Jendral Perang Pedang Dewa Kematian

Jendral Perang Pedang Dewa Kematian
POHON


"Dia sangat kuat, kalo di bandingkan kekuatan Jendral kerajaan bintang, sepuluh lebih kuat"kata Xin kembali ke Posisinya di dekat ayahnya dan Ben juga kembali ke posisinya sedikit di belakang Mao


sedangkan prajurit dari kerjaan bintang yang berjumlah lima orang masih bengong melihat pertandingan itu


"hahaha kamu salah saudara Xin , saudara Ben ini mampu melawan lima jendral sekaligus dari semua kerajaan di negeri ini, dan tadi aku lihat saudara Ben hanya bercanda saja denganmu, jika dia serius dalam hitungan detik pedang itu sudah ada saudara Xin"kata Mao


"benar apa kata pangeran Pemimpin yang Li tunjuk tadi hanya bermain denganmu saja"kata Zuan yang juga dari tadi mengamati pertandingan itu


"Jadi bagaimana paman dan saudara Xin, apa kalian masih berani menyerang ke kota tua, jumlah pasukan ku tidak banyak tapi jika kalian hanya membawa seratus ribu itu belum cukup untuk menghadapi prajurit ku di kota tua"kata Mao


"tentu kami tidak akan berani pangeran, tapi kami juga tidak bisa kembali ke kota Melati, jika itu terjadi maka aku akan di hukum mati dan di buru oleh raja si"kata Zuan


"Jadi seperti itu, bagaimana kalo begini saja kalian kembali ke pasukan kalian dan menyuruhnya kembali ke kota Melati dan katakan bahwa dirimu berkhianat kepada kerajaan bintang dan membawa beberapa pasukan yang mempercayai kalian"kata Mao


"itu ide yang bagus ayah"kata Xin


"apa kamu tidak khawatir dengan adik dan ibumu di kota Melati jika ayah melakukan itu"kata Zuan


"iya benar yang ayahku katakan Ada ibu dan adikku di kota Melati"kata Xin


"Begini saja kalian suruh pasukan kalian mundur karena Katakan kalo pasukan kita tua Lebih dari yang mereka bayangkan, setelah itu kalian berdua langsung kembali menaiki kuda ke kota Melati mungkin butuh beberapa hari tapi jika memacu kuda dengan cepat kalian bisa kembali Kesana dengan empat hari tanpa henti, setelah itu bawa keluarga kalian ke kota tua, aku akan menyambut kedatangan kalian"kata Mao


"benar itu ide yang bagus ayah"kata xin


"iya pangeran memang selalu cerdas,kita akan merencanakan itu"kata Zuan


Tiga pemimpin yang berada di belakang Zuan langsung berlari ingin menaiki kuda yang tidak jauh dari tempat Zuan melihat kejadian itu Dao, Eder dan Era berlari melewati zuan dan lainnya dengan cepat mengejar ketiga orang yang ingin kabur itu, dalam sekejap mata Kepala tiga pemimpin itu terpisah oleh tebasan pedang Dao,Eder dan Era


"Maaf jendral, mereka berniat kabur jadi kami bereaksi dengan cepat agar informasi ini tidak sampai ke luar dan untuk menyelamatkan keluarga jendral Zuan"kata Dao memberi hormat setelah kembali ke posisinya di belakang mao


"hahaha tidak apa saudara Dao, aku suka reaksi cepat kalian bertiga, terima kasih"kata Mao


sedangkan Zuan,Xin dan dua pemimpin yang ikut bersama mereka merasa kejadian itu terlalu cepat dan mereka bengong sejenak melihat kejadian itu dan Mao memandangi empat orang tersisa


"hemm"Mao berdehem menghilangkan ke sunyian itu


"Terima kasih pangeran, kalo mereka sampai lolos bisa bahaya untuk istri dan anak saya"kata Zuan


"Tidak perlu berterima kasih paman, ini juga demi kebaikan bersama, kalian berdua sudah melihat ketiga orang itu jadi masih ada yang berani berkhianat, kata Mao menatap kedua pemimpin berdiri sedikit lebih belakang di belakang Zuan


"Tidak berani pangeran Mao, kami adalah pengikut setia jendral Zuan"kata salah satu dari kedua pemimpin itu


"benar mereka adalah pengikut keluargaku dan aku angkat menjadi pemimpin pasukan yang aku bentuk jadi jangan khawatir atas mereka pangeran"kata Zuan


"baiklah, tapi untuk jaga-jaga aku akan membawa kedua orang itu lebih dulu ke kota tua lebih dulu sedangkan paman dan saudara Xin bisa kembali ke kota Melati, Aku akan menjaga mereka sebagai mana aku menjaga saudaraku yang lain"kata Mao


"terima kasih pangeran, untuk menyingkat waktu agar kami bisa ke kota tua lebih cepat aku akan kembali sekarang, ayo Xin kita jemput ibu dan adikmu"kata Zuan berjalan dan menaiki kuda, Xin juga mengikuti dan menaiki kuda yang dia miliki


sementara itu Mao memandang kedua pemimpin yang di tinggalkan oleh Zuan itu masih gemetaran karena takut kepada Mao


"baik pangeran"kata keduanya serentak


"saudara Dao tolong urus ketiga kuda itu, kalo bisa di bawa kita bawa balik sambil pelan-pelan kembali"kata Mao setelah naik di atas kudanya


"siap jendral"kata Dao yang masih di bawah bersama empat orang lainnya


Mao menjalankan kudanya dengan pelan di ikuti oleh Semuanya menuju ke kota tua, jika cepat bisa menempuh perjalanan kembali ke kota tua hanya dua puluh menit tapi jika pelan saja mereka akan menempuh perjalanan lebih dari satu jam tiga kali lipat lebih lambat


"Jendral apa sebaiknya kita istirahat dulu, sebelum keluar dari hutan"kata Dao yang ada di paling belakang


"benar kata saudara Mao, kita akan istirahat di sana dibawah pohon besar itu"kata Mao menunjuk pohon besar itu


Roki


"Tapi jendral itu adalah makam kuno"kata Roki


"Jangan takut ada saya saudara Roki"kata Mao


setelah beberapa saat mereka sampai dan Mao turun lebih dulu, tanpa basa basi Mao duduk langsung di bawah pohon itu


sedangkan semua yang mengikuti Mao tidak mau jauh-jauh dari Mao dan duduk sangat dekat sekali


"Kenapa kalian dekat sekali padaku,apa kalian takut hantu tapi kenapa kalian tidak takut melawan orang"kata Mao


"bukan begitu jendral


buk


kata Dao terhenti karena ada tanaman merambat yang menimpa kepala Mao dan semuanya menjadi gemetaran melihat itu


Mao menyingkirkan tanaman itu dan memperhatikan tanaman itu Dengan teliti


"jendral tidak apa-apa"tanya Eder


"tidak tapi aku heran, kenapa bisa ada tanah di atas pohon ini dan tanah ini bukan jenis tanah yang biasanya ada di pohon"kata Mao memperhatikan tanaman merambat yang sebelumnya menimpa kepalanya


"Mungkin itu sudah sejak lama ada jendral, karena yang duduk di bawah pohon ini sering melihat hal-hal aneh"kata Eder


"mmmmm kalian tunggu di sini"kata Mao sambil berdiri


setelah itu Mao dengan cepat memanjat hanya dengan kaki saja seperti sedang berjalan menaiki pohon besar itu


Mao sampai di atas pohon itu hanya dengan beberapa saat sedangkan pemimpin dan yang lainnya melihat itu cukup bengong saja


setelah sampai di atas Mao melihat sebuah sebuah lubang besar di atas pohon itu tanpa pikir panjang Mao langsung masuk dan tanpa takut karena itu waktu siang hari jadi ke dalam lubang besar di pohon itu terlihat terang karena matahari masuk ke dalamnya


Mao melihat di dalam pohon itu ada tumpukan buku yang jumlahnya dua puluh buku lebih kurang saat Mao hendak memegang buku itu