
setelah tiga hari berturut-turut Mao mengunjungi Markas prajurit untuk memberikan semangat dan menyuruh untuk tetap Mao sendiri lupa akan berlatih mengasah ilmu pedang miliknya.
tok tok tok
tok tok tok
suara pintu kamar Mao di ketuk oleh seseorang yang membangunkan Mao dari tidurnya , Mao sudah tau kalo itu Lian yang menjadi perencana kerjanya.
"masuk"kata Mao sambil bangun dari tidurnya
Lian pun masuk melihat Mao baru bangun.
"apa rencana kita hari ini Lian"kata Mao yang sudah terbiasa memanggil Lian.
"karena rencana sebelumnya mungkin membosankan untuk jendral jadi hari ini rencana jendral harus berlatih mengasah kemampuan jendral"kata Lian
"baik kamu ingin ikut atau tetap di sini"kata Mao sambil menyiapkan baju dan pedang dewa kematian di ikat di pinggulnya.
"kalo jendral tidak keberatan"kata Lian sedikit ragu.
"baiklah kamu ikut saja aku akan berlatih seharian jadi jangan lupa bawa makanan karena kita akan latihan di hutan"kata Mao.
"baik saya siapkan dulu jendral"kata Lian sambil keluar dari kamar Mao
Mao ke luar dan menunggu Lian di Depan pintu kediaman jendral tak lama Liam sudah membawa bekal di tangannya sebuah kotak untuk bekal yang cukup untuk berlatih seharian.
Mao kemudian mengajak Lian menuju hutan dan jauh di dalam hutan Mao berhenti.
"disini saja, kamu duduk saja di balik pohon besar itu"kata Mao sambil melihat dia sudah cukup jauh dari hutan dan menyuruh Lian duduk di balik pohon besar.
Mao mulai berlatih tiga jurus pedang dari tehnik pedang yang dia kuasai selama beberapa jam penuh berbagai tebasan Mao lakukan dan bergerak dengan cepat kesana kemari melatih tiga tehnik pedang yang dia kuasai.
sementara Lian yang melihat latihan Mao merasa terkejut melihat Mao bergerak seperti tidak dapat terlihat oleh mata.
"sudah cukup aku masih menguasai seluruhnya"kata Mao saat matahari sudah menunjukkan siang.lalu Mao menuju ke arah Lian yang duduk di bawah pohon beralaskan kain.
"maaf jendral aku melamun"kata Lian tersadar dari lamunannya.
"mari makan aku sudah lapar"kata Mao sambil mengajak Lian makan.
Lian menyiapkan makanan untuk Mao, mereka pun mulai makan setelah itu.
Mao mengusap bibir Lian dengan kain kecil karena di bibir Lian ada sedikit makanan.
"maaf"kata Mao saat selesai membersihkan bibir Lian
"Itu aku"kata Lian berdiri tergesa gesa dan terjatuh di pelukan Mao.
ke empat mata saling menatap di bawah pohon besar itu dan membuat jantung Mao dan Lian berdegup sangat kencang. lalu Mao perlahan mencium bibir Lian dan Lian pun tidak menolak ciuman Mao, malah ikut menikmati ciuman Mao.
Di tempat bawah pohon besar beralaskan kain Mao dan Lian masih saling berciuman dan kelamaan tangan mereka mulai saling meraba satu sama lain.
perlahan demi perlahan Mao dan Lian saling membuka baju masing-masing dan masih saling berciuman menikmati itu.
"Aku belum pernah melakukan ini jendral, jadi ini pertama bagiku"kata Lian menatap Mao yang sudah di atasnya.
"aku juga tapi aku menginginkan mu sudah lama aku memendam ini, apa kamu ingin melakukannya dan aku akan berusaha bersikap baik"kata Mao menatap Lian
"tapi ini sangat besar apakah akan bisa"kata Lian melihat pedang panjang Mao yang besar.
"aku akan mencobanya"kata Mao sambil mencium bibir Lian.
"ahhhhhhh , ahhhh pelan-pelan"kata Lian meringis kesakitan karena itu pertama baginya berhubungan intim dan darah keluar dari Goa milik Lian
"iya ahhhh aku akan pelan"kata Mao
Lian dan Mao mulai main dengan irama pelan dan Mao mulai cepat memainkan pedangnya di dalam goa milik Lian, sehingga suara Rintihan Lian membuat Mao semakin bersemangat memainkan pedang miliknya di goa milik Lian. Mao mulai mencium dua gunung kembar milik Lian secara bergantian, membuat Lian semakin keenakan dan Mao semakin semangat melakukan hubungan itu.
di hutan yang sepi itu hanya terdengar rintihan Lian dan suara Mao yang menikmati hubungan intim pertama mereka, Mao dan Lian melakukan itu sampai sore hari dengan beberapa gaya sampai merasa lemas dan tertidur.