Menjadi Pelayan Pangeran Bupati

Menjadi Pelayan Pangeran Bupati
Siluman Kera


"Lalu , siapa saingannya? kenapa harganya menjadi setinggi langit?". Tanya Liena Sue kembali .


"Kau akan terkejut jika aku mengatakannya Adik". Jawab Bian Sue.


"Cepat katakan saja, aku tidak akan terkejut". Sahut Liena Sue.


"Tetua Pertama". Jawab Bian Sue dan Rong Bai hampir bersamaan.


"Tetua pertama? kenapa ia juga menginginkan Giok darah?". Ucap Liena Sue bertanya tanya.


"Untuk membuka segel juga mungkin, entahlah yang terpenting kita bisa mendapatkannya . Hanya tinggal ke Bukit tunarsana untuk mencari Naga berbulu". Sahut Kai Yuwen .


Liena Pun mengangguk paham, kemudian mereka memutuskan untuk segera pergi karena sudah di pastikan akan ada yang mengincar dua barang berharga yang mereka dapatkan.


Di tempat lain...


"Tetua, bagaimana ini? kita gagal mendapatkan Giok darah itu. Pemuda itu begitu kaya sehingga menaikkan harga setinggi langit dan kota tidak bisa mengimbanginya". Ucap Pria kecil di samping tetua pertama.


"Cari tahu saja siapa Pemuda bertopeng itu, kita akan menemui dan bernegosiasi untuk Giok itu. Siapa Tahu dia bisa memberikan setengahnya untuk kita. Jika tidak, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menyelamatkan Dewi Yuna". Sahut Tetua pertama.


"Baik, Tetua . Aku akan mencari tahu siapa mereka".


"Ya pergilah, ingat jangan membuat mereka curiga. Dan jangan melawan".


"Baik Tetua".


Pria bertubuh kecil itupun dengan cepat ia menghilang meninggalkan Tetua pertama Sendirian.


Sedangkan Sang Tetua kini tengah larut dalam Fikirannya, siapa Para Pemuda dan seorang gadis tadi. Ia mencoba mengingatnya namun kepalanya malah menjadi sakit.


"Sudahlah , jika ketemu siapa mereka aku akan datang dengan baik baik". Gumam Tetua pertama kemudian segera beranjak pergi dari tempat pelelangan.


....


Pagi hari telah tiba....


Liena Sue dan ketiga lainnya bersiap untuk menuju Bukit Tunarsana, karena hari yang semakin dekat dengan pernikahan jadi mereka berangkat pagi buta dengan menunggangi Naga Putih milik Bian Sue .


Tak butuh setengah hari mereka akhirnya sampai di tengah Bukit Tunarsana, pertama kali yang mereka cari adalah Sebuah Goa besar yang menjadi tempat tinggal naga itu bersama Tetua Bao.


Mereka menelusuri hutan perbukitan dengan jalan yang menanjak dan curam hingga akhirnya memilih beristirahat terlebih dahulu untuk memakan perbekalan mereka.


"Kenapa tidak ketemu ketemu sih". Ucap Liena Sue menggerutu .


"Banyak Yang bilang Goa yang di huni Tetua Bao dan naga berbulu itu ada penghalang tak kasat mata yang bisa menyembunyikan keberadaan Goa itu". Sahut Rong Bai


"Kenapa kau tidak bicara dari awal Ah Rong Astaga....". Ucap Liena Sue.


"Kalian Tidak bertanya padaku". Sahut Rong Bai dengan santainya sambil memakan perbekalannya.


"Sudahlah, nanti kita cari lagi. Sekarang kita makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan". Bian Sue menengahi .


Setelah memakan perbekalan, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan Perjalanan.


Ketiga Pria tampan itu tampak nyenyak tidurnya, sedangkan Liena yang tidak bisa tidur kini duduk sambil bermain ranting pohon di tanah.


Karena Liena Sue tidak tidur sendiri, ia pun mendengar suara daun kering yang di lewati sesuatu.


Ia dengan waspada segera mengambil pedang Dua matanya untuk berjaga jaga sambil mengamati sekitar tempat mereka beristirahat.


Suara itu semakin dekat dan mendekat, Liena Sue kini sudah berdiri dengan Kuda kudanya. Ia sengaja tidak membangunkan Ketiganya karena tahu mereka bertiga cukup lelah.


Tak Lama Kemudian Muncullah Sosok seperti kera putih setinggi orang dewasa kini bergelantungan di sekitar pohon dengan jumlah yang cukup banyak, Sosok itu memamerkan Gigi gigi runcingnya untuk menakuti lawan , Namun, Liena tidak takut sama sekali dengan sosok di depannya itu .


Entah apa mereka paham atau tidak, Setelah mendengar Gumaman Liena Dengan bersamaan Mereka Menyerang Liena Yang tengah bersiap melawan mereka.


Mendengar suara Pedang Ketiga orang yang tertidur lelap pun kini terbangun dan terkejut.


"Siluman Kera, Tapi kenapa wajah mereka aneh?". Tanya Bian Sue.


"Mereka sudah bermutasi, Sebaiknya hati hati jangan sampai tergigit.". Jawab Liena Sue yang sudah berjibaku dengan para Siluman itu.


Mereka pun menyerang Siluman itu dari empat penjuru secara terpisah, Namun semakin mereka banyak membunuh Siluman itu semakin banyak pula yang berdatangan.


"Kai, Apa kau tidak tahu caranya mengatasi mereka? semakin kita membunuh banyak siluman , semakin banyak pula yang datang". Teriak Bian Sue menanyakan kepada Kai Yuwen.


"Aku juga tidak tahu". Jawab Kai Yuwen.


Liena Sue yang sedari mendapati ada yang aneh dengan Siluman itu, Ia mengamati dalam diam sambil terus menyerang para Siluman Kera itu Hingga tiba tiba semua Siluman itu berhenti menyerang mereka dan mundur secara bersamaan.


"Kenapa merek Lari? Aneh". Ucap Bian Sue.


"Sepertinya ada sesuatu di balik mereka". Sahut Kai Yuwen.


Belum sempat berdiskusi tiba tiba Bumi bergetar hebat, Liena Sue berlari menghampiri Ketiga Pria Itu .


Dari arah selatan , tiba tiba sosok Putih besar hampir Sepuluh kali lipat Siluman Kera di awal kini muncul di depan mereka.


Lebih tepatnya Siluman Kera terbesar yang pernah mereka lihat.


"Besar sekali, Lebih baik kita jangan sampai terpisah". Perintah Bian Sue sambil meneguk ludahnya sedikit ngeri saat melihat Siluman berukuran Raksasa itu.


"Bagaimana kalau kita gunakan Jurus kaki seribu saja Kak?". Tanya Liena Sue yang juga ikut bergidig ngeri.


"Sudah Terlambat". Jawab Kai Yuwen yang kemudian menyeret mereka bertiga untuk mengelak Serangan dari Raksasa itu .


"Sial, Terlalu cepat". Gumam Liena Sue.


Pukulan tangan yang berukuran besar itu hampir saja mengenai mereka, Mereka berpencar menuju pohon terdekat untuk berlindung dari hantaman tangan Raksasa kera itu.


"Tunggu, ada seseorang di atas kepalanya". Gumam Liena Sue ketika menemukan sesuatu di atas kepala Raksasa itu .


"Kalian , Lihatlah di atas kepalanya. Ada seseorang yang mengendalikannya". Teriak Liena Sue sembari menunjukkan tempat yang ia maksud.


Mereka pun mendongak dan menemukan hal yang sama ,Melihat seseorang yang tengah mengendalikan Raksasa itu.


"Siapa orang itu?". Gumam Bian Sue.


"Entahlah, siapapun itu kita harus berurusan dengannya terlebih dahulu". Sahut Kai Yuwen.


Mereka berempat menyerang bersamaan namun tidak bisa melukai Raksasa itu sama sekali. Liena Sue beringsut mundur dan hilang di balik pepohonan , Ia mencari celah untuk melawan seseorang yang berada di atas kepala Raksasa itu.


Liena Sue berjalan menuju belakang Raksasa, Setelah mendapat celah ia pun perlahan menaiki Raksasa itu tanpa menimbulkan Suara.


Saat sampai di atas sana, Liena Sue terkejut ketika menemukan Sosok Perempuan berbaju Hitam yang tengah mengendalikan Raksasa itu atau lebih tepatnya tertanam di atas kepala Raksasa itu.


Liena Sue berjalan Perlahan Dan menyerang dari belakang sosok perempuan itu.


Trang....


Pedang Dua mata Liena mengenai Akar aneh yang tiba tiba muncul.


"Sial!! Kenapa keras sekali". Gumam Liena Sue.


"Tunggu, itu.... Cahaya merah... Sepertinya itu into dari semuanya, Aku harus menyelesaikan dengan cepat". Gumam Liena Sue lagi.