
Rong Bai yang semakin pucat membuat Sang Ayah dan saudaranya menjadi sangat Khawatir , Pasalnya mereka tidak kebal terhadap racun apapun.
Sedangkan Negara Sheng terkenal akan alkemis dan pembuat Racun sehingga Tabib pun tidak bisa mendeteksi racun jenis apa yang mengenai Rong Bai.
"Ayah Tenanglah, pasti akan ada jalan keluar". Ucap Silas menenangkannya.
"Jalan keluar seperti apa? Tabib bilang jika tidak segera mendapat penawarnya sampai pagi hari, Rong Bai tidak akan bisa di selamatkan".Ucap Kaisar Bai .
"Tabib telah datang". Teriak Kasim dari Luar membuat Kaisar Bai dan Silas menoleh kearah datangnya tabib.
"Apakah kau sudah mendapatkan penawarnya Tabib?". Tanya Pangeran Silas dan Kaisar Bai hampir bersamaan.
"Sudah Yang Mulia, ini. Kita tinggal meminumkannya ke Pangeran Rong". Jawab Tabib itu sembari menunjukkan iso Mangkuk yang ia bawa.
"Ini ... Darah?". Tanya Silas.
"Benar Yang Mulia, Hanya dengan darah Tuan Putri Yang Mulia bisa sembuh". Jawab Tabib.
"Lalu bagaimana keadaan Tian Putri?". Tanya Kaisar Bai.
"Dia baik baik saja Yang Mulia, hanya saja sedikit lelah dan kini sedang beristirahat".
"Baguslah kalau begitu, Silas bangunkan Kakakmu dan bantu Tabib meminumkannya".
"Baik Ayah". Jawab Pangeran Silas.
Pangeran Silas pun segera membangunkan Rong Bai yang semakin pucat, Kemudian Tabib itupun mencoba meminumkan Darah tersebut secara perlahan.
Setelah semuanya diminum, Silas kembali meletakkan tubuh Rong Bai untuk berbaring.
Wajah Yang awalnya pucat kini berangsur angsur membaik membuat Ayah dan saudaranya merasa lega.
"Sungguh ajaib Darah Tuan Putri, Kalau boleh tahu kenapa itu sangat ajaib tabib?". Tanya Kaisar Bai.
"Maaf Yang Mulia, ini adalah rahasia Negara. Kami tidak bisa memberitahukan ke semua orang". Jawab Tabib menolak dengan Sopan.
"Baiklah Lupakan, Yang terpenting Putraku sudah membaik".
"Baik Yang Mulia, Kalau begitu saya pamit dulu". Ucap Tabib Undur diri.
Kaisar Bai terlihat begitu penasaran dengan darah Liena Sue, Sedikit sisa darah dari mangkuk itupun ia simpan ke dalam wadah porselen dari dalam Cincin istimewanya.
"Untuk apa kau menyimpannya Ayah?". Tanya Silas yang bingung.
"Jika membutuhkannya Nanti, Lihatlah Ayahmu mendapatkan setengah Porselen dari mangkuk. Jika darah ini ajaib pasti akan berguna di masa depan". Jawab Kaisar Bai.
"Kau istirahatlah Ayah, Biarkan Aku menjaga Saudara Rong". Ucap Silas.
"Baiklah, Kau juga harus beristirahat".
"Tenang Saja Ayah,". Jawab Pangeran Silas.
Setelah Kaisar Bai Pergi, Silas segera mengambil kasur cadangan yang terletak di dalam Kotak. Ia menggelarnya di lantai dekat Ranjang Rong Bai.
5Karena sudah sangat lelah, Pangeran Silas dengan mudah terlelap setelah kepalanya menyentuh bantal...
....
Di alam mimpi..
"Bai Rong, kemarilah".
"Li Na... Astaga jangan bermain di tengah sungai seperti itu".
"Tidak apa apa, lihatlah airnya sangat jernih dan pastinya tidak dalam". Sahut Li Na .
"Hati hati kau tidak bisa berenang Li Na". Ucap Bai Rong memperingati.
"Kau tenang saja.....Aaaaa toloooong". Ucap Li Na yang akhirnya kakinya terpeleset .
Melihat Li Na yang akan tenggelam ,Bai Rong Pun segera berlari menuju tengah Sungai untuk menolong Li Na. Namun saat ia sudah sampai di tengah sungai, Li Na malah tertawa terbahak bahak kemudian berdiri dengan santainya.
"Hahahahha, Akhirnya kau masuk ke sungai juga Bai Rong". Ejek Li Na.
"Dasar Jahil..". Ucap Bai Rong sambil mencubit pinggang Li Na hungga mengaduh kesakitan.
Di tengah kebersamaan mereka, Datanglah utusan untuk mencari Bai Rong.
"Dewa Rong, Yang Muliq ingin bertemu denganmu". Ucap utusan itu.
"Baiklah, pergilah dulu. Aku akan menyusul". Jawab Bai Rong.
"Kau akan pergi secepat ini ?". Tanya Li Na dengan Raut wajah sedih.
"Tenang saja, tidak akan lama. Bukankah Kakakmu juga sering menemanimu?". Jawab Bai Rong dengan rasa bersalah.
"Itu kan kakaku, dia berbeda denganmu". Jawab Li Na malu malu.
"Tenanglah, aku akan mengunjungimu lain waktu. Ingat selalu pakai giok Ini tau biar aku tahu di manapun kau berada".
"Baiklah, berjanjilah okey".
"Kalau begitu aku pergi dulu, kau cepatlah pulang. Ayahmu pasti mencari mu kemana mana".
"Tentu, kau berhati hatilah".
Bai Rong pun segera menghilang secepat kilat, Sedangkan Li Na kini merasa sedih dan segera secepatnya pulang karena sudah waktunya makan siang.
Bai Rong kini menemui Kaisar Yuwen untuk membahas tentang rencana perluasan Wilayah. Namun karena perbedaan pendapat yang terlalu banyak Dewa Yuwen pun menghentikan pertemuan.
Bai Rong yang sudah bebas kini berencana menemui Kai Yuwen. Namun di tengah perjalanan Batu giok yang sama yang ia berikan kepada Li Na kini bercahaya namun berwarna merah.
"Ada apa dengan Li Na?"Gumam Bai Rong.
Namun ia tetap ingin menemui Kai Yuwen terlebih dahulu. Di tengah perjalanan ia punelihat Kai Yuwen dan Dewi Agung tengah tergesa gesa dan terlihat begitu Khawatir. Ia pun bisa menebak apa yang terjadi dengan mereka.
"Kai, apakah kau ingin menemui Gadis itu?". Tanya Bai Rong.
"Benar, Apakah kau mau membantu kami?". Tanya balik Kai Yuwen.
"Memangnya ada apa?". Tanya Bai Rong.
"Sepertinya Li Na dalam bahaya, Tolong bantu kami Bai Rong".
"Baiklah, Kau bisa mengandalkan ku".
Ketika Sampai di tempat Li Na...
Terlihat Ayah Lina yang sedang sekarat dan Li Na yang kini terluka parah, Bai Rong Ingin menghampiri Li Na namun di hadang beberapa penjaga Dewi Xiang.
Untung Saja Kai Yuwen telah sigap menghadang Dewi Xiang.
Namun Dewi Xiang yang tidak kenal takut itu masih saja berusaha menyerang Li Na. Hingga akhirnya Bai Rong berhasil keluar dari penjaga Dewi Xiang dan menghadang serangan pedang dari Dewi Xiang untuk Li Na.
"Tidak!!! Bai Rong!!". Teriak salah satu Dewa dari belakang Dewa Yuwen yang ternyata Adik dari Bai Rong.
Pedang itu tepat mengenai dada Bai Rong, Sehingga ia mati seketika, Tubuhnya tiba tiba memudar namun ia meninggalkan Senyuman kepada Li Na.
Li Na yang tak tahan pun mengambil belati dari balik jubahnya kemudian menyayat lehernya sendiri.
Sang ibu yang tak tega pun memberikan dua air mata kehidupannya untuk Li Na dan Bai Rong untuk berengkarnasi.
...
Di dunia nyata, Rong Bai merasakan perasaan sedih dan sakit yang teramat dalam. Tak terasa air matanya menetes walaupun ia tengah terpejam.
Matahari pagi sudah tiba, Pangeran Silas kini sudah terbangun dari tidurnya. Hal pertama saat ia terbangun adalah mencari Sosok Rong Bai, Namun ia tidak menemukannya di Ranjangnya .
"Rong Bai!! Rong Bai!!". Teriak Pangeran Silas.
"Ada apa?". Jawab Rong Bai yang ternyata sudah rapi dan kini keluar dari bilik ganti.
"Ku kira kau menghilang, Sudahlah aku akan mandi. Kau sudah baik baik saja kan?".
"Ya, mandilah.. dan segera makan siang.. Kau sudah telat makan pagi Dan aku menyisakan makan siang untukmu".