Jendral Perang Pedang Dewa Kematian

Jendral Perang Pedang Dewa Kematian
MIRA


pagi hari seperti biasa Mao terbangun, setelah membersihkan diri dan berganti pakaian Mao langsung menuju ruang makan untuk sarapan, setelah sarapan Mao menuju ke ruang pertemuan dan menemukan semuanya sudah ada di sana menunggu kedatangan Mao


"Pertemuan lagi ini mungkin ada berita baru, tinggal tiga hari lagi pelatihan itu selesai, apakah ada hal yang menarik, atau ada yang ingin kalian sampaikan padaku"kata Mao


"saya jendral, sebagai seorang yang sangat menyukai berpedang apakah jendral tidak ingin membangun akademi pedang untuk anak muda yang ingin belajar memakai pedang"kata Liam


"saya juga jendral, sebagai orang yang sangat menyukai panah apakah jendral juga tidak ingin membangun akademi panah untuk anak muda yang ingin belajar memanah"kata Dai tidak mau kalah


"baiklah itu usul yang bagus setelah perang banyak yang akan kita kerjakan nantinya jadi aku setuju untuk membangun kedua akademi itu, apa ada yang lain lagi, kalo tidak ada di ini dua kertas gambaran arena latihan kelincahan dan kekuatan yang sudah aku bikin, tentu kalian sudah tau hari ini kita akan membangun dua arena latihan untuk kekuatan dan kelincahan"kata Mao dan menyodorkan lembaran itu ke Dao


"saudara Dao silahkan bangun arena itu, tentu kau mengerti apa yang aku gambar"lanjutnya


"siap jendral"kata Dao dengan wajah senang karena baru melihat arena latihan seperti itu


setelah itu semuanya bubar dan Mao juga mengikuti instruksi dari Lian apa akan dia kerjakan hari ini, Mao mengikuti seluruh rencana pekerjaan yang di buat oleh Lian


di jalanan kota tua Mao berjalan bersama Lian dan Dewi mengelilingi kota tua bersama, dalam perjalanan Mao mengajak Dewi dan Lian ke bar tempat Mira yang Mao bicarakan sebelumnya akan di jadikan seorang pemimpin perdagangan dan kebetulan jalan yang mereka tuju Mengarah ke tempat bar Mira berada


"Jendral Mao selamat datang"kata Mira yang sedang menyiapkan minuman di tempat sambil melihat ke arah Mao yang membuka pintu bar itu


"Hai Mira bagaimana kabarmu"tanya Mao sambil mendekat dan duduk di kursi sambil mengajak Dewi dan Lian


"saya seperti biasa jendral hanya menyiapkan makanan dan minuman bagi orang yang berkunjung, tunggu sebentar aku akan mengantar minuman dan makanan ke pengunjung"kata Mira sambil berjalan membawa minuman dan makanan


"dia cukup cantik apa jendral tidak mau menambah calon istri"kata Dewi


Mendengar ucapan Dewi Mao berpikir sambil memandang Lian dan Dewi terlihat tidak keberatan atas perkataan Dewi


"Aku lagi pokus memikirkan bagaimana membangun kota ini jadi tidak ada waktu untuk mengurusi hal seperti itu,"kata Mao sambil berfikir, Mao berpikir Mira tidak kalah cantik dengan Lian dan Dewi


"Dia wanita yang cantik tentu saja akan menarik perhatianmu jika kamu sedang tidak mengurus kota ini"kata Lian


"Apa yang sedang kalian bicarakan sepertinya asik sekali, Apa yang membawa jendral Mao berkunjung ke bar milikku kali ini"kata Mira yang datang setelah mengantar pesanan untuk pelanggan


"Tidak ada aku hanya sedang berjalan-jalan dan kebetulan lewat jalan mengarah kesini, Oh ya Mira ini kenalkan Dewi dan Lian calon istriku. Dewi,Lian ini Mira Yang akan menjadi pemimpin perdagangan nanti. oh ya Mira boleh minta bir dari daerah lain dan makanan daerah lain"kata Mao sambil berbolak-balik melihat Mira, Dewi dan Lian


"Saya Mira, tentu akan aku siapkan.mohon tunggu sebentar jendral, nona Lian dan nona dewi"kata Mira sambil berjalan masuk keruangan dengan muka sedikit masam karena Mao yang dia sukai sudah mempunyai dua istri


"tuh kan apa aku bilang juga apa dia menyukaimu jendral, sebelum kau sebut kami calon istrimu dia masih tersenyum sekarang setelah kamu sebut kami calon istrimu Dia bermuka sedikit masam"kata Lian


"oh jadi seperti itu"'pikir Mao


tak lama Mira keluar membawa beberapa gelas bir dan makanan dari daerah lain yang sudah Mira siapkan sebelumnya ketika Mao akan datang berkunjung


"ini makanan dari pinggiran kota di kerajaan Bulan yang sangat enak bila di nikmati bersama dengan bir disana"kata Mira sambil menaruh makanan dan bir di atas meja


"Benar makanan ini lebih enak jika minum bir"kata Lian yang langsung minum dan makan makanan di atas meja


"Benar ini sangat enak"kata Dewi sambil makan dan minum


"mmmmm"gumam Mao juga ikut makan dan minum


"Bagaimana?"tanya Mira menatap Mao yang tidak berkomentar apa-apa


"Ini lebih dari enak saja tapi sangat luar biasa, apa bir dan makanan ini berjumlah banyak"kata Mao sambil bertanya


"jumlahnya terbatas jendral, karena makana ini terbuat dari beras ketan yang di panaskan, dalan masa perang antar kerajaan membuat produksi di kota daun menurun dalam menanam beras untuk membuat makanan ini"kata Mira


"apa di kota tua tidak bisa menanam beras ketan itu"tanya Mao


"di kota tua bukan tidak bisa menanam tapi di karenakan banyak orang mengungsi hanya tinggal sedikit orang di kota tua ini,para pedagang dan petani tidak banyak yang tersisa"kata Mira


"oh seperti itu"kata Mao sambil berpikir


mereka cukup lama mengobrol di dalam bar itu sampai menjelang malam hari, setelah memberikan koin kepada Mira Mao kembali bersama Dewi dan Lian ke kediaman jendral miliknya


setelah sampai di kediamannya mao langsung menuju kamar , di dalam kamar Mao memikirkan banyak hal jika terjadi peperangan di kota tua, Mao memikirkan segala cara untuk mengatasi agar tidak ada yang berani menyerang kota tua


dalan keheningan malam Mao berpikir mulai kembali teringat dengan masa lalunya yang kelam saat terbuang dari kerajaan milik ayahnya sendiri oleh pamannya si Liu


dalam benak Mao selalu ingin membalas dendam kepada pamannya tapi banyak kebaikan pamannya si Liu telah membantunya dulu kecuali anak si Liu yang selalu menghina dan memukul Mao


setelah cukup lama berpikir Mao tertidur tanpa sadar saat dia sedang berbaring, keheningan malam pun terjadi hanya suara anjing dan hewan lainnya yang bersuara di malam itu.