
Liena memilih kamar di lantai tiga karena ia ingin menikmati Kota Suwan yang begitu jelas di lantai tersebut. Kamar Rong Bai juga berada di lantai tiga tepatnya di deoan Kamar Liena, sedangkan Bian Sue berada di lantai dua. Dan para pelayan mempunyai kamar di lantai satu .
"Ahh lelah sekali, aku ingin memejamkan mata". Ucap Liena Sue yang kemudian merebahkan badannya di ranjang besar dan empuk itu hingga tak lama diapun benar benar terpejam.
Hari mulai malam dan Liena Sue pun masih saja bergelut dengan mimpinya, Wu dengan santainya memasuki Kamar Liena sembari membawa kipas berlukiskan Naga di tengahnya.
Dia berjalan menuju Ranjang Liena Sue dan kemudian duduk di pinggiran ranjang.
Liena Sue yang peka akan kehadiran seseorang pun segera membuka matanya dengan sembrono.
"Kenapa kau terkejut Puutri?". Tanya Wu.
"Astaga, kukira kau penyusup. Ehh kau kenapa sampai di Kota Suwan juga?". Tanya Liena Sue.
"Aku mengikutimu Putri" . Jawab Wu dengan santainya.
Liena Sue tampak berfikir dengan Wu yang selalu mengikutinya di manapun dia berada. Dia sempat berpikir jika Wu adalah Rong Bai, tetapi di lihat tingkah Wu sangat berbeda dari Rong Bai yang banyak diam dan kaku.
"Heii, Putri kenapa kau diam saja". Tanya Wu sembari mendekati Liena Sue.
"Ehh tidak, aku hanya teringat dengan seseorang".
"Benarkah? Siapa itu?". Tanya Wu yang antusias dan semakin mendekati Liena.
Liena Sue mendorong wajah Wu menjauh dari wajahnya karena dia semakin mendekat.
"Ishhh, kau pelit sekali Nona". Gerutu Wu.
"Kau terlalu dekatt". Jawab Liena sambil memalingkan wajahnya karena merona .
"Heheh, Apa kau menyukaiku Nona?". Tanya Wu yang kembali menyondongkan wajahnya mendekati wajah Liena hingga Liena bisa merasakan hembusan nafas Wu.
Liena Sue pun kembali menjauhkan wajah Wu dengan kedua tangannya, tetapi Wu berhasil mengelak setiap Liena akan menjauhkan wajahnya.
"Kenapa kau merona Putri?Apa kau benar menyukaiku atau Pangeran Bupati itu?". Tanya Wu dengan nada menggoda.
"A.. aku.. Tidak". Sangkal Liena Sue malu malu.
"Kau berbohong, lihat wajahmu yang memerah".
"Wu....". Tiba tiba Liena Sue pun di bungkam oleh Wu dengan cara menciumnya, Liena tersentak kaget dengan reaksi Wu. Dia mencoba menjauh tetapi di tahan oleh tangan Wu.
Wu Pun memperdalam ciumannya dengan menahan kepala Liena Sue agar tidak melepaskannya. Mau tidak mau Liena kemudian membalas ciuman Wu .
Ciuman mereka pun berlangsung cukup lama, dan akhirnya Wu pun yang mengakhiri ciuman tersebut.
"Jadi, apakah kau akan jujur Putri? Mana yang kau suka, Aku atau Pangeran Bupati itu?". Tanya Wu dengan mata sayunya.
" Apa aku terlihat menyukaimu?".
"Jangan balik bertanya, jawab saja pertanyaanku tadi Putri". Ucap Wu yang kemudian merebahkan tubuhnya di pangkuan Liena Sue .
Liena Sue ingin menolak akan tetapi hati dan mulutnya berbeda, dan akhirnya dia pun mengutarakan perasaanya.
"Apa kau menyukaiku?". Tanya balik Liena Sue .
"Hmm, Kemungkinan ya ". Jawab Wu tanpa beban.
"Kalau begitu aku sama denganmu, andai Rong Bai dan kau adalah orang yang sama". Ucap Liena Lirih tetapi masih jelas di dengar oleh Wu.
Wu Pun tersenyum kemudian bangun dari tidurnya dan memandang Liena dengan Intens.
"Jika begitu, maukah kau menikah denganku ?". Tanya Wu.
"Tapi aku sudah di jodohkan".
"Bukankah kalian tidak saling menyukai? Dan perjodohan itu untuk menyingkirkan Pangeran Silas secara perlahan?".
"Yah, tapi aku tidak bisa mengkhianatinya".
"Kalau begitu, aku akan membawamu lari dan kita akan menikah di tempat yang jauh". Ucap Wu lembut.
Liena Sue pun kembali di buat merona, kemudian dia menjauhkan wajah Wu dari dekatnya.
Tanpa sengaja Liena ternyata menggenggam erat topeng Wu dan kemudian melepaskan topeng itu.
Alangkah terkejutnya saat mengetahui Siapa Di balik Topeng bernama Wu itu.
"Rong Bai, Kau....". Ucap Liena yang tidak bisa berkata.
"Apa kau terkejut Putri? Huh padahal aku masih mau menyembunyikan identitasku". Ucap Rong Bai sambil bersedekap dada.
Liena Sue awalnnya memang terkejut, tetapi akhirnya dia tersenyum saat mengetahui bahwa sebenarnya dia menyukai Rong Bai. Dia pun memeluk Rong Bai tanpa mengatakan apapun.
"Hei, kau kenapa Na'er?". Tanya Rong Bai.
Liena Sue hanya menggeleng kan kepala kemudian menyeka air mata yang keluar.
"Kenapa kau menangis Na'er?". Tanya Rong Bai.
"Aku hanya merasa senang saja Ah Rong".
"Benarkah?".
"Ya, hmm pantas saja setiap aku berada
di tempat jauh Wu selalu datang". Gumam Liena Sue yang masih dalam pelukan Rong Bai.
"Hh, apa kau kecewa Na'er?". Tanya Rong Bai.
"Tidak, malah aku senang jika Wu itu adalah Kau Ah Rong". Jawab Liena Sue sembari mendongakkan kepalanya sehingga kedua mata mereka bertemu.
"Baiklah, sekarang tidurlah kembali. Besok pagi kota harus mendaftar di Akademi".
"Emm.. apa kau juga akan tidur?".
"Tentu saja, apa kau ingin aku tidur denganmu Na'er?".
"Ehh tidak tidak, kita belum menikah. Aku tidak ingin menghancurkan reputasimu".
"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku. Selamat malam". Rong Bai pun kembali kekamarnya untuk istirahat, sebelum dia beranjak dia menyempatkan dulu mencium kening Liena Sue terlebih dahulu.
Liena Sue terlihat tersenyum setelah mendapatkan ciuman selamat malam dari sang kekasih , kemudian dia memutuskan kembali ke alam mimpinya berharap alan bermimpi tentang Rong Bai.
Keesokan harinya, Liena Sue dan Rong Bai sudah bersiap dan sudah selesai sarapan. Mereka keluar dari Mansion untuk mencari sosok Bian Sue yang sudah dari tadi menunggu di dekat pintu gerbang Mansion.
Bian Sue terlihat sangat heran saat melihat Adiknya dan Pangeran Bupati itu tengah bercanda tawa bahkan tangan mereka saling bertautan. Mereka berbeda dari sebelumnya, kali ini lebih dekat dan Liena tampak sangat asyik dengan Rong Bai. Begitu juga Rong Bai yang biasanya terlihat Acuh, dingin dan kaku kini terlihat sangat gembira dengan obrolan yang menurut Bian Sue sangat tidak masuk akal seperti biasanya.
"Kakak, maaf membuatmu menunggu". Ucap Liena Sue .
"Tidak apa apa. Emm apa aku melewatkan sesuatu?".
"Melewatkan apa Kak?".
"Kelihatannya kalian semakin akrab saja".
"Hehe, bukankah Baik seperti ini?". Jawab Liena.
"Ya, ya.. Lupakan pasti kalian tidak mau berbagi cerita kan. Kalau begitu kita cepat pergi, pendaftaran akan segera di buka". Ucap Bian Sue sedikit merajuk.
Liena Sue dan Rong Bai terlihat terkekeh geli saat melihat Putra Mahkota Negara Ba tengah merajuk karena mereka berdua.
Jarak dari Mansion Bian Sue ke tempat seleksi tidaklah terlalu jauh, hanya melewati beberapa Rumah dan sudah sampai di depan gedung seleksi.
Terlihat sebuah bangunan cukup besar berlantai tujuh dengan pagoda di sebelah kanan dan kirinya.
Di sana sudah ada banyak orang yang ingin mendaftar di Akademi Langit Suang.