Jendral Perang Pedang Dewa Kematian

Jendral Perang Pedang Dewa Kematian
PERTEMUAN


"kalian berdua cukup menikmati buah Rambusa itu, apa kalian berdua tidak pernah memakannya"kata seorang wanita berdiri di belakang Mao,Dewi dan Lian


"Hahaha iya saudari Mira ini sangat enak"kata Lian melihat kebelakang melihat Mira,Dao,Ding dan Bram di belakang sambil tertawa


"iya ini sangat enak saudari Mira, tapi dari mana saudari Mira mengetahui nama buah ini"kata Dewi juga berbalik


"iya memang buah itu sangat enak dan langka, aku sudah mencicipi semua buah di seluruh negeri mana mungkin aku tidak tau, dan kami berencana menanam buah itu juga di kota tua nantinya"kata Mira


"ide yang bagus saudari Mira"kata Lian terlihat bahagia


"Apa kalian hanya sedang berkeliling di sini"tanya Mao


"Iya jen"kata Dao terhenti melihat Mao mengangkat jari telunjuknya ke atas di depan bibirnya


Karena tidak ingin orang tau bahwa dia jendral Mao di kota tua karena takut orang akan segan di depannya


"Ah iya saudara Mao kami berencana berkeliling melihat buah-buah langka, dan nantinya aku berencana menanamnya sambil mengajak ketiga saudara ini"kata Dao dengan suara kecil


"oh begitu baiklah, apa kalian berdua juga ingin buah ini"tanya Mao


"Boleh jika saudara memaksa"kata Dao


"pak Amin berikan masing-masing kepada mereka satu buah dan dua wanita ini"kata Mao


Pak Amin menuruti apa yang Mao katakan dan membungkus buah Rambusa Sebanyak enam buah dengan dan setelah selesai pak Amin menaruhnya di atas meja kosong di depannya


Setelah itu mereka mengambil satu persatu bungkusan buah itu lalu Dao dan tiga pemimpin itu pergi meninggalkan Mao setelah berterima kasih


"berapa total semuanya pak Amin"tanya Mao


"Seratus koin perak jadi semuanya delapan ratus koin perak tuan"kata pak Amin


"Ini pak, simpan saja kembaliannya"kata Mao meletakkan satu koin emas lalu mengajak Dewi dan Lian pergi ke tempat selanjutnya


Mao,Dewi dan Lian lanjut berkeliling mengelilingi pasar itu untuk mencoba sesuatu yang Baru di pasar itu dengan makanan yang berasal dari seluruh negeri ada di pasar itu, sampai sore hari baru Mao,Dewi dan Lian kembali dengan banyak bungkusan makanan di tangan mereka


Mao, Dewi dan Lian menuju ruang makan untuk memakan makanan yang mereka bawa setelah berkeliling pasar, Xun xiang adiknya Xin yang melihat Mao bersama Dewi dan Lian yang duduk di meja makan langsung menuju kesana


"wah banyak sekali makanan ini"kata Xun xiang saat sampai di Ruang makan tersebut melihat makanan di atas meja itu


"Adik Xun, sini mari makan buah dan makanan lainnya, ajak juga pelayang yang lain kesini"kata Mao


"iya adik Xun mari makan ini enak sekali"kata Dewi makan makanan di atas meja yang dia bawa bersama yang Mao dan Lian


Xun pun memanggil Pelayan dan mengajak nya makan buah dan makanan yang di atas meja makan itu, sampai malam hari mereka di sana baru Mao,Dewi dan Lian kembali ke kamar masing-masing meninggalkan makanan di atas meja tersebut


Keesokan harinya juga Dewi,Lian dan Mao kembali melakukan hal yang sama berkeliling pasar di kota tua sambil mencoba makanan dan buah-buahan baru


mendengar berita itu banyak pedagang mulai berdatangan sehari sebelum pertemuan itu dan Mao sibuk menandatangani kertas izin berdagang dan kertas sebagainya untuk izin di kota tua


"Hari ini adalah pertemuan Dangan raja dan ratu dari kelima kerajaan apa semua berkas perjanjian damainya sudah kakek Bram siapkan"kata Mao


"ini jendral"kata Bram maju menaruh beberapa kertas di atas meja kerja Mao sedangkan Mao duduk di singgasananya


Mao mulai membaca isi dari perjanjian itu dan menyangkut kota tua dan kelima kerajaan saling terpaut satu sama lain


"Ini sudah cukup, sebentar lagi pertemuan itu akan berlangsung tepat jam sepuluh seperti yang di rencanakan, bisa saudara Dao tunjukkan jalannya ke ruang pertemuan itu dan sebaiknya kita yang menunggu kedatangan mereka, ayo pergi"kata Mao turun dari tempatnya mengajak Dao dan Zeng Kakeknya ke pertemuan itu


sedangkan Pemimpin pasukan sudah di suruh bersiap sebelum itu memperketat penjagaan di kota tua untuk menjaga keamanan kedatangan raja-raja dan ratu kelima kerajaan


jam tujuh lewat sedikit Mao sudah berada di ruang pertemuan itu yang di luarnya saja sudah sangat bagus seperti bangunan indah dan di dalamnya terdapat kursi empuk Dangan meja bundar, setidaknya kursi itu sama bentuknya dan tidak ada bedanya sama sekali di ruang pertemuan besar itu dan wanita banyak berdiri di dinding ruang pertemuan itu


"selamat datang jendral"ucap wanita itu serempak melihat kedatangan Mao dan seorang wanita mempersilahkan Dao untuk duduk bersama Dao dan Zeng


Mao,Dao dan Zeng sudah duduk di sana menunggu kedatangan para raja dan ratu dari kelima kerajaan


"Apa menurut jendral raja-raja dan ratu kelima kerajaan akan datang"kata Dao


"Menurutku mereka semua akan datang"kata Mao


"iya benar kata jendral, mereka pasti akan datang karena siapa yang akan berani tidak datang jika jendral sudah mengundang mereka baik-baik"kata Zeng


"kakek berlebihan, aku hanya mengundang mereka untuk pertemuan ini saja dan kalo mereka tidak datang berarti mereka tidak ingin menjalin kerja sama"kata Mao


Satu jam berlalu baru datang seorang laki-laki tua di ikuti oleh dua orang di belakangnya dengan terkejut melihat Di dalam ruang pertemuan itu dia adalah rayen Gusti di ikuti dua jendral kepercayaannya di belakangnya


"Selamat datang Raja rayen"kata Mao melihat pintu terbuka dan rayen datang bersama dua jendral di belakangnya


Lalu seorang pelayan wanita mempersilahkan raja rayen duduk dan dua jendral yang mengikutinya tidak jauh dari Mao dan kedua jendral rayen menolak untuk duduk


"Kalian berdua duduklah di sampingku, sepertinya kursi-kursi ini juga di siapkan untuk kalian berdua"kata Rayen kepada dua jendral di belakangnya


"siap raja"kata kedua jendral itu tidak berani menolak perintah rajanya


"Kursi ini sangat empuk, Sungguh ruangan ini juga sangat bagus"kata Rayen melihat sekeliling ruang pertemuan itu


"raja rayen terlalu berlebihan ini hanya gedung pertemuan biasa"kata Mao


"Hahaha kau masih saja memanggilku dengan sebutan raja bukankah sebentar lagi kamu akan menikahi putriku"kata rayen tertawa lepas


"Ini adalah ruang pertemuan resmi jadi dengan hormat saya harus tetap menyebut anda raja, jika di luar mungkin aku bisa memanggil anda dengan sebutan ayah"kata Mao dengan bijaksana


"Baiklah itu akan berlaku hanya untuk pertemuan Resmi saja"kata Rayen senang mendengar jawaban Mao