
Setelah kepergian semua orang tinggal Dewi,Lian,Ding,Mira dan Bram yang di ruangan pertemuan itu asik berbicara satu sama lain dan Mao Sibuk memberi stempel kepada berkas yang ada di atas meja kerjanya
"pemimpin Mira, jika saya boleh tau apa isi surat yang aku stempel yang tidak aku boleh lihat pada satu bulan lalu yang kamu kirim ke kerajaan cahaya"tanya Mao membuat Mira Terdiam dan tersenyum
"Oh itu surat itu berisi surat lamaran jendral pada Ratu Kerajaan cahaya yang sekarang memimpin"kata Mira menjawabnya dengan santai
"apa" teriak Mao dan yang lainnya terkejut
"apa kau tidak salah dengar Saudara Mira"tanya Lian
"iya aku juga"kata Dewi dengan terkejut masih terlihat sok
"Apa yang sudah kamu lakukan Mira, pantas saja ratu kerajaan sampai sekarang tidak mau menemuiku"kata Mao menepuk jidatnya
"hahahaha maaf jendral, tapi ratu Hayu cahaya menerima lamaran anda dan aku lupa menyampaikannya, saat itu aku pergi ke kerajaan cahaya bertemu ratu Hayu"kata Mira dengan tertawa
"Apa"kata semuanya terkejut kembali dengan apa yang Mira katakan
"kalian kenapa terkejut seperti itu, bukankah itu bagus, ratu Hayu sangat cantik dan sangat menawan dan baik hati serta peduli dengan orang lain"kata Mira menjelaskan semuanya
"Tunggu, dari mana saudari Mira tau kalo ratu kerajaan cahaya dengan sangat detail"tanya Dewi curiga
"maaf aku tidak memberi tahu kalian, sebenarnya aku ini Bagian dari keluarga kerajaan cahaya dan orang tuaku masih ada disana, aku disini hanya untuk menjalani hidup mandiri tanpa bantuan keluargaku yang dari kerajaan"kata Mira
"apa"Teriak orang di ruangan itu serempak kembali terkejut dengan ucapan Mira
"saudari Mira sebanyak apa yang kau sembunyikan dari kami dan siapa nama belakang keluargamu sebenarnya"tanya Lian tersadar dari terkejutnya
"Nama keluarga ku Won"kata Mira santai
"apa keluarga Won"kata Dewi terkejut sendiri
"ada apa Dewi kenapa kamu sendiri yang terkejut"tanya Lian
"apa kalian tidak tau kalo keluarga Won adalah Keluarga kerajaan cahaya Yang menjadi Keluarga pedagang dan ternama di seluruh kerajaan dan tidak ada yang berani mengganggunya karena bisa saja perdagangan ke kerajaan lain di berhentikan, kalo bukan karena jasa keluarga Won sekarang kita mana mungkin bisa mencari barang yang dari seluruh negeri ini di suatu tempat"kata Dewi menjelaskan
"Iya aku ingat keluarga Won yang terkenal itu"kata Ding yang sering mengelilingi Semua kerajaan
sedangkan Mao hanya memegang jidatnya berulang kali dan tidak mampu berkata apa-apa dengan percakapan mereka di ruangan itu
"ini sudah selesai ku beri persetujuan, Kalian bisa mengambilnya"kata Mao setelah selesai menyelesaikan semua kertas di atas meja
Setelah itu Mira,Ding dan Bram mengambil berkas itu dan pergi, sedangkan Dewi dan Lian masih melihat Mao yang terlihat bingung duduk di Tempat kerjanya
"Apa jendral ada kerjaan hari ini"tanya Dewi
"Aku pusing tidak tau apa yang aku kerjakan semua sudah di atur oleh pemimpin pasukan dan pemimpin lainnya"kata Mao
"bagaimana kalo kita jalan-jalan ke luar, banyak makanan dari daerah lain dan barang di daerah lain sudah berdatangan berjualan di kota tua di pasar-pasar"kata Lian
"ide yang bagus aku juga ingin jalan-jalan sambil menikmati makanan dari berbagai daerah"kata Dewi
"Baiklah jika kalian tidak ada kerjaan aku akan temani, ayo berangkat"kata Mao berdiri dan mengajak Dewi dan Lian keluar
Mao ,Dewi dan Lian berjalan Keluar untuk menuju ke pasar dimana Orang-orang sudah mulai berjualan di kota tua, untuk menuju pasar tidak jauh dari kediaman Mao yaitu hanya melewati markas-markas yang mengelilingi kediaman Mao dan pasar tersebut juga di buat mengelilingi kediaman Dangan luas yang sangat besar
"Itu terlihat enak apa kalian ingin"tanya Mao kepada Dewi dan Lian di sampingnya
"terserah jendral saja"kata Dewi
"iya terserah jendral saja"kata Lian juga
Mao pun mengajak keduanya berjalan menuju ke pedagang yang Mao maksud dan setelah sampai seorang laki-laki tua sedang menjual Buah
"tuan berapa harga durian ini"tanya Mao kepada penjual buah itu saat sudah sampai di sana
"Maaf tuan dan nona-nona bisa panggil saya pak Amin , dan ini bukan durian tapi ini Buah Rambusa tuan"kata penjual yang bernama Amin tersebut
"Bukan kah ini seperti durian pak Amin"kata Dewi
"iya"kata Lian
"anda salah nona-nona , ini namanya buah Rambusa memang mirip dari durian tapi buah ini lebih enak dari pada durian"kata pak Amin penjual buah tersebut
"Iya memang mirip seperti durian tapi bentuknya sedikit lebih kecil"kata Mao
"benar kata tuan ini namanya buah Rambusa dan hanya ada di daerah yang sangat jauh"kata pak Amin
"Saya minta buka satu dulu bisa bapak buka"kata Mao menyuruh pak Amin
"baik tuan tunggu"kata pak Amin mengambil pisau kecil
Pak Amin hanya mencongkel Garis yang terlihat di buah Rambusa itu dan buah itu mulai terbuka menunjukkan isinya yang kuning sedikit lebih tua dan tidak lembek
"ini tuan silahkan"kata pak Amin penjual buah Rambusa itu menaruh buah Rambusa yang dia buka itu di atas meja yang kosong
"emmmm enak buah ini lebih enak dari pada durian"kata Mao mengambil satu isi buah tersebut
"Emmmm ini enak ada rasa asam dan manisnya"kata Dewi
"emmmm ini enak, enak,enak"kata Lian sudah banyak yang dia makan sendiri
"Eh mana lagi"kata Dewi melihat buah yang baru di buka sudah habis isinya
"ternyata kamu cukup suka buah"kata Mao menatap Lian di sampingnya yang tangannya penuh dengan buah tersebut
"saudari Lian aku juga ingin kenapa di habisin"kata Dewi melihat Lian sudah memakan semuanya
"Sudah jangan berdebat, kita bisa membukanya lagi kalo kalian berdua memang suka buah ini"kata Mao
"pak bukakan aku Buah ini"kata Dewi menunjuk buah Rambusa yang di dekatnya
Setelah mendengar ucapan Dewi, pak Amin langsung membuka buah itu dan menyajikannya, Lian juga meminta satu lagi dan pak Amin pun membuka satu lagi untuknya
"buah ini sangat enak, bikin ketagihan Jika memakannya karena rasa asam manisnya terasa"kata Dewi yang sudah menghabiskan satu buah sendirian
"iya"kata Lian juga menghabiskan satu buah sendirian
Sedangkan Mao merasa senang melihat kedua wanita di sampingnya terlihat bahagia karena hanya sekedar buah itu