
"iya kalian bertujuh senang, karena yang semalam kecapean adalah saya yang harus melawan tujuh orang, lain kali aku akan beri kalian satu persatu pelajaran"kata Mao
"oh tidak bisa, semalam saja aku tidak bisa menahannya karena nikmat dan lelah, seandainya aku sendiri yang menghadapi pedangmu sendirian, mana aku bisa tahan"kata Nora
Satu persatu Istri Mao juga berkata demikian mana mungkin bisa menghadapi Mao sendirian di atas tempat tdr, sedangkan mereka bertujuh saja belum bisa menandingi kekuatan Mao di atas ranjang
"Ah sudahlah aku mau keluar dulu, kalian teruslah mandi"kata Mao berdiri dan hendak keluar
Saat Mao ingin berdiri dan pergi, kakinya di tahan oleh seorang dari istrinya
"Mau kemana, kami masih ingin menikmati waktu ini bersama"kata Rani
"apa kalian ingin membunuhku"kata Mao
"mana mungkin kami membunuhmu, bukankah melakukan itu sangat nikmat"kata Mira berdiri telanjang sambil menempelkan Tangan Mao pada bola besar di dadanya
Lalu Mira mulai mencium bibir Mao dengan lembut, Mao pun tidak menolak itu lalu ******* bibir Mira dengan sergap memainkan lidahnya, begitu juga Mira tidak mau kalah terus menerus memainkan lidahnya di lidah Mao
Tak sanggup istri Mao yang lain melihat Mira saja yang melakukan itu satu persatu istri Mao memaksa Mao memainkan itu cara itu juga pada semuanya
ah ah ah
Ah ah ah
Ah ah ah
ah ah
ah
Setelah semua dapat berciuman Mao pun mulai memainkan pedang miliknya di semua lubang gua milik istrinya itu satu persatu sambil meraba bagian Bola semua istrinya secara bergantian sambil mereka juga berciuman bersama Mao satu sama lain
Suara erangan mereka di siang hari itu berlanjut sampai sore hari di kamar mandi, sampai satu persatu istri Mao mulai Merasa kelelahan satu persatu di kamar mandi dan keluar setelah itu menuju tempat tidur yang bisa memuat lebih dari sepuluh orang itu
Karena sudah malam Mao memutuskan untuk istirahat karena merasa kecapean menghadapi ketujuh istrinya secara bersamaan
Begitu juga ketujuh istri Mao merasa lelah dengan permainan yang mereka lakukan, mereka pun tertidur bersama di tempat tidur yang sangat besar itu
Keesokan paginya Mao terbangun melihat semua istrinya masih belum bangun, Mao ke kamar mandi, setelah membersihkan badan Mao keluar untuk sarapan, dan setelah itu baru menuju ruang pertemuan, tapi yang menjadi keanehan di ruang pertemuan itu belum ada orang satu pun
"Jendral, apa jendral perlu liburan ke suatu negeri"tanya seorang yang datang menghampiri Mao yaitu Dao
"Tidak perlu saudara Mao, disini saja sudah membuatku bahagia, tapi kenapa tidak ada orang di rumah pertemuan ini seperti biasanya"kata Mao sambil bertanya
"oh itu, kemarin kami menunggu jendral di sini tapi kami tidak menemukan jendral keluar jadi kami memutuskan tidak datang ke kediaman sementara waktu dan menginap di markas masing-masing, takut jendral terganggu"kata Dao
"Mana mungkin kalian semua adalah saudaraku, aku tidak mungkin terganggu oleh kalian"kata Mao
"oh seperti itu, semua masuk jendral sudah ada di sini"kata Dao sambil berteriak
Satu persatu orang masuk pagi itu ke ruang pertemuan, yaitu para pemimpin pasukan dan pemimpin lainnya
"apa jendral sudah tidak sibuk"tanya Bram
"tidak kakek Bram"kata Mao
Mendengar itu Bram dan Ding maju menaruh tumpukan berkas yang sangat banyak di atas meja kerja Mao
"oh kemarin kan jendral tidak menyetujui apapun jadi ini berkas yang kemarin dan hari ini yang perlu jendral setujui, sekarang semakin banyak orang yang ingin pindah ke kota tua, jadi mereka meminta Banyak hal"kata Bram
"Baiklah sambil membaca dan menyetujui berkas itu aku ingin sekalian membicarakan pertemuan hari ini, ada berita apa saja hari ini"kata Mao sambil berdiri dan berjalan menuju ke meja tempat kerjanya
"Jendral, ada laporan dari pemimpin kelompok, sekelompok orang yang menghadang pedagang dan mengatas namakan jendral Yang jika masuk ke kota tua harus membayar upeti atau upah untuk masuk kota tua, itu terjadi tidak jauh dari perbatasan kota tua dan kota lainnya"kata Dao
"Dimana itu"tanya Mao sambil melihat berkas yang perlu persetujuannya
"hampir di semua penjuru perbatasan kota tua, jendral"kata Dao
"oh mereka berani bertindak mengatasnamakan namaku, siapkan prajurit untuk menangkap mereka dan introgasi di markas masing-masing apa yang mereka inginkan dan juga temukan pemimpin orang-orang itu secepatnya"kata Mao
"siap jendral"kata semua pemimpin pasukan hendak berdiri
"Dan satu lagi jangan bunuh mereka bila perlu jadikan juga prajurit kita walaupun kita tidak membutuhkannya sekarang tapi suatu hari nanti kita akan membutuhkannya jika kita tua ini semakin besar, sudah kalian bisa berangkat sekarang"kata Mao
"siap jendral"kata semua pemimpin pasukan itu keluar satu persatu dari ruang pertemuan itu
"Apa ada lagi"tanya Mao
"Tidak ada jendral"kata Dao
"yang lain jika ada masalah jangan ragu"kata Mao
"Ada satu hal jendral yang perlu jendral lakukan,Jika jendral ingin membangun kota tua menjadi kota besar kita perlu lebih banyak area pasar tempat perdagangan"kata Bram
"apa kakek Bram yakin akan hal itu"tanya Mao
"Menurutku juga sama jendral, semakin hari pasar yang baru kita bangun sudah sebulan penuh saja sudah seramai itu sekarang apa lagi kedepannya"kata Ding juga
"terus apa rencana kakek Bram Dan saudara Ding"kata Mao
"berkasnya sudah ada di sana, kami ingin memperluas area pasar dengan tetap menyambung pasar yang sudah ada tapi tempatnya akan kami jadikan pusat perdagangan, dengan luas yang kurang lebih lima ratus meter kali lima ratus meter"kata Bram
"kira-kira di berkas itu lokasi yang kakek Bram gunakan dimana"kata Mao
"di bagian timur jendral, karena bagian itu tanah tandus dan tidak banyak pohon dan tanaman lainnya yang bisa tumbuh di sana karena kekeringan"kata Bram
"jika di sama dimana orang-orang akan bisa mendapatkan air untuk minum,mandi dan sebagainya"kata Mao
"oh tenang jendral masalahnya sebelum pembangunan pasar tersebut, aku berencana membuat aliran air dari air di sungai utama menunju tempat itu, jadi aku berencana membuat bendungan sekitar kurang lebih besarnya dua ratus kali dua ratus meter"kata Bram
"baiklah setelah berkasnya ku tanda tangani, kakek Bram bisa melanjutkan untuk membuat itu, tapi jangan sampai pasar di sini tutup karena pasar baru itu nantinya"kata Mao
"itu urusan gampang jendral nanti kita serahkan pada pemimpin perdagangan untuk mengaturnya"kata Bram
"baiklah aku setuju"kata Mao
Setelah itu Mao lanjut memberi stempel pada berkas di atas meja itu dengan cepat membaca dan menyetujuinya
sampai siang hari baru Mao berhasil menyelesaikan semuanya dan menyerahkannya pada Bram dan Ding untuk melanjutkan pekerjaan mereka
Setelah berkas itu selesai hanya tinggal Mao dan Dao di ruangan itu setelah kepergian Ding dan Bram