
Setelah mengikat kontrak dengan Rubah Putih berekor sembilan, rantai yang membelenggu Rubah kini tiba tiba meleleh dan menghilang membuat Rubah begitu kegirangan saat ia terbebas.
"karena kau Rubah Putih berekor sembilan maka aku akan menamaimu Baihu". Ucap Liena Sue.
Rubah itu segera melompat kegirangan saat mendengar dia punya nama, sudah ribuan tahun dia di segel oleh pemilik lama. Yang katanya akan ada orang hebat yang bisa membebaskannya dari segel, dan ternyata sekarang terbukti di depan matanya.
"Apa kau bisa berubah menjadi lebih kecil Baihu?".
Baihu pun mengangguk kemudian segera berubah menjadi rubah kecil yang sangat imut.
"Paman, ayo kita keluar".
"Tentu,". Singkat Alix Sue sembari tersenyum hangat melihat keponakannya tercinta.
"Baihu, bisakah kau memberitahu jalan untuk kami". Tanya Liena kemudian diangguki oleh Baihu.
"Paman, kenapa paman tidak pernah mengeluarkan pegasus?".
"Hmm Karena zaman ini orang yang mempunyai Binatang Roh sangatlah jarang, jadi jika kita mengeluarkan binatang roh sembarangan maka akan menimbulkan masalah, bahkan mereka yang menginginkan binatang roh kita bisa membunuh kita tanpa segan". Jelas Alix Sue.
"Emm Begitu ya".
Mereka berjalan menyusuri lorong sembari menuntun kuda masing masing. Tak lama kemudian mereka pun segera menemukan ujung terowongan yang ternyata hari sudah mulai pagi.
Tidak di rasa ternyata mereka tidak bermalam sedikitpun.
"Akhirnya keluar". Ucap Liena Sue.
"Liena, coba kau lihat sekeliling. Sepertinya aku mengenal tempat ini".
Liena pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan ternyata benar tempat itu sangatlah familiar untuknya.
"Bukankah ini Hutan perbatasan Negara Ba dan Negara Gu? wahh cepat sekali sampainya".
"Kau benar, jika melalui jalan normal kita akan sampai kurang lebih empat hari. Tapi sekarang kita hanya butuh satu malam untuk sampai". Kata Alix Sue sembari menyangga kepalanya.
"Apa kita berteleportasi?". Tanya Liena Sue begitu antusias .
"Entahlah,". Singkat Alix Sue sembari mengangkat bahunya.
Jarak Istana Negara Ba dengan Hutan perbatasan tidaklah terlalu jauh, hanya butuh dua hari untuk sampai di Istana. Keberuntungan mereka memasuki Sumur tua sehingga seharusnya dua minggu perjalanan kini hanya perlu sepuluh hari perjalanan.
"Apa!!! Liena kembali ke negaranya!!". Teriak Pangeran Silas.
"Be.. benar yang mulia".
"Apa kau tahu di mana dia berasal?".
"Saya sudah bertanya kepada para pelayan di Mansion itu, tetapi mereka bilang tidak tahu Yang Mulia. Dan semenjak Nona Liena pergi, Mansion itu menjadi milik Pangeran Bupati". Jelas Bawahannya.
Prangg...
Suara pecah memenuhi kamar tidurnya membuat Permaisuri yang mendengarnya segera memasuki kamar sang Putra.
"Ada Apa Ini?!!". Teriak Permaisuri.
"Ibu... Gadis yang ku inginkan sudah pergi". Jawab Silas dengan Lesu.
"Itu hanya gadis dari negara tidak jelas, kau bisa mencari gadis lain yang lebih dari dia".
"Ibu, kau tidak mengerti!! Aku ingin Rong Bai itu hancur. Dan kau harus tahu ibu Nona Liena sepertinya bukan dari keluarga biasa, dia keindahan". ucap Pangeras Silas dengan Frustasi.
"Memang kau tahu dia bukan dari keluarga biasa dari mana?". Tanya Sang ibu.
"Dari cincin spesial yang ia pakai, dilihat dari ukirannya pasti dari keluarga kaya dan berpengaruh". Pangeran Silas pun mengingat ingat cincin spesial yang di gunakan Liena.
"Ibu, kumohon bantulah aku... Jika aku bisa membuat Rong Bai menderita, maka aku bisa menyingkirkannya dan menjadi Putra Mahkota. Jangan Sampai dia pulih dari lumpuhnya"..
"Apapun untukmu anakku". Permaisuri pun memeluk Pangeran Silas sembari memikirkan Rencana untuk membantu Sang Putra. Benar apa yang dikatakan putranya, jika Rong Bai hancur Silas akan lebih mudah menjadi kandidat Putra Mahkota.
.....
Terlihat Rong Bai tengah berkutat dengan banyak sekali dokumen yang menumpuk. Sudah separuh lebih Dokumen terselesaikan, ia berniat untuk pergi Ke Negara Ba agar bisa bertemu kembali dengan kekasih masa kecilnya Liena Sue.
"Salam Yang Mulia". Sapa Mark yang tiba dari balik pintu.
"Bagaiman? apa mereka sudah sampai Negara Ba?". Tanya Rong Bai tanpa berbasa basi.
"Dua hari yang lalu mereka dikejar rombongan binatang Buas Yang Mulia, Sialnya mereka terperosok ke dalam sumur tua, setelah itu kami tidak menemukan mereka lagi Yang Mulia".
"Apa kau yakin Liena dan pamannya masuk ke dalam sumur? Dan apa kalian sudah memeriksa ke dalam sumur itu?". Tanya Rong Bai dengan sangat khawatir.
"Kami hanya melihat mereka terjatuh Yang Mulia".
"Tidak Berguna!! Aku menyuruhmu dan bawahanmu untuk mengawal mereka dengan selamat, tapi apa sekarang mereka terjebak di dalam sumur Tua dan kalian malah pergi??". Rong Bai pun terlihat kecewa, marah dan cemas menjadi satu.
Saat dia sedang dalam perasaan buruk, tibalah Burung pengantar surat yang mendarat dengan selamat di atas meja Ruang kerjanya.
Dia segera mengambil surat itu berharap Liena lah yang mengirimkan Surat . Setelah Surat itu di buka dan ternyata memang benar bahwa Liena Sue yang m3ngirimkan Surat itu kepadanya.
Hei, apakabar...
Aku kini sudah sampai di Negara Ba, kau tidak perlu khawatir.
Aku sampai dengan selamat yahh walaupun banyak sekali hambatan.
Jaga diri baik baik, aku akan menunggumu di Negara Ba Ah Rong..
Oh Ya, Bulan depan adalah ulang tahun Ayahku, kuharap kau bisa datang ke Negara Ba Ah Rong.
Liena Sue*.
Rong Bai tersenyum dan terlihat lebih Rilexs saat membaca Surat dari Liena.
"Siapkan hadiah untuk Kaisar Sue negara Ba. Satu Bulan lagi adalah ulang tahunnya". Perintah Rong Bai kepada Mark.
"Baiklah Yang Mulia".
Mark pun pergi meninggalkan Rong Bau sendiri di Ruang Kerjanya.
Awalnya ia merasa begitu khawatir dengan keadaan Liena, kini merasa lebih tenang setelah membaca surat darinya.
Baru sepuluh hari mereka tidak bertemu, Rong Bai terlihat begitu merindukan sosok Liena yang ternyata adalah kekasih masa kecilnya .
Rong Bai menatap Jendela yang ternyata di luar sudah mulai gelap, berharap jika Liena Sue masih berada di dekatnya.
"Yang Mulia, Air Hangatnya sudah siap". Ucap pelayan Rong Bai.
"Baiklah, kau boleh pergi".
Rong Bai pun segera berjalan ke arah Bak Mandi yang sudah disiapkan oleh pelayan.
Satu persatu pakaiannya ia tanggalkan hingga tidak ada sehelai pun yang menutupi tubuhnya.
Satu persatu kakinya memasuki bak, ia membenamkan tubuhnya ke dalam Bak mandi besar itu untuk menghilangkan penatnya.
"Hanya tinggal beberapa pekerjaan lagi, dan kemudian aku akan pergi ke Negara Ba". Gumam Rong Bai.
Rasa letih kini berganti dengan rasa nyaman, ia memejamkan mata sejenak untuk sekedar mengingat masa lalu yang hampir separuhnya tidak ia ingat.
Rong Bai terpejam cukup lama, hingga ia tak menyadari ada penyusup yang kini tengah mengacungkan pedangnya tepat di depan wajahnya.
Rong Bai yang baru merasakan kehadiran penyusup itu tidak bergeming sama sekali.
" Pangeran Bupati yang banyak di agungkan. Ck, ternyata hanya makhluk lemah yang tidak bisa berjalan". Gumam penyusup itu sembari menyeringai.
"Siapa Kau,?". Tanya Rong Bai yamg perlahan membuka matanya.