
Tak lama Mao menunggu Inah datang menghampiri Mao sambil menyapa Mao dengan hormat, setelah Inah datang Mao menyuruh Inah menunjukkan jalan menuju ke arah rumahnya
setelah keluar dari gerbang kediaman Mao di ajak inah berjalan tidak jauh dari kediaman mereka sampai di sebuah rumah yang cukup bagus
Inah membuka pintu rumah miliknya dan mengajak Mao masuk kedalam, Inah menyuruh Mao duduk sementara sedang dia memanggil ayahnya yang sedang biasanya duduk di halaman belakang rumah
"oh jendral Mao apa yang membawa anda ke gubuk kami ini"kata Bram saat sudah masuk karena Inah sudah menjelaskan siapa tamunya, Bram sedikit berlutut di tanah
"tuan Bram jangan terlalu hormat mari berdiri"kata Mao mengangkat Bram yang sudah ada di depannya tidak jauh lalu Mao menyuruh ya duduk
sedangkan Inah sudah pergi ke dapur menyiapkan beberapa makanan dan minuman untuk Mao
"Apa maksud kedatangan Mao ke rumah kami ini, apa anakku ada masalah"kata Bram dengan sedikit takut
"tidak ada masalah apa-apa tuan Bram, aku hanya ingin sedikit bertanya pada tuan Bram"kata Mao
"jangan panggil aku tuan jendral, aku tidak bisa mendapatkan hak seperti itu untuk di panggil"kata Bram
"Baiklah karena anda lebih tua akan aku panggil kakek Bram saja, sedangkan maksud kedatanganku Bagaimana menurut kakek Bram tentang pembangunan di kota tua ini"kata Mao
"itu lebih baik, menurutku pembangunannya tidak seperti masa aku muda dulu jendral, sekarang semua bangunan sudah campur sana sini dengan toko, bar dan bangunan usaha lainnya sudah berantakan"kata Bram
"berarti kakek Bram tahu persis dengan bangunan kota ini"kata Mao
"sangat tau jendral aku sudah di sini sejak muda sebelum istriku meninggal dunia"kata Bram
"jika ada kesempatan datang kepada kakek Bram untuk membangun kota tua ini secara teratur mungkin apa kakek Bram mau melakukan itu"kata Mao
"jika itu datang padaku jendral aku tidak akan menolaknya sama sekali, tapi bagaimana dengan rumah dan bangunan usaha milik penduduk yang sudah lama tinggal di kota ini"kata Bram
"sebagian tempat sudah kosong dan sebagian lain masih ada penghuninya, jika bisa Mencapai kesepakatan bersama untuk pembangunan ulang kota mungkin kita bisa merubahnya, sedangkan untuk bangunan kosong bisa kita robohkan lebih dulu nanti kalo yang punya rumah kita akan bertanggung jawab penuh dan melebihkan harga untuk harga tanah dan rumah milik mereka, jadi jika itu bisa terjadi bagaimana rencana kakek Bram ingin membangun kota ini"kata Mao
"jika itu bisa berhasil jendral maka tahap pertama pembangunan akan kita mulai dari markas jendral lebih dulu, seluas apa markas yang jendral inginkan, tahap selanjutnya karena markas jendral sangat penting tentu kita akan membangun pos penjagaan di pintu gerbang masuk kediaman jendral, setelah itu Baru kita mulai pembangunan luarnya, yang perlu di bangun terdekat pada markas jendral seharusnya ada beberapa macam, pertama pembangunan Markas dari markas pemimpin pasukan, markas perdagangan, merasa pembangunan, markas pengembangan, Akademi untuk pelatihan prajurit dan anak-anak, dan sebagainya, setelah itu baru bangun pasar besar yang mengelilingi markas jendral pada empat titik yaitu Utara Selatan barat dan timur,Baru setelah itu bangun perumahan bagi penduduk dan tempat wisata lainnya, maaf kalo saya banyak bicara jendral tapi dulu saya juga seorang yang di tugaskan membangun kota di kota saya sebelumnya"kata Bram
"Itu ide yang menarik sekali, jadi bagaimana kalo Kakek Bram menjadi pemimpin pengembangan kota dan merencanakan pembangunan dan apa saja yang pengembangan yang di perlukan kota tua, untuk sekarang aku sendiri sudah punya yang memimpin pembangunan dan yang memimpin perdagangan jadi hanya tinggal pemimpin pengembangan kota yang belum aku miliki"kata Mao melihat Bram dengan sedikit takjub atas penjelasan Bram sebelumnya
"Jika jendral memilihku sendiri aku tidak bisa menolaknya"kata Bram
"baiklah mari kakek Bram ke kediaman dan tinggal disana"kata Mao
"Kakek siapa orang itu"lanjut anak tersebut sambil menunjuk Mao
"cucuku jangan sembarangan menunjuk orang dia adalah jendral Mao, ini cucuku satu-satunya jendral maaf atas ketidaksopanannya"kata Bram menurunkan tangan anak laki-laki tersebut yang menunjuk Mao
"Oh dia jendral Mao yang menyelamatkan kita ini kek, maaf kan saya jendral"kata anak laki-laki tersebut sambil menunduk ke arah Mao
"Tidak apa-apa kakek Bram, cucumu cukup terdidik, siapa namamu adik kecil"kata mao dengan tersenyum ke arah anak laki-laki tersebut
"nama saya Luki"kata anak laki-laki tersebut
"Oh adik Luki dimana ayahmu"kata Mao
"Ayah sedang pergi jauh tidak bisa kembali lagi"kata Luki
Mao mendengar itu berpikir dengan apa yang di maksud dengan Luki
"kakek Bram sebenarnya apa yang terjadi"kata Mao
"ouh Begini jadi ini adalah anaknya Inah satu-satunya dan suaminya seorang prajurit tapi dalam peperangan tersebut dia mati terbunuh"kata Bram dengan sedikit sedih
"maaf saya tidak bermaksud membuat kakek Bram mengingat masa lalu"kata Mao tidak enak hati melihat Bram yang terlihat sedih
"Tidak apa-apa jendral, tapi anak sekecil ini sudah di tinggal ayahnya sejak kecil aku jadi sangat kasihan kepada cucuku ini"kata Bram
Mao dan Bram berbicara cukup lama hingga sore hari disana dan Inah sendiri sudah menyiapkan makanan siang ,dan Sore untuk Mao dan Bram
setelah makan sore menjelang malam Mao mengajak kakek Bram ,Inah dan Luki tinggal di kediaman miliknya karena dia merasa tidak mungkin meninggalkan Luki sendirian di rumah sedangkan kakek dan ibunya bekerja di kediaman miliknya
"kemana saja, seperti biasa kami semua selalu menunggu kepulangan mu"kata Dewi kesal melihat Mao sedang menggendong anak kecil sampai di ruang pertemuan
"Oh itu aku sudah menemukannya, Dia adalah kakek Bram, yang akan menjadi pemimpin pengembangan kota, bagi pemimpin pembangunan, pemimpin perdagangan silahkan diskusikan kalian bertiga mulai besok rencana untuk membangun kota ini semegah mungkin, dan untuk yang lainnya silahkan istirahat saja karena tidak ada lagi penjelasan"kata Mao yang dari awal tidak duduk di singgasana miliknya, hanya berdiri sejenak lalu berjalan ke kamarnya karena waktu malam telah tiba
di dalam kamar Mao berpikir bagaimana membangun kota tua menjadi kota megah dan dalam pikirannya sudah tidak ada lagi ke khawatiran kecuali beberapa kerajaan ingin mengambil alih kota tua baru Mao merasa tertekan dengan masalah tersebut
Setelah berpikir apa yang akan di lakukan besok Mao tertidur karena tidak ada lagi hal yang membuatnya berpikir keras malam itu