
Dengan gagahnya di malam itu yang sudah berlanjut datang tiga orang dengan gagahnya berjalan menuju ke arah aula pertemuan.
"Mohon jendral Mao melatih kami"kata Seorang dari tiga orang itu yang tidak lain adalah Cong salah satu jendral yang memimpin kota, di ikuti dua jendral lainnya yaitu Shing dan Wen sambil berlutut di depan Mao.
"apa yang jendral Cong, Shing dan wen lakukan tidaklah baik, sebaiknya kalian duduk dulu untuk membicarakannya"kata Mao dengan tidak enak melihat tiga jendral berlutut di depannya.
"aku lupa setelah Dewi dan Liam kembali dari latihan yang kamu berikan pada mereka, Dewi dan Liam mengajak mereka bertanding dalam beberapa hari dan sampai sekarang mereka tidak bisa mengalahkan anakku keduanya"kata rayen sambil tertawa setelah itu
"iya jendral Mao tolong latih kami"kata Shing
"duduklah aku akan menjelaskannya"kata Mao
setelah itu ketiga jendral itu duduk di kursi mereka masing-masing.
"Sebenarnya Jika ingin berlatih kalian bisa langsung ke kota tua sekarang atau menyuruh pangeran Liam membangun arena latihan itu"kata Mao
"maaf saudara Mao, aku tidak bisa membangun latihan seperti itu karena banyak kesusahan dalam membangunnya tanpa arahan saudara Mao"kata Liam
"Aku juga tidak bisa lama-lama di sini, jadi bagaimana kalian pergi ke kota tua saja untuk berlatih"kata Mao.
"Begini saja Jendral, arena latihan sebelumnya mungkin masih ada di markas gagak terbang, di sana juga mereka bisa berlatih"kata Lian
"ouh ya aku lupa, kalo arena latihannya juga masih di markas gagak terbang, bagaimana jika kalian berlatih di sana saja, dan hanya membutuhkan lima menit dari sini tentu kalian tau markas gagak terbang dan sekarang tempat itu kosong tidak ada yang menempati dan bagaimana kalo markas itu kalian jadikan markas prajurit"kata Mao
"benar yang Mao katakan sebaiknya kalian bertiga berlatih di sana, dan juga jadikan itu markas prajurit saja untuk menjaga keamanan kerajaan Pedang dewa"kata rayen
"siap raja, terima kasih jendral Mao"jawab ketiga jendral itu serempak
setelah itu banyak lagi yang mereka bicarakan di ruangan itu, setelah beberapa waktu berlalu satu persatu dari mereka meninggalkan ruangan pertemuan itu menuju kamar mereka masing-masing termasuk Mao dan Lian.
Keesokan paginya setelah sarapan bersama dengan raja dan anggota kerajaan lainnya Mao dan Lian menuju ke aula pertemuan bersama Rayen dan yang lainnya.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang Mao"tanya rayen saat sudah duduk di ruang pertemuan itu.
"aku akan kembali ke kota tua Raja"kata Mao.
"Ayah, bolehkah aku ikut ke kota tua Bersama Mao"kata Dewi.
"tentu, kalian nanti akan menikah jadi kamu harus ikut"kata Dina
"Benarkah ibu"kata Dewi
"benar, pergilah tapi maaf kakakmu Liam tidak akan menjagamu lagi karena ada Mao yang akan menjagamu mulai sekarang karena dia akan menjadi calon suamimu"kata Dina.
setelah cukup lama berbicara di ruang pertemuan itu Mao, Lian dan Dewi keluar dari kediaman raja lalu mengajak Lian dan Dewi menuju gerbang kota kerajaan karena Mao mengira mungkin enam pemimpin pedang dan pemanah sudah ada disana.
Dan benar saja seperti yang Mao pikirkan keenam pemimpin itu sudah ada di gerbang kota kerajaan dan duduk dengan santai, melihat kedatangan Mao lalu Liam dan yang lainnya berdiri memberi hormat pada Mao.
"Apa kalian sudah membeli cukup makanan dan perlengkapan lainnya"tanya Mao saat sudah di dekat Liam dan lainnya
"sudah jendral, sampai gerobak itu penuh"kata Liam sambil menunjuk gerobak yang sudah ada di luar gerbang.
"baiklah mari kita berangkat, Liam kamu menunggangi Kuda milikku sedang kan aku akan membawa gerobak bersama dengan Lian dan Dewi"kata Mao
"siap jendral"kata Liam lalu menunjukkan gerobak yang dia bawa dan Mao juga memberikan kuda miliknya kepada Liam.
setelah naik ke gerobak bersama dengan Lian dan Dewi pagi itu Mao dan yang lainnya mulai menuju ke kota tua.