
"Ayah kami berdua tahun lalu masih sehat dan berada di kota kerajaan pedang dewa, tapi ini sudah dua tahun aku tidak tau keadaannya sekarang"kata sio Ling
"oh begitu, jendral dengan harapan bisakah anda mengampuni saudaraku ini keduanya"kata Mao
"aku sudah berniat mengampuni mereka berdua dari awal, dan aku minta maaf pada kedua paman karena sudah mengurung kalian terlalu lama"kata Mao
"seharusnya kami yang meminta maaf terlah menyerang jendral saat malam itu karena bayaran Raja kerajaan bintang yang lumayan tinggi"kata sio Ling
"Sudah lupakan itu sudah terjadi sangat lama, jadi kalian berdua aku sudah maafkan karena kalian berdua juga akan menjadi saudaraku sekarang"kata Mao
"terima kasih jendral"kata Dao
"Saudara Mao, berikan mereka masing-masing tiga puluh koin emas dan pakaian yang layak, termasuk kedua prajurit yang menjaga mereka sama ratakan yang saudara Dao berikan aku tidak ingin itu menjadi beban ku nantinya karena berbuat kesalahan"kata Mao
"tidak perlu jendral"kata sio Ling
"iya tidak perlu jendral"kata kedua prajurit yang menjaga mereka juga
"oh Kalian menolaknya, tambahkan lima koin emas lagi masing-masing untuk mereka saudara Dao"kata Mao
"siap jendral, Kalian berdua kalo menolak tawaran jendral Mao lagi, dia akan terus menambahkannya terima saja"kata Dao
"Baik terima kasih jendral"kata sio Ling ,Dio Ling dan kedua prajurit itu bersamaan tidak menyangka Mao akan menambah lagi koin emas kalo Mereka menolaknya
"Dan kalian berempat bebas melakukan apapun di kota tua asal jangan berbuat kerusakan saja, aku sangat benci itu, maaf sekali lagi"kata Mao berdiri dan membungkukkan badannya
"Sudah ayo pergi sebelum jendral Mao semakin terus meminta maaf kepada kalian berempat"kata Dao mengajak empat orang itu pergi sebelum Mao bersikap berlebihan
sejak Ke tujuh istrinya mengandung Mao selalu baik kepada orang di sekitarnya dan tanpa sadar Mao juga sering menangis sendirian karena teringat masa lalunya
Setelah kepergian Dao dan empat orang itu Mao masuk ke kamar Untuk istirahat tepat jam sepuluh malam Mao Tertidur setelah mencapai kasur yang dia siapkan sendiri untuk memisahkan dirinya dari istrinya yang sedang hamil
Lima bulan berlalu semua pemimpin pasukan untuk siap membasmi pengganggu di kota tua setiap bulan di adakan pembersihan sampai ke perbatasan kota tua sampai tidak ada lagi pengganggu yang mengganggu orang untuk masuk ke kota tua
Dan ketujuh istri Mao sudah melahirkan semuanya ada yang baru berumur Dua bulan,tiga bulan dan empat bulan lebih
Anak pertama Mao dari istrinya Lian bernama Barra Mao, anak kedua dari Hayu bernama Alin Mao, anak ketiga dari Dewi bernama Agni Mao, anak ke empat dan kelima dari Nora yaitu Dev Mao dan Nira Mao , anak ke enam dari Mira bernama Mirza Mao, anak ketujuh dari Sinta bernama Joy Mao, anak kedelapan dari Rani bernama Jay Mao
Mao memiliki delapan anak dari tujuh istrinya lima laki-laki dan Tiga perempuan ,hanya Nora yang melahirkan dua anak kembar, istri Mao yang lain hanya melahirkan satu anak saja
Saat ini sudah dua tahun berlalu anak Mao sudah berumur sama-sama dua tahun lebih, setiap hari Mao hanya menemani istri-istri dan anak-anaknya bermain setelah waktu pagi selesai pertemuan membahas masalah kota tua
Sekarang kota tua sudah semakin padat dan semakin besar lagi Mao mengembangkannya
"Lihat lah anak-anak kita mereka bermain bersama saat masih kecil begini"kata Mao melihat anaknya berlari sana sini saat baru mulai bisa berjalan
"Iya sayang, tidak terasa sudah lama kami bersama mu"kata Lian
"Iya sayang kamu sangat bahagia bersamamu"kata Mira
Satu persatu istri Mao menyatakan kebahagian mereka di lapangan itu melihat Anak-anak mereka asik bermain
"Mereka nanti kalo sudah umur berapa tahun sayang akan mengajarinya memakai pedang"tanya Dewi
"Aku tidak tau sayang, mungkin nanti kita serahkan mereka sama kakek saja di akademi"kata Mao
"kenapa tidak sayang sendiri yang mengajari mereka"kata Hayu
"Hahahaha kau lihatlah kota tua ini dalam lima tahun terakhir sudah seramai ini, apa lagi dalam lima tahun ke depan akan bagaimana"kata Mao sambil tertawa
"Iya benar, Sebagai seorang jendral suami kita juga punya tanggung jawab kepada penduduk yang ada di kota tua ini"kata Mira
"Buyut datang"kata Zeng datang dari belakang Mao
dengan segera kedelapan anak Mao berlari menghampiri Zeng yang baru datang dan memeluk Zeng , Zeng memang akrab dengan anak Mao setiap hari dia kesana hanya untuk melihat buyutnya sudah sebesar apa
"Hahaha apa cucu-cucuku juga lupa dengan kakek ganteng ini"kata Run paman Mao
"Sini kalian sama nenek saja"kata Disa bibinya Mao umur Disa lebih kecil dari Mao beberapa tahun
Keempat orang itu setiap hari datang untuk melihat kelucuan anak Mao dan mereka selalu saling merebut satu sama lain untuk menarik perhatian anak Mao
"Kakek, paman dan bibi setiap hari datang kemari apa kalian tidak bosen"kata Mao
"Hahaha bagaimana kami akan bosen melihat anak-anakmu sangat lucu-lucu sekali, kalo kamu mengizinkan kakek membawanya satu baru kakek tidak akan bosen"kata Zeng sambil mengelus anak-anak Mao
"Hahaha aku sih tidak keberatan apa yang kakek ucapkan, tapi tanya saja ke istri-istriku ini"kata Mao tertawa
"hahahaha Tidak bisa kakek membawanya karena kami juga berniat menambah lagi kalo bisa karena keimutan anak kami tidak bisa melepaskannya"kata Lian sambil tertawa
"ah sudahlah tiap hari juga kakek datang kemari untuk melihat mereka"kata Mao
"tapi kakek sejak pertama mendengar nama-nama mereka, kenapa kamu tidak menyematkan nama keluargamu kepada anak-anakmu malah menyematkan namamu sendiri"kata Zeng
"iya aku juga penasaran sayang"kata Nora
Semua yang ada di situ bertanya satu persatu kenapa Mao tidak menyematkan nama keluarga ayahnya kepada anaknya
"oh itu, karena keluarga Liu itu terlalu terhormat bagi semua keluarga di negara ini, aku menyematkan namaku di nama anak-anakku karena mereka akan membangun kota tua ini suatu saat nanti menjadi kota maju karena disinilah awal perjuanganku selama kurang lebih delapan tahun ini"kata Mao
Mao pun menjelaskan banyak hal kepada istrinya tentang bagaimana dia dulu sebelum menjadi jendral di kota tua dan perjalanan hidupnya di lapangan itu
Kehidupan Mao bahagia bersama dengan ke tujuh istrinya dan ke delapan anaknya di kota tua, Mao sudah membangun kota tua lebih maju dari pada kota di seluruh negeri yang ada di kelima kerajaan
Setelah anak-anaknya dewasa Mao mengajarkan anak-anaknya banyak tehnik pedang setiap hari sampai anak-anaknya berumur dua puluh tahun mau berumur enam puluh lima tahun begitu juga dengan istri-istrinya
Mao melepaskan jabatan jendral di kota tua saat umurnya sudah tujuh puluh tahun dan semua Bawahannya yang dulu juga sudah Siap untuk pensiun dan melepaskan jabatan masing-masing ke anak-anak mereka
Dalam aturan yang Mao buat anak laki-laki pertama Mao menjadi jendral yang di angkat langsung oleh Mao setelah Mao melepaskan jabatannya sebagai jendral di kota tua, begitu juga dengan Pemimpin pasukan mulai melepaskan jabatan mereka masing-masing memberikan Gelar pemimpin pasukan itu pada anak-anak mereka
Karena di akademi yang sama dengan anak-anak Mao tentu Barra Mao kenal dengan pemimpin pasukan yaitu anak pemimpin pasukan sebelumnya dan mereka akrab satu sama lain
Setelah Barra Mao menjadi jendral kota tua melanjutkan perjuangan Mao dalam hal membangun kota tua lebih maju di situ mulai Berkembang pesat pada saat Barra Mao menjadi jendral kota tua
Satu persatu Saudara-saudara Mao meninggal dunia karena usia sudah sangat tua, begitu juga dengan istri-istri Mao sudah mulai menua dan meninggal satu persatu, istri Mao yang meninggal pertama adalah Lian dan itu membuat Mao sangat sedih
Di susul tahun kedua istri Mao Hayu meninggal lagi saat umur Mao sudah hampir delapan puluh tahun, semua saudara Mao yang sudah tua satu persatu sudah tidak ada lagi yang tersisa termasuk prajurit tua juga satu persatu sudah meninggal dunia
"Anakku Barra,Agni,Alin,Dev,Nira,Mirza,Jay,Joy dan kelima istriku tercinta, jika sudah waktunya aku meninggalkan dunia ini, anak-anakku jangan kalian memperebutkan harta karena itu akan bisa membunuh satu sama lain di antara kalian, kedua tolong kalian saling menjaga satu sama lain agar bisa terus memimpin kota tua ini menjadi lebih baik lagi, ketiga harta hanya akan membawa bencana bagi kalian uhuk, uhuk,uhuk"kata Mao berbaring sakit di lihat oleh anak-anak dan istri-istrinya yang tersisa
Semua orang yang melihat Mao sakit meneteskan airmata satu persatu, karena mereka pikir sudah saatnya Mao meninggalkan dunia ini
"dan satu lagi pesanku anakku, Jika kalian berniat mengambil pedang di pinggangku ini, kalian hanya akan menyusahkan kalian, pedang ini memang pedang kuat tapi pedang ini juga kalo bukan dia memilih pemiliknya sendiri, pedang ini bisa membunuh kalian, sebaiknya jika ada niat kalian urungkan saja niat itu, karena uhuk uhuk, bukankah kakek Dao kalian sudah menceritakan sejarah pedang ini"kata Mao
"ayah jangan bilang seperti itu"kata Barra anak Mao semakin deras meneteskan air mata
"Barra aku percayakan adik-adikmu di tanganmu, dan kuburkan ayah jika sudah tidak lagi ada di dunia ini bersama dengan pedang ini, uhuk uhuk"kata Mao
Mao yang terbaring lemas hanya bisa bicara beberapa kata terus menasehati anak-anak dan istri-istrinya yang terus menerus menangis tanpa suara
Tepat malam itu, Mao menghembuskan napas terakhirnya pada umur delapan puluh satu tahun lebih, melihat Mao sudah tidak bergerak dan bicara cukup lama dan memejamkan matanya , Barra sebagai anak pertama memanggil Mao tapi tidak ada jawaban sama sekali, dan Barra menyadari ayahnya sudah tidak ada lagi di dunia ini
Tepat Barra,adik-adiknya dan ibu ibu mereka menangis sejadinya di tempat itu, sampai ibu mereka ada yang pingsan karena menangis dan juga Dua adiknya yang paling di sayangi Mao yang paling kecil juga pingsan, Barra dan adik-adiknya yang bisa menahan itu mengurus ibunya lebih dulu dan membawa ibu mereka yang masih memiliki napas ke kamarnya
Barra Menyiapkan pemakaman ayahnya yaitu Mao Liu yang sudah tutup usia meninggalkan banyak pesan pada anaknya selama hidupnya
Mao Liu di kuburkan di belakang kediamannya bersama dengan dua istrinya yang sudah meninggal dunia lebih dulu dan di sana juga ada kubur pemimpin pasukan yang sudah lebih dulu meninggal dan kubur Kakek dan paman-pamannya Mao , setelah mendengar Mao meninggal bibi Mao yang paling kecil yang juga Anak kakeknya menangis sejadinya di rumahnya
Setelah Mao meninggal ,kepemimpinan jendral kota tua terus berjalan damai pada masa anaknya Barra Mao memimpin beberapa tahun Sampai umur empat puluh tahun, lalu menyerahkan jabatan jendral tersebut kepada adiknya yaitu Dev Mao, pada masa kepemimpinan Dev Mao tidak banyak yang berkembang di kota tua karena kepemimpinan Dev Mao hanya bertahan Lima tahun, setelah memutuskan untuk melepaskan jabatan jendral ya dan menyerahkannya pada adiknya yaitu Mirza Mao, di masa Mirza Mao sama seperti Dev Mao hanya bertahan selama lima tahun tidak mampu mengembangkan kota tua lebih maju lagi, pada masa Joy Mao dan Jay Mao baru kota tua Berhasil mendirikan Kota maju dengan gedung-gedung tinggi, tapi itu pun Jay dan Joy membangun itu Saat sudah berumur tujuh puluh tahun lebih dan di situlah awal dimana kota tua menjadi kota pertama dengan gedung dan teknologi pertama di dunia pada masa Jay dan Joy yang setelah itu bukan lagi gelar jendral yang di pakai saat sudah kematian Joy dan Jay tapi sudah berbentuk pemerintahan kota Dan di bagi berdasarkan kecamatan, nama Mao terus di sematkan pada anak-anaknya Anak Mao karena untuk mengenang ayah mereka Mao Liu yang sudah dari awal membangun kota tua itu.