Jendral Perang Pedang Dewa Kematian

Jendral Perang Pedang Dewa Kematian
SESUATU YANG BARU


pertemuan pagi hari yang biasa di lakukan berakhir sampai siang hari dan Mao sendiri kerjaan sehari-harinya hanya mengatur tugas semua pemimpin pasukan dan pemimpin yang lainnya


selama satu bulan penuh Pembangunan markas Perdagangan,markas pembangunan dan markas pengembangan sudah selesai dengan pasar sudah selesai seratus persen, sedangkan perumahan baru di bangun sebagian karena belum banyak orang yang ingin menetap di kota tua


selama sebulan terakhir tidak ada berita serangan datang ke arah kota tua, Mao sendiri hanya mengerjakan hal yang biasa dia kerjakan dari pagi sampai sore hari


"ini sudah sebulan penuh dan pembangunan sudah selesai seperti yang di rencanakan tiga pemimpin untuk memajukan kota tua, Jadi bagaimana kelanjutan untuk memajukan kota tua"kata Mao duduk di singgasana pagi hari setelah sarapan bersama semua pemimpin dan yang lainnya


"Bagaimana kalo kita membuat sebuah kertas-kertas kecil untuk orang di kota tua"kata Bram


"maksud pemimpin Bram bagaimana"tanya Mira yang ada di dekatnya


"Maksudku itu surat izin di kota tua, di mana surat izin itu harus di tanda tangani oleh jendral Mao sendiri, misal jenis surat izin perdagangan di kota tua, surat izin tinggal, surat izin prajurit dan sebagainya"kata Bram


"ouh maksud kakek Bram itu tanda pengenalan diri yang tinggal di kota tua, tapi itu belum pernah aku dengar sebelumnya"kata Mao


"Yap benar itu jendral belum dengar, tapi aku membuatnya sendiri karena untuk mengontrol keamanan Di kota tua"kata bram


"aku setuju"kata Mira


"aku setuju"kata Ding


semua orang yang ada di ruang pertemuan itu setuju atas usulan Bram akan hal tersebut


"baiklah aku juga akan setuju karena kalian semua setuju"kata Mao dengan lemas karena dia akan menandatangani banyak kertas mulai setelah Bram membuat itu


"kenapa jendral terlihat lemas padahal setuju"tanya Dewi


"ouh mungkin karena dia akan merasa capek karena harus menandatangani banyak kertas jika itu di setujui hahahahha"kata Mira sambil tertawa


"iya juga"kata Dewi


"jangan khawatir jendral, ini Adalah alat dari sebuah tinta yang dapat jendral buat sendiri jadi dengan menempelkan cap seperti ini jendral tidak perlu lagi tanda tangan banyak hal"kata Mira menunjukkan alat cap yang belum berbentuk apa-apa


"Wao itu sangat mengagumkan dari mana saudari Mira mendapatkannya"kata Lian


"oh ini dari perdagangan di sebuah kota yang menggunakan cap ini untuk menentukan pemilik barang sebenarnya, jendral jangan khawatir jika sudah tanda tangan di dalam cap ini maka itu tidak dapat di rusak atau di tiru orang lain lagi"kata Mira


"Benarkah"kata Mao terlihat senang


setelah itu Mira maju menuju kursi singgasana Mao dan menunjukkan caranya dalan sekejap Mao menulis tanda tangan persis seperti tanda tangan miliknya yang susah di tiru orang


"Ini sesuatu yang bagus tapi seberapa besar ukuran tanda pengenal di kota tua ini"kata Mao


"seperti ini jendral , sebuah potongan kecil yang terbuat dari kertas berkualitas tahan air dan sedikit tahan api"kata Bram menunjukkan kertas bertuliskan kecil yang menunjukkan namanya sebagai pemimpin pengembangan alamat lahir, tempat tinggal sekarang dan sebagainya, setelah itu Bram maju menunjukkan kertas kecil itu kepada Mao


Bram menyuruh Mao menempelkan cap pada kertas namanya yang dia bawa ke hadapan Mao sambil menunjukkan kepada Mao tentang apa yang tertulis kepada Mao setelah itu Bram kembali ketempat duduknya


"setelah aku lihat itu sesuatu yang bagus, jadi semuanya harus mempunyai tanda pengenal seperti itu jika ingin di akui di kota tua"kata Mao tersenyum tipis


"aku juga ingin"kata Ding


satu persatu meminta di buatkan kertas seperti itu untuk tanda pengenalnya dan Bram tau arti senyuman seringai Mao sebelumnya untuk membuat Bram bekerja lebih keras lagi


"sudah untuk semua pemimpin dan prajurit di kota tua silahkan kalian datang ke tempatku untuk membuat ini dengan mengisi data kalian masing-masing"kata Bram


satu satu dari mereka mengangguk mendengar Bram berkata seperti itu


"jadi selanjutnya bagaimana dengan tujuan untuk menaklukkan kerajaan bintang"kata Mao


"kami sudah siap jendral kapanpun jendral mau kami sudah siap menangkap si Liu dan menurunkan dari jabatannya sebagai raja kerajaan bintang"kata Roki


"jadi semua pemimpin selatan selama satu bulan sudah siap, baiklah sekarang aku tugaskan ke empat pemimpin selatan untuk membawa si Liu ke hadapanku dan berapa lama waktu yang di butuhkan"kata Mao


"jika di perkirakan dari perjalanan untuk ke kerajaan bintang dengan kuda bisa menempuh tiga hari, jika di totalkan sama waktu kembali dan menyelinap masuk dengan diam ke kerjaan bintang mungkin kami butuh waktu satu Minggu lebih jendral dan dengan prajurit yang kami bawa tidak banyak hanya beberapa saja"kata Roki


"iya lebih bagus, lebih sedikit prajurit yang kalian bawa karena akan mengurangi resiko penyamaran kalian"kata Mao


setelah memberikan instruksi begitu dan menyuruh semuanya bubar ,satu persatu mereka keluar dari ruangan pertemuan di kediaman Mao tersebut


sedangkan Mao berpindah tempat duduk di meja sebelah singgasana untuk menandatangani berkas di meja kerjanya


"Sepertinya Kakek, paman, bibi dan yang lainnya ada yang ingin di bicarakan"kata Mao melihat sebagian orang belum keluar


"Mungkin maksud kakek,paman dan bibi anda kapan bisa masuk untuk mengajar di akademi pedang dan panah tersebut, begitu saja anda tidak paham jendral"kata Dewi


"ouh aku lupa maaf kek, untuk mengajar di akademi pedang kakek membutuhkan apa saja"kata Mao menghentikan mengecap kertas di atas meja


"tidak banyak, kakek hanya ingin Beberapa alat untuk latihan di tempat itu"kata Zeng


"oh masalah itu, maaf kakek semuanya sudah kami siapkan di dalam akademi berupa senjata asli dan senjata kayu untuk berlatih jadi anda jangan khawatir dan ada juga kamar tidur berjumlah sepuluh ribu lebih"kata Ding


"Oh benarkah terima kasih"kata Zeng di ikuti paman dan bibi Mao yang ada di situ


"tunggu dulu kakek, karena belum ada Murid Dari anak-anak di kota tua, maukah kakek mengajarkan para prajurit pedang dan panah agar bisa kakek latih , kakek bisa tentukan sendiri prajuritnya"kata Mao Sambil masih duduk di meja tempat berkas menumpuk lumayan banyak


"Kakek Akan memilih beberapa Orang untuk kakek latih menjadi prajurit terbaik dan tugasnya adalah menjaga Keamanan di kota tua"kata Zeng Kakeknya Mao


"Iya benar itu ide yang bagus kek, kita tidak hanya akan memperkuat prajurit Untuk menjaga luar kota tua, kita juga membutuhkan prajurit untuk menjaga di dalam kota tua, aku sangat setuju dengan ide kakek, tapi berapa prajurit yang akan kakek latih menjadi asasin"kata Mao sambil bertanya


"Kakek sendiri berencana mengambil prajurit yang masih muda, yang baru berumur di bawah Dua puluh lima tahun dan di atas dua puluh tahun untuk menjaga kota tua dan keamanan di dalamnya"kata Zeng


"Baiklah jika itu keinginan kakek, Saudaraku Dao tolong antarkan kakek, kedua paman dan bibiku ke empat markas untuk memilih prajurit untuk di latih menjadi asasin"kata Mao


"siap jendral, Ayo kakek Miu saya antarkan"kata Dao berdiri dan mengajak Zeng ,paman dan bibi Mao untuk pergi


Setelah kepergian Dao, Zeng dan yang lainnya yang tersisa di ruangan tersebut hanya Dewi, Lian,Ding,Mira dan Bram