
Keesokan harinya seperti yang di harapkan keempat calon istri Mao benar-benar pagi itu sudah ada disana berkumpul di ruang pertemuan bersama yang lainnya setelah sarapan
"Jendral siapa saudari saudari ini"tanya Lian melihat wanita yang sama cantiknya dengan dirinya yang duduk di samping mereka dan di samping Dewi
"Silahkan perkenalkan diri kalian"kata Mao memegang kepalanya
"Saya Hayu Cahaya dari kerajaan cahaya calon istri jendral Mao"kata Hayu berdiri dan kembali duduk
"Saya Nora wing dari kerajaan Bintang calon istri jendral Mao juga"kata Nora Wing
"Saya Rani Bar dari kerajaan bulan juga calon istri jendral Mao"kata Rani Bar
"Saya Sinta Bar dari kerajaan matahari juga calon istri jendral Mao"kata Sinta Bar berdiri lalu duduk kembali dengan malu
Mendengar itu semuanya bengong Sambil ingin bertanya pada Mao tapi tidak ada yang berani bertanya begitu juga dengan Dewi, Lian dan Mira saking terkejutnya terlihat kaget
"Aku akan jelaskan mereka yang tadi memperkenalkan diri adalah calon istriku dan mohon kalian bisa mengerti satu sama lain"kata Mao
"Ok baiklah aku terima saja asal kamu sanggup tambah lagi juga tidak apa-apa"kata Lian
"Aku juga"kata Dewi
"aku juga"kata Mira
"Jika kalian setuju, aku akan mengadakan pesta pernikahan satu bulan lagi, untuk pengurusannya aku serahkan kepada kakek Bram dan saudara Ding"kata Mao
"apa pesta pernikahannya perlu mengundang keluarga masing-masing Mempelai wanita, jendral"kata Bram
" Iya, kakek Bram mungkin akan sibuk membuat undangan pernikahan dalam jumlah banyak, sedangkan untuk dekorasi pestanya aku serahkan pada saudara Ding yang biasa dalam pembangunan"kata Mao
"siap jendral, serahkan semuanya padaku"kata Ding
"untuk biaya silahkan bicarakan sama saudara Dao, apa kalian ada perlu lagi, jika tidak ada silahkan kerjakan apa yang akan kalian kerjakan hari ini"kata Mao
satu persatu pergi meninggalkan ruang pertemuan itu dengan rasa senang karena sebulan lagi penjamuan pesta pernikahan Mao dan tujuh istrinya
Tertinggal di ruang pertemuan itu Ding, Bram dan ketujuh calon istri Mao, sedangkan Mao berpindah duduk di tempat kerjanya menandatangani berkas yang sudah ada di meja kerjanya
"Mira sebaiknya kamu beristirahat yang cukup suruh saja wakilmu bekerja"kata Mao
"Baik"kata Mira dengan senang karena sebentar lagi dia akan menikah
Semua calon istri Li mulai berbicara satu sama lain mengakrabkan diri di ruang pertemuan itu sedangkan Mao masih sibuk memberi stempel ke berkas yang ada di atas meja tersebut
"Ini sudah selesai ku beri stempel persetujuan tinggal di kerjakan"kata Mao
Setelah itu Ding dan Bram mengambil berkas itu dan keluar dari ruangan itu untuk mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing
"Apa kalian semua akan tetap disini"kata Mao melihat ke tujuh calon istrinya
"Tentu, kemana lagi kami akan pergi"kata Lian
"kenapa kalian kalian tidak berkeliling pasar menikmati makanan yang ada disana"kata Mao
"Benar kata jendral, apa saudari semuanya mau berkeliling pasar untuk menikmati makanan dari seluruh daerah"kata Dewi
"iya mau"jawab semuanya
"Ayo kita pergi"kata Lian mengajak semuanya keluar dari ruangan pertemuan itu meninggalkan Mao sendirian
Mao sendiri menerima saja apa yang sudah dia putuskan tak memikirkannya sebagai beban tapi Mao berpikir cukup keras bagaimana dia akan menggagahi ketujuh istrinya pada malam pertamanya nanti
Sampai malam hari Mao ke kediamannya untuk istirahat lalu tidur karena tidak banyak pekerjaan yang dia lakukan
Setiap hari selama satu bulan Mao memeriksa keadaan sekitar kota tua, dari siang sampai malam dan itu berlanjut setiap hari selama satu bulan
Tepat hari ini Mao sudah akan menikahi ketujuh calon istrinya, Mao menggunakan jas dan turun dari tangga dengan gagahnya sedangkan ketujuh istrinya sedang memakai gaun di ruang pengantin yang sudah di siapkan
di acara pernikahan itu Mao keluar di atas panggung sendiri dan semua orang yang di undang dan jamuan yang sudah di siapkan di meja-meja bundar
"Selamat jendral
Selamat jendral
Selamat jendral
Kata itu berulang kali keluar dari tamu undangan yang sudah Mao undang di acara pernikahannya
saat pengantin wanita keluar langsung ketujuh ya membuat semuanya berteriak karena kecantikan ketujuh wanita calon istri Mao
Acar pernikahan itu berlanjut dari pagi sampai sore hari dengan ucapan selamat dari setiap orang dan pergi meninggalkan acara tersebut
"Hah dari pagi sampai sore aku hanya berdiri mendengar ucapan selamat akhirnya selesai"kata Mao sambil duduk di tempat duduk yang sudah di siapkan
"Hahaha kamu terlalu terkenal sayang, banyak yang datang karena undanganmu"kata Lian
"iya benar kata Saudari Dewi, kamu terlalu terkenal sayang"kata Lian
satu persatu dari ketujuh wanita itu terus memanggil Mao dengan sebutan sayang dan mencium pipi Mao secara bergantian dan mengajak Mao untuk masuk ke kamar pengantin yang sudah di siapkan
Mao di tarik oleh ke tujuh istrinya dengan paksa ke kamar panganten di kamar itu terjadi lah pertempuran mao di atas ranjang dengan suara jeritan yang terus keluar dari ketujuhnya karena pecah durennya pada malam pertama itu
Mao terus bermain sampai pagi bersama dengan ketujuh istrinya dengan beberapa kali cairan pisang miliknya keluar di semua gua milik ketujuh wanitanya
Ah ah ah
Ah ah ah
Ah ah ah
Suara jeritan di kamar penganten itu terus terdengar hanya di dalam kamar itu, hanya terdengar oleh mereka yang di dalam kamar itu, karena kamar itu kedap akan suara keluar kamar tersebut
Sampai tangah malam Mao baru berhenti bermain bersama dengan ketujuh wanitanya dengan gairah yang belum pernah dia rasakan sebelumnya
Sampai-sampai ke tujuh wanitanya terkapar karena kelelahan begitu juga dengan Mao yang juga kelelahan menghadapi ke tujuh wanitanya
Mao tertidur di tangah tengah ketujuh wanitanya karena kelelahan malam itu
Pada siang hari terbangun sendirian tidak melihat ketujuh wanitanya sama sekali di kamar dengan kasur besar itu
Lalu Mao masuk ke kamar mandi kamar itu dan di sana baru dia menemukan ketujuh wanitanya sedang berendam di bak mandi yang ukurannya sangat besar, melihat itu Mao bersikap biasa saja memasuki kamar mandi itu lalu duduk di bak mandi tersebut
"sayang rupanya sudah bangun, semalam adalah hal terindah yang aku rasakan"kata Hayu
"aku juga
Aku juga
Aku juga
Satu persatu ke tujuh istri Mao terus mengatakan hal yang sama tanpa malu sedikitpun