
Pagi hari Mao terbangun, melihat di depannya sudah ada dua orang yang di iket dengan tali dan mukanya sedikit babak belur, Mao melihat itu adalah Rion dan Rin, raja kerajaan matahari dan bulan
sedangkan pemimpin pasukan yang Mao suruh menangkap kedua raja tersebut masih tertidur dengan pulas di dekat Mao, begitu juga dengan Dao yang tertidur dengan berlumuran darah di samping Mao
"tolong ampuni kami jendral Mao, karena telah berani mengusik daerah kekuasaan anda"kata Rin dengan wajah bengkaknya
"iya tolong ampuni kami"kata Rion
"Hahhhhhh aku tidak berniat membunuh kalian berdua, dan kalian harus menyetujui perjanjian yang aku buat, nanti aku akan mengirimnya ke kediaman kalian"kata Mao sambil menguap
"Perjanjian apa itu jendral"kata Rin dengan takut bertanya
"perjanjian kalo kalian berdua berniat kembali menyerang kota tua, Kepala kalian akan menjadi taruhannya dan hubungan kerja sama kota tua dan kerajaan kalian di semua bidang, kalian juga harus tetap menjadi raja di kerajaan masing-masing karena ini hanya pelajaran kecil untuk kalian"kata Mao
"Lapor jendral, semua pasukan musuh sudah menyerah dan meletakkan senjatanya"kata Liam seorang pemimpin pedang menghadap Mao pagi itu setelah baru saja Mao menyelesaikan bicaranya
"kabar yang bagus, suruh mereka kembali ke kerjaan matahari dan bulan, dan tolong saudara Liam lepaskan kedua raja ini dan antar mereka kembali ke pasukannya untuk kembali ke kerajaannya masing-masing"kata Mao
"siap jendral"kata Liam
Setelah itu Liam melepaskan ikatan kedua raja yang ada tidak jauh dari tempat Mao dan menyuruh kedua raja tersebut mengikutinya menuju ke arah pasukan tempat prajurit musuh sudah menyerah di peperangan tersebut
"Sampai kapan kalian semua pura-pura tidur"kata Mao Melihat sekelilingnya yang pura-pura tidur di dekat Mao
"oh ini sudah pagi"kata Dao
"Apa yang terjadi padamu saudara Dao, kenapa kamu kotor sekali"kata Mao melihat Dao berlumuran darah
"oh semalam aku sudah puas di pertempuran ini"kata Dao
"kau terlalu kejam saudara Dao"kata Eder melihat Dao berlumuran darah
"Sudah kalian semua sudah bangun, yang jadi pertanyaan ku sekarang adalah kenapa kalian berdua membuat raja mereka babak belur"kata Mao melihat Eder dan Ben
"oh itu bukan kerjaan kami jendral, semalam kami berdua kembali lebih awal dan tidak menghajar kedua raja itu"kata Ben
"benar kata saudara Ben, kami menangkapnya dan mengikatnya saja jendral dan tidak melukai dua raja itu"kata Eder
"oh begitu"kata Mao melihat ke arah Dao
Melihat Mao menatapnya Dao memalingkan mukanya, dan berdiri untuk pergi
"hei bukankah mustahil jika kedua raja itu babak belur begitu"kata Mao
"iya mustahil jendral"kata Ben
"iya aku juga berpikir begitu"kata Eder
"Oh aku lupa semalam aku juga tidur"kata Dao
"saudara Dao"kata Mao menatap Dao sedikit curiga
"baiklah aku jelaskan, semalam aku menampar kedua raja itu pelan saja tapi kenapa paginya bisa bengkak begitu"kata Dao membuat alasan
"sudahlah, ini sudah berakhir jadi jangan di pikirkan sebaiknya kita kembali ke kota tua, pemimpin pasukan silahkan suruh semua prajurit kembali ke markas barat dan markas masing-masing, aku akan langsung ke kediaman mungkin hari ini saudara kita sudah kembali dari menangkap raja kerajaan bintang"kata Mao menaiki kudanya
Sedangkan pemimpin pasukan Mao suruh mengatur prajurit untuk kembali ke markas masing masing
"Sebenarnya aku belum pernah melihat kekuatan sebenarnya dari jendral Mao,sebenarnya sekuat apa dia"kata Liam saat berjalan kembali ke markas bersama pemimpin pedang dan panah lainnya sambil berjalan mengikuti pemimpin pasukan
"Iya aku juga belum pernah melihatnya"kata kai pemimpin pedang juga
"kalo kalian ingin tau bagaimana kalo kalian mencoba menghadapinya saja"kata Dao yang sedang duduk di atas kuda mendengar pemimpin pedang dan panah membicarakan Mao
"Hahahaha benar kata saudara Dao, bagaimana kalo kalian mencobanya sendiri"kata Eder tertawa keras
"sudah jangan dengarkan omongan pemimpin pasukan dan wakil jendral gila ini, Dari pada mencoba yang belum pasti kalian kalahkan, lebih baik kalian berlatih saja, jika kalian bisa mengalahkan kami pemimpin pasukan belum tentu kalian akan bisa mengalahkan jendral Mao walaupun pemimpin pasukan seperti kami berjumlah Hingga ratusan atau ribuan"kata Era
"Hahahaha benar kata saudara Era, aku setuju karena tehnik pedang milik jendral Mao lebih ganas dari pada yang kalian bayangkan"kata Ben
Setelah cukup lama berbincang akhirnya mereka sampai di markas barat dan disana mereka mulai berpisah menuju markas masing-masing di pimpin oleh pemimpin pasukan
Sedangkan Dao pergi menemui Dewi dan Lian yang masih ada di markas barat menunggu kepulangan Mao
"Saudara Dao dimana jendral"kata Lian melihat Dao yang datang ke tempat mereka yang sedang duduk di halaman pertemuan
"iya mana Mao"kata Dewi
"Aku kira kalian berdua sudah kembali, jendral Mao sudah kembali ke Kediaman tadi pagi setelah peperangan"kata Dao
"Oh jadi dia kembali tanpa kesini lebih dulu"kata Lian sedikit geram
"iya mungkin jendral Mao ada urusan mendesak"kata Dao sambil duduk untuk istirahat
"Baiklah kami berdua juga akan kembali ke kediaman jendral dulu, ayo saudari Dewi"kata Lian berdiri sambil mengajak Dewi
siang itu Dewi dan Lian kembali ke kediaman jendral sedangkan Dao masih duduk istirahat di halaman pertemuan itu untuk istirahat sejenak
Di tempat Mao dari pagi datang Mao sudah menemukan banyak berkas di atas meja kerjanya dan Mao langsung membaca dan menyetujui rencana yang di buat pemimpin yang bertugas membangun kota tua agar lebih maju
"hah banyak sekali aku sampai pusing membaca dan memberi stempel ke kertas ini"kata Mao saat sedang membaca berkas tersebut
sedangkan Mira, Ding dan Bram hanya berbicara bertiga di ruangan pertemuan itu menunggu Mao selesai memberi persetujuan pada berkas yang mereka berikan
tiga puluh menit berlalu saat Mao sudah hampir selesai menyetujui berkas yang ada di meja baru Dewi dan Lian datang ke ruang pertemuan tersebut
"Kenapa muka Kalian berdua kusut sekali"tanya Mira yang melihat Dewi dan Lian duduk di ruang pertemuan itu tanpa menyapa siapapun
"Tidak ada, kami hanya sedikit capek"kata Dewi memandang Mao dengan wajah sedikit geram
"iya kami hanya sedikit capek"kata Lian juga memandang Mao
"memang kalian berdua juga ikut ke pertempuran"tanya Mira
"Mereka berdua hanya duduk diam di markas barat tidak ikut pertempuran, dan mereka bilang capek karena perjalanan kemari"kata Mao yang dari awal sudah mendengar percakapan mereka di ruangan itu
"hahaha hanya karena itu"kata Mira sambil tertawa
"berkasnya sudah aku setujui dan semoga semuanya berjalan lancar, apa pemimpin pasukan belum ada kabar sama sekali"tanya Mao