Jendral Perang Pedang Dewa Kematian

Jendral Perang Pedang Dewa Kematian
PERTEMPURAN


"Aku tidak membandingkan pasukan di ketiga markas, jika kalian dari markas barat silahkan hancurkan, bunuh dan ratakan pasukan musuh bersama dengan prajurit yang ada di ketiga markas lainnya dan berusaha lebih keras karena markas barat adalah tempat pertahankan jendral untuk kita, seraaaaaanggggggggh"kata Ben berteriak keras setelah melihat pasukan musuh sudah mulai mendekati kedua bukit tersebut


Mendengar Ucapan Ben semua prajurit menyerbu ke arah pasukan musuh yang ada di depan mereka, terjadi lah pertempuran yang sangat dahsyat di antara kedua pasukan


Sling Sling Sling


Slassss


Slaaassss


tsuk


Tsuk


Tsuk


Suara pedang beradu, tebasan menghantarkan beberapa orang menuju kematian di tempat itu dan suara pemanah dari arah bukit juga terdengar beberapa kali menembus badan seseorang pasukan musuh


"Apa kita juga akan membantu mereka jendral"tanya Ben


"tunggu, jika ada kelihatan beberapa kuda menuju ke arah peperangan baru kita maju, karena takutnya mereka adalah jendral terlatih dari dua kerajaan jika prajurit kita tidak siap dengan kedatangan jendral musuh maka bisa membahayakan prajurit kita"kata Mao


"jendral itu"kata Dao menunjuk ke arah belakang sedikit jauh melihat bahwa puluhan kuda musuh sudah siap membantu pasukannya


"itu yang aku maksud, kalian semua pemimpin pasukan apa sudah siap menghadapi orang berkuda mereka"kata Mao


"siap jendral"kata semua pemimpin pasukan yang masih bersama Mao menaiki kuda


"Baiklah kalian terobos area peperangan dan hadang pasukan kuda tersebut jangan sampai mereka mengganggu peperangan, jika bisa bunuh mereka semua"kata Mao


"siap jendral, ayo maju"kata Ben memberi aba-aba


Sedangkan Mao hanya duduk di atas kuda melihat peperangan tersebut berjalan sesuai rencana, dimana pasukan musuh sudah berukurang cukup banyak


Hingga sore hari pertempuran tersebut masih berlanjut, pasukan musuh berkurang cukup banyak yang terlihat oleh Mao dari kejauhan


sedangkan pemimpin pasukan sedang menghadang pasukan berkuda tersebut dan kembali ke tempat Mao berada dengan setelah sore itu


"Kami sudah meratakan pasukan kuda mereka jendral"kata Ben kembali ke arah Mao bersama pemimpin pasukan lainnya


"Hahaha bagus, padahal aku hanya menyuruh pemimpin pasukan yang menyerang pasukan berkuda tersebut, tapi kenapa saudara Dao juga ikut"kata Mao melihat Dao juga ikut kembali bersama pemimpin pasukan lainnya, Mao tertawa cukup keras


"hahaha maaf jendral aku terlalu bersemangat karena perang ini"kata Dao dengan tertawa


"Tapi apa kalian tidak menemukan ke janggalan di perang ini"tanya Mao


"Benar jendral setelah kami mengalahkan puluhan pasukan berkuda milik musuh aku melihat ini bukan lima ratus ribu pasukan yang menyerang kita, tapi terlihat setengahnya dan anehnya lagi tidak ada pasukan musuh di depan sana lagi juga raja mereka"kata Ben


"Coba kalian periksa di belakang kedua bukit itu takutnya Mereka malam ini akan mentang kita lewat belakang"kata Mao


"Biar saya naik ke atas bukit untuk memeriksanya jendral"kata Uda


"saya juga jendral"kata Alon


"Karena kedua saudaraku mengajukan diri, naiklah ke bukit itu saudara Alon ke arah bukit sebelah kanan dan saudara Uda ke bukit sebelah kiri"kata Mao


"siap"kata Alon dan Uda dengan cepat pergi memacu kudanya Ke atas kedua bukit tersebut


Sedangkan Mao menunggu bersama beberapa pemimpin pasukan di dekatnya menunggu laporan Uda dan Alon


"iya prajurit kita sudah hampir menghabisi sebagian dari mereka"kata Tian


"jangan anggap menang dulu ini baru permulaan, dan pasukan musuh tidak tau di mana sisanya"kata Eder


Mao hanya mendengar pembicaraan antara pemimpin pasukan di dekatnya satu sama lain


"Benar jendral pasukan musuh yang menunggangi kuda sudah ada di belakang bukit sebelah kiri dengan prajurit tidak berkuda di belakangnya"kata Uda setelah kembali mengintai


"Di sebelah kanan juga jendral"kata Alon


"Jadi mereka berniat mengepung kita dari belakang"kata Dao


"sepertinya kedua raja itu di sebelah kiri dan kanan"kata Eder


"Jangan bunuh raja mereka, karena itu akan menimbulkan masalah besar bagi kedua kerajaan tersebut, sebaiknya tangkap kedua raja itu dan bawa kemari bagaimanapun keadaannya tapi jangan bunuh mereka"kata Mao


"benar kata jendral, itu akan menimbulkan masalah besar jika raja kedua kerajaan itu terbunuh bisa jadi rakyatnya kebingungan siapa yang akan memimpin mereka"kata Dao


"Begini saja, aku dan pemimpin pasukan lainnya akan menangkap raja yang ada di sebelah kiri sedangkan sisanya akan menangkap di sebelah kanan, jendral tidak perlu turun tangan sendiri"kata Ben


"Baik aku akan ke sebelah kanan, bersama bersama yang lain juga"kata Eder


"Baik terserah kalian berdua tapi jangan ajak saudara Dao"kata Mao


"siap jendral"kata Eder dan Ben langsung bergerak


Eder di ikuti tiga pemimpin pasukan dan Ben di ikuti empat pemimpin pasukan ke arah masing-masing yang di tuju


"Hah jendral kenapa tidak mengizinkanku untuk ikut lagi padahal perang ini sangat seru"kata Dao dengan lemas


"Saudara Dao, aku tau sipatmu dan itu tidak bisa di ubah, nanti kamu pasti akan membunuh dan meratakan pasukan musuh dan bisa saja membunuh raja mereka"kata Mao


"Baiklah"kata Dao


Mao dan Dao turun dari kuda miliknya setelah malam hari sedangkan prajurit yang empat puluh ribu orang masih berperang melawan pasukan musuh yang tidak ada habisnya


"apa kita tidak membantu mereka jendral"kata Dao saat duduk bersama Mao di tanah


"Apa saudara Dao sangat ingin berperang bantulah jika ingin tapi hanya boleh di pertempuran depan, tidak untuk menangkap kedua raja tersebut"kata Mao


"siap jendral"kata Dao sambil berdiri dengan semangat lalu pergi ke arah pertempuran tersebut


sedangkan Mao menggelengkan kepalanya melihat Dao yang begitu semangat di pertempuran tersebut


"Tak lama semua prajurit itu akan mati di bikinnya"kata Mao melihat kepergian Dao ke arah pertempuran tersebut


malam itu Mao berbaring di tanah tanpa memikirkan pertempuran tersebut sambil melihat ke atas langit, bulan terang dan bintang menyinari malam itu dengan cahayanya


Mao berbaring sampai lupa bahwa dia sedang berada di peperangan, sampai Mao tertidur di tempat dia berbaring di sela suara pedang dan tebasan yang tidak jauh dari tempatnya berbaring


sedangkan Ben dan Eder yang menuju ke belakang kedua bukit tersebut malam itu masih memikirkan rencana apa yang akan mereka gunakan untuk menangkap raja yang memimpin peperangan tersebut


"Malam ini kita akan diam-diam langsung menerobos masuk ke pasukan musuh dan membawa rajanya pergi, tunggu sampai semua pasukan musuh lengah"kata Ben kepada pemimpin pasukan yang mengikutinya


Ben dan pemimpin pasukan yang bersamanya menunggu kesempatan untuk menangkap raja yang ada di belakang bukit tersebut


Sedangkan di tempat Eder sama halnya dengan rencana Ben menunggu kesempatan untuk menangkap raja yang dia incer untuk di bawa ke hadapan Mao