Menjadi Pelayan Pangeran Bupati

Menjadi Pelayan Pangeran Bupati
Perampok


Setelah lima menit berlalu mereka berempat akhirnya sampai di Hutan dekat perbatasan Negara Ba.


"Sepertinya kita harus berjalan ". Ucap Liena Sue.


"Yahh, tapi paling tidak hanya butuh dua hari untuk mencapai Kamp Tentara". Sahut Bian Sue.


"Kalau begitu kita istirahat di sini dan makan siang dulu kak".


"Tentu" .


Setelah selesai makan Siang mereka melanjutkan perjalanan kembali dengan berjalan kaki, sesekali berhenti ketika menemukan tanaman obat yang kiranya di butuhkan.


Tak hanya tanaman obat, Kelinci dan Rusa tak luput dari mata mereka.


Satu hari satu malam perjalanan pun mereka lalui dengan berjalan kaki, Bian Sue menemukan Sebuah Goa cukup besar dan mereka memutuskan memasuki Goa tersebut untuk beristirahat sembari sarapan pagi.


"Yang Mulia biar saya dan Sam yang membersihkan kelinci dan Rusanya". Ucap Yuri.


"Baiklah, kuserahkan ke kalian berdua dan aku akan membuat bumbu saja". Sahut Liena Sue.


Sam adalah bawahan atau penjaga kepercayaan Bian Sue yang kini ikut dalam perjalanan. Sam dan Yuri sebenarnya adalah murid Liena dan Bian yang juga besar bersama.


"Adik, kau sedang apa?". Tanya Bian Sue .


"Membuat Bumbu, kakak tolong buatlah perapian dan nanti aku akan memasaknya".


"Baiklah, masakanmu pasti sangat menyiksa lidah". Goda Bian Sue.


"Lihat saja nanti, kalau nanti enak jangan kau minta lebih".


"Okeee".


Yuri dan Sam pun selesai menguliti dan membersihkan daging rusa dan Kelinci di sungai kecil yang tak jauh dari Goa mereka .


"Putri ini dagingnya". Ucap Yuri sambil memberikan daging yang sudah siap di bakar.


"Baiklah, Yuri kau bantu aku mengolesi bumbu setelah itu Sam bantu kami membakarnya".


"Tentu Yang Mulia". Jawab Yuri dan Sam bersamaan.


Bau wangi dari daging yang di bakar menyeruak sampai keluar Goa, begitupun Bian Sue yang awalnya sibuk mengelap pedangnya kini perutnya pun tergugah untuk menyicipi hasil dari sang adik.


Mereka berkumpul mengitari perapian, Liena Sue membagikan adil daging kepada Yuri dan Sam tetapi tidak dengan Bian Sue.


"Ehh Na'er kenapa punyaku sedikit sekali?".


"Tadi kakak bilang bumbu yang ku buat menyiksa lidah jadi kakak makan itu ekor kelinci nanti kalau lidahnya tersiksa tidak akan terlalu lama sakitnya". Sahut Liena Sue.


"Pfft.. Hahahahha". Yuri dan Sam sama sama tidak bisa menahan tawa saat melihat Master mereka sedang berdebat, apalagi sosok Putra Mahkota yang seharusnya ditakuti kini terlihat merajuk hanya karena makanan.


"Maafkan Kakakmu ini Adik, nanti kakak akan membayarnya kalau kau memberikan kakak porsi yang sama".


"Benarkah?".


"Iya".


"Kalau begitu satu daging satu koin emas untuk daging kelinci, dan untuk Rusa kakak bisa memberikan Tiga Koin emas".


"Mahalnya Na'er?". Bian Sue merajuk.


"Mau tidak? kalau begitu jangan makan".


"Ya iya , ini koinnya". Bian Sue pun akhirnya memberikan kantong koin kepada Liena Sue.


"Nah begitu, ini Dagingmu kak".


Bian Sue mendengus kesal dengan sang adik kemudian makan dalam diam.


Di sela tawa Liena Sue , Sam dan Yuru kini mendengar suatu yang berisik dari luar Goa sehingga membuat mereka terlihat waspada dengan otomatis mengeluarkan pedang masing masing.


Liena dan Bian yang juga samar samar mendengar kini ikut diam dan waspada .


Sam dan Yuri keluar terlebih dahulu untuk melihat keadaan diluar sana, Namun mereka tidak menemukan apapun. Hingga mereka berdua berbalik dan menemukan Lima pria berpakaian hitam tengah mengepung mereka berdua.


"Tunggu Kak, sepertinya Yuri dan Sam di kepung. Dan mereka tidak menyadari kehadiran kita". Bisik Liena Sue.


"Kau benar, bagaimana kalau kita membuat kejutan untuk mereka". Bisik Bian Sue.


"Boleh, aku juga ingin berolahraga pagi ini. Huh ototku kaku sekali".


Sebelum mereka keluar Goa, Yuri dan Sam kini tengah bertarung dengan Kelima Pria Hitam tersebut.


Lima pria berbaju hitam itu terlihat cukup kuat sehingga Sam dan Yuri terlihat kuwalahan.


Karena kelima orang itu tidak menyadari keberadaan Liena Sue dan Bian Sue mereka tidak cukup waspada dengan lingkungan sekitarnya.


Liena Sue menyerang dari belakang dengan menggunakan Jarum akupuntur yang sudah dilapisi oleh racun, di susul Bian Sue yang menggunakan Pedang kesayangannya.


"Sial, ternyata masih ada dua orang lagi". Umpat salah satu Pria berbaju hitam itu.


"Kalian mengganggu Istirahat kami saja". Ucap Liena Sue sambil menguap dan merenggangkan tangannya.


"Ini wilayah kami, jadi kalian harus membayar cukup Koin untuk bisa beristirahat dengan tenang". Ucap Salah satu pria berbaju hitam dengan badan cukup besar dan kekar dari lainnya.


"Ternyata Perampok Yang Malang, Sayangnya kalian mengambil umpan yang salah". Ejek Bian Sue.


"Ck, Sombong!! Memangnya siapa kalian ? Bisa bisanya bicara omong kosong seperti itu?".


"Kami tidak sombong, kalian bisa membuktikannya. Lihatlah separuh tubuh kalian yang tidak bisa di gerakkan secara perlahan, mungkin racunnya sudah sedikit menyebar. Dan jika Sudah menyebar ke seluruh tubuh, kalian akan menjadi mayat hidup dengan tubuh yang lumpuh bahkan tidak bisa berkedip". Tegas Liena Sue.


"Bos, kenapa tubuhku mati rasa".


"Iya bos, aku juga. Sepertinya mereka tidak main main".


"Kalian licik sekali". Umpat Pria berbaju Hitam yang di panggil Bos itu.


"Apa mau kalian?". Sambung Bos itu lagi.


"Sederhana, Kalian katakan saja apa tujuan kalian dan siapa yang memerintahkan kalian? Sepertinya kalian bukan Perampok biasa". Ucap Bian Sue.


"Cih sampai matipun kami tidak akan memberitahu kalian".


"Huh, kalau begitu biarkan saja mereka kak. Kita lanjutkan sarapannya". Ucap Liena Sue kemudian meninggalkan mereka kembali ke Goa diikuti Bian Sue dan lainnya.


Para pria berbaju Hitam itu tampak geram, namun apa daya mereka tidak bisa bergerak. Semakin mereka berusaha bergerak semakin mati rasa di tubuh mereka hingga dua diantaranya terjatuh dan tidak bisa bergerak sama sekali.


"Bos, apa yang harus kita lakukan? Mungkin mereka punya penawarnya, Bos tolonglah kami.. Kami masih punya istri dan anak".


"Diamm!! Aku juga baru berpikir jalan keluarnya! Pikirkan keluarga kita jika kita katakan yang sebenarnya, orang itu pasti akan membunuh keluarga kita!!". Teriak Bos mereka.


"Bagaimana kalau kami membantu kalian membebaskan keluarga kalian". Sahut Bian Sue dari balik Goa.


"Jika kau bisa maka kami akan memberitahumu dan pastinya kami akan mengabdi kepada kalian jika kalian berhasil". Jawab Bos mereka.


"Baiklah, ini penawar untuk kalian. Setelah kalian merasa baik kalian harus menceritakan kepada kami". Sahut Liena Sue sambil memberikan penawar kepada mereka berlima.


"Baik kami berjanji". Ucap mereka serentak.


"Kalau begitu ambil satu satu dan telan, Jangan Lupa janji kalian".


"Kami tidak pernah mengingkari janji". Ucap salah satu dari mereka kemudian meminum pil dari Liena Sue.