
"hahahaha bocah kamu akhirnya menemukan buku yang aku sembunyikan"sebuah suara muncul di dalam lubang besar pohon itu dan Mao mengenali suara itu
"ampun dewa kematian aku tidak bermaksud mengganggu "kata Mao
"tidak kamu memang sudah ditakdirkan untuk menjadi penerus ku sekarang ambil dua puluh buku itu dan bagikan ke prajurit yang kamu miliki untuk melatih buku itu masing-masing, keterampilan buku itu masih rendah jika di bandingkan oleh buku yang pernah kamu dapatkan sebelumnya jadi kamu tidak perlu mempelajari buku itu,waktuku tidak banyak lagi tolong tegakkan ke Adilan seperti yang kamu katakan sebelumnya selamat tinggal"Suara dewa kematian itupun hilang
setelah itu Mao mengikuti apa yang serpihan dewa kematian itu katakan dan mengambil semua buku itu Mao membungkusnya dengan baju dan membawa buku itu Turun ke bawah
melihat Mao yang hanya memakai celana tanpa baju membuat semua yang sedang duduk di bawah menjadi heran
"Apa itu Jendral"tanya Dao yang melihat bungkusan yang Mao bawa
"nanti aku jelaskan sebaiknya kita kembali ke kota tua"kata Mao
"tapi jendral tidak pakai baju nanti akan terkena penyakit,ini pakaian yang selalu aku bawa"kata Dao dengan khawatir begitu juga yang lainnya merasa penasaran
"terima kasih saudara Dao, ayo kembali ke kota tua"kata Mao sambil naik ke kuda miliknya dan memacu kudanya pelan di ikuti oleh pemimpin pasukan dan yang lainnya
dalam waktu setengah jam Mao sampai di depan prajurit yang masih berkumpul di sana, semua prajurit disana merasa penasaran apa yang akan di sampaikan jendral Mao masalah perang karena melihat pakaian Mao yang berganti
"Saudara Dao urus semuanya aku akan kembali ke kediaman "kata Mao langsung memacu kuda miliknya dengan cepat menuju ke kediamannya
Sedangkan Dao menjelaskan apa yang terjadi dan menyuruh semua prajurit untuk kembali ke markas masing-masing karena pasukan kerajaan bintang sudah mundur tidak jadi menyerang kota tua
"hah sudah lama aku tidak memenggal kepala orang, Untung saja perang ini tidak terjadi aku bisa memenggal beberapa kepala"kata seorang prajurit
"iya aku juga sudah tidak sabar"kata seorang lagi
kembali ke tempat Mao dalam waktu lima menit Mao sudah ada di depan kediaman miliknya tanpa pikir panjang Mao langsung menuju ke kamarnya dengan membawa bungkusan, melihat kecepatan jalan Mao Dewi dan Lian yang melihat itu hendak bertanya tapi tidak sempat keburu Mao sudah berada di tangga menuju ke atas
setelah sampai kamar Mao membuka bungkusan yang dia bawa yang berisi buku jurus menggunakan pedang, Mao membaca Judul buku bagian luar satu persatu dan membaca bagian dalamnya juga satu persatu
"Aku akan menentukan siapa yang pantas memiliki buku ini karena setiap jenis buku ini berbeda jurus yang di hasilkan"kata Mao masih melihat buku di tangannya
sementara itu Dao, semua pemimpin pasukan dan semua pasukan sudah kembali ke tempatnya masing-masing, Dao dan semua pemimpin pasukan berada di aula pertemuan setelah menyelesaikan menyuruh pasukan kembali ke markas masing-masing
"saudara Dao sebenarnya apa yang terjadi pada jendral, sebelum dia berangkat memakai pakaian yang rapi tapi setelah kembali memakai pakaian yang sedikit berbeda"tanya Win penasaran
setelah itu yang lainnya yang ikut bersama Mao juga menceritakan kejadian sebelumnya apa yang mereka lalui hanya seperti hal biasa saja
Sampai sore hari Mao membaca semua buku itu dan benar saja apa yang di katakan oleh Serpihan dewa kematian itu buku jurus berpedang itu masih berada lebih rendah dari buku yang Mao pelajari
"aku akan mengumumkan besok keputusan untuk memberikan buku ini kepada yang lainnya tapi mereka juga harus berusaha agar bersaing mendapatkannya"kata Mao sambil berbaring di tempat tidurnya
sampai malam hari tiba Mao memikirkan rencana yang dia dia buat untuk memberikan buku itu ke orang yang tepat
sampai akhirnya Mao tertidur tanpa sadar
"ada apa dengannya hari ini tiba-tiba kembali dengan cepat apakah dia terluka"kata Dewi di kamarnya bersama dengan lian
"tidak mungkin jendral terluka, aku tahu persis kekuatannya"kata Lian dengan muka merah mengingat kejadian saat Mao berlatih di hutan bersamanya
ada adegan yang Lian bayangkan yang membuat dia bermuka merah setiap kali mengingat kejadian saat Mao latihan di hutan tidak jauh dari kota tua
"ada apa denganmu saudari Lian, kenapa mukamu merah"tanya Dewi melihat wajah Lian memerah
"tidak tidak tidak ada apa apa"kata Lian gugup sambil berdiri dan segera keluar dari kamar Dewi dan menuju kamarnya
kedua wanita itu sering saling mengunjungi untuk bercerita satu sama lain di tempat Mao yang tertidur pulas dan juga karena sudah malam, malam di kediaman menjadi sunyi karena semuanya sudah tidur di kamar mereka masing-masing
ke esokan harinya Mao terbangun cukup pagi, setelah membersihkan diri dan memakai pakaian Mao berjalan keluar saat ada kelihatan matahari dari jendela kamarnya menuju ke ruang makan untu sarapan, melihat ada makanan di atas meja, Mao langsung makan walaupun makanan belum semuanya di siapkan oleh pelayan, setelah makan Mao baru menuju ke ruang pertemuan dan duduk dengan santai di singga sana miliknya
satu persatu datang dan duduk di tempat mereka masing-masing setelah beberapa waktu semuanya sudah ada di ruangan pertemuan itu sedangkan Mao tidak bicara sama sekali karena masih melamunkan banyak hal
"Hemmmmm"Dehem Lian untuk menyadarkan Mao
"maaf-maaf, kalian semua sudah ada disini, pertama karena perangnya berhasil damai belum tentu pasukan musuh dari kerajaan lain akan diam saja, jadi pemimpin pasukan dan juga saudara Dao akan berlatih di pelatihan yang di buat oleh Saudara Dao sebelumnya, dan juga pemimpin pasukan pedang dan pemanah juga bisa mengikuti latihan itu, kedua dalam waktu sebulan aku akan membagikan dua puluh buku untuk satu orang satu buku dan itu bisa dia pelajari tapi buku itu hanya tentang pedang jadi pemimpin pemanah tidak memerlukannya jadi pemimpin pedang bisa saja mendapatkannya jika kalian melewati pelatihan yang sebelumnya aku buat yang sudah di bangun saudara Dao, bagi dua puluh orang yang melewati pelatihan itu akan di berikan buku jurus berpedang dan bagi pemanah yang melewati akan di ganti dengan koin emas"kata Mao panjang lebar
"apa saya bisa ikut juga jendral"kata Ding
"saya juga ingin ikut"kata Dewi
"silahkan karena jumlah kalian juga tidak mencapai dua puluh orang yang memakai pedang di sini silahkan saja"kata Mao