
Jefrey menatap kepergian Justin untuk beberapa waktu, bisa dia rasakan bagaimana perasaan laki-laki itu saat ini.
Dimasa kemarin saat Justin kehilangan Amora dia tahu betul bagaimana terpuruk nya Justin.
Fase yang Dilalui Justin Saat Kehilangan Orang Tercinta nya Secara Mendadak jelas sangat sulit sekali.
Dimulai dari Laki-laki itu mendapati tubuh Amora yang tidak berdaya hingga gadis itu meninggal didalam dekapan nya.
Justin kala itu jelas shok.
Bahkan laki-laki itu berulang kali mendustai dirinya sendiri soal kematian Amora benar-benar tidak terjadi.
Bagi nya semua hanya mimpi, yah bagi laki-laki itu apa yang dia lihat dan dia lewati hanya mimpi.
"Aku percaya, saat aku bangun dari tidur Amora seperti biasa duduk dihadapan ku, menyentuh lembut wajah ku sambil berkata Bangunlah, kita akan pergi ke perusahaan bersama-sama"
Realita nya apa yang Justin harapkan tidak pernah terjadi hingga hari ini.
Tapi Laki-laki itu terus mencoba membuang kenyataan yang telah terjadi.
Dia melewati Fase penyangkalan.
Dimana Justin Kerap kali menyangkal atau bahkan menentang kepergian orang yang dia cintai itu.
Justin selalu berharap peristiwa sedih itu hanya mimpi dan berharap waktu dapat berputar kembali seperti semula.
Ketika masuk ke dalam fase itu, di mana semu orang dalam keadaan berduka, Justin menggangap kabar yang menyedihkan tersebut salah.
Karena itu semua orang berusaha untuk tutup mulut, tidak ada satu orang pun yang berani menyangkal Pemikiran gila Justin agar laki-laki itu tidak mendapat masa depresi nya.
Membiarkan justin masuk ke dalam pemikiran nya sendiri selama beberapa waktu.
Hingga akhirnya laki-laki itu menyadari sendiri kenyataan jika Amora benar-benar telah tiada.
Hingga akhir Justin mencoba melewati Masa berkabung selama mungkin.
Fase ini terjadi selama beberapa bulan hingga tahunan. Diiringi dengan perasaan marah, kesepian, kecewa, hingga nyaris berdampak pada depresi.
Karena itu dukungan dari seluruh anggota keluarga sangat dibutuhkan saat itu untuk Justin.
Bahkan pada fase itu justin malah diberikan penanganan oleh bagian profesional seperti psikolog juga psikiater.
Entahlah Jefrey lupa berapa lama waktu Justin untuk menerima dan ikhlas dengan Semua nya, menyakini jika Amora benar-benar telah tiada.
"Kau tidak apa-apa?"
Tanya Jefrey pelan sambil menyentuh bahu adiknya tersebut.
Justin berkali-kali membuang isi perut nya, memuntahkan apa saja yang bisa dimuntahkan oleh laki-laki tersebut.
Setelah dirasa Justin telah lega dengan keadaan nya, Jefrey baru berani mengajak laki-laki itu bicara.
Justin membalikkan tubuhnya secara perlahan, dia menatap nanar wajah sang kakak nya itu untuk beberapa waktu.
"Apa yang barusan saja aku lihat?"
Tanya Justin ke arah Jefrey.
"Aku pun awalnya cukup terkejut"
Jawab Jefrey pelan.
"Mencoba menyakinkan penglihatan ku untuk beberapa waktu dan menelisik sosok itu dengan seksama"
Lanjut nya lagi.
"Kemudian aku ingat, Pepatah di banyak negara menyebut kalau setiap orang itu punya doppelganger, kembaran yang tidak berhubungan darah. Orang-orang yang matanya sama dengan mata ibu kita, hidung ayah kita, bahkan punya tahi lalat sama dengan kita"
Ucap Jefrey sambil terus menatap bola mata Adiknya itu.
"Konsep ini telah menyita imajinasi selama ribuan tahun. Banyak orang yang menjadikannya subyek untuk buku - menginspirasi puisi dan membuat banyak orang ketakutan"
"Namun, apakah doppelganger itu benar-benar ada? Kita hidup di planet yang ditinggali tujuh miliar orang, jadi besar kemungkinan seseorang terlahir dengan wajah yang sama dengan kita pasti ada meskipun Terdengar bodoh"
Saat Jefrey berkata begitu, bisa dia lihat bola mata adik nya itu ber'embun.
"Aku masih berharap itu dia"
Ucap Justin tiba-tiba.
Setelah mendengar kan ucapan Justin, Jefrey langsung memeluk erat tubuh laki-laki itu sambil berkata.
"Percaya lah, semua akan baik-baik saja"