. Siapa yang mendapat paling banyak maka akan menjadi pemenangnya, Serta untuk pemenang kalian bisa mendapatkan Hadiah yang sudah kami persiapkan". Jelas Tetua Bao.
"Dan Untuk peraturannya, Kalian tidak boleh saling membunuh atau saling merampok . Setiap Batu Spiritual mempunyai nilai yang berbeda, Jadi walaupun kalian mendapatkan banyak batu jika batu itu di nilai terendah maka nilai kalian juga sama rendahnya.
Batu Spiritual di bagi menjadi Lima warna dengan Nilai yang berbeda, Pertama Batu berwarna merah bernilai lima Poin, Batu berwarna Biru Muda bernilai Dua puluh lima Poin, Batu berwarna Biru Tua bernila Seratus Poin, Batu berwarna Ungu bernilai Dua Ratus Poin dan yang terakhir Batu berwarna Kuning emas itu bernilai Lima ratus Poin . Dan Jika kalian beruntung ada satu batu langka yaitu Batu Pelangi yang bernilai Seribu Poin dan itu hampir Mustahil di temukan". Sambung Tetua Dao.
Semua Siswa tampak mengangguk mengerti setelah mendengarkan Dua Tetua yang telah berbicara . Namun tak lama kemudian ada salah satu siswa yang tiba tiba maju mengajukan sebuah Protes kepada Para Tetua.