
Setelah berkata Tentu saja semua baik-baik saja, Aldi yang tengah berdiri di depan pintu kini melangkah masuk kedalam mendekati Jefrey dan Isabella.
"kau masih tidak percaya jika aku bisa menjaga model dari perusahaan mu dengan baik?"
Tanya laki-laki itu sambil menatap Jefri dan Isabella secara bergantian.
"Cukup aneh orang sekelas Jefrey Van Efron mau bersusah payah datang ke Palembang model barunya? aku pikir setelah ini gosip miring mungkin akan terjadi"
lanjut laki-laki itu lagi.
"Apa kamu mempermasalah kan persoalan itu? Aku Fikir aku bisa melakukan apapun yang aku mau tanpa harus takut dengan gosip murahan yang tidak berkelas"
Jawab Jefrey dengan suara yang begitu datar.
Tidak tahu kenapa Isabella merasa cukup tegang dengan keadaan saat ini.
tidak mengerti apakah mereka akur atau tidak sebelum nya tapi bagi Isabella begitu terlihat jika ke dua laki-laki itu saling menatap dengan tatapan yang begitu dingin.
"satu kehormatan pemilik perusahaan terkenal Van Efron mau datang langsung kemari"
Aldi terlihat menaikkan ujung bibirnya, dia menatap Jefrey dengan tatapan yang begitu sulit untuk di ungkapkan.
Jika Aldi memberikan tatapan rumit dan pelik, beda hal nya dengan Jefrey yang jelas memberikan tatapan tajam penuh intimidasi.
Bagi seorang yang nyalinya gampang ciut, tatapan Jefrey jelas seperti tatapan seorang pembunuh yang siap menghajar dan menerkam mangsa nya, tapi bagi orang yang tidak mudah ter intimidasi mereka akan mencoba mengalihkan pandangannya dan berusaha untuk mencari pokok atau topik pembicaraan lain.
Tapi Aldi jelas terlihat tidak mengalami dua tekanan tersebut sama sekali.
Laki-laki itu seolah-olah ingin bicara dengan Jefrey untuk hal yang begitu serius.
"Kau disini?"
Tiba-tiba suara Raisa menyeruak masuk di antara mereka.
Gadis itu bertanya ke arah Jefrey kemudian langsung menghampiri suami Isabella, sebuah pelukan hangat ditampilkan oleh kedua orang tersebut.
Jika Isabella tidak merasa heran dengan apa yang mereka lakukan, karena dia tahu betul bagaimana hubungan Jefrey dan Raisa berlaku kala ini.
Berbeda hal nya dengan Aldi yang menampil kan ekspresi wajah dingin yang siap membekukan siapa pun di muka bumi ini.
"Aku fikir kamu tidak akan datang kemari, benar-benar enggan meluangkan waktu mu untuk melihat kami!"
Pertanyaan Raisa seolah-olah sengaja terkonsep untuk menarik perhatian semua orang termasuk Aldi.
Trik dan tipuan manis untuk mengecoh berita dan lawan, tapi cukup menyakitkan untuk laki-laki sekelas Aldi.
Isabella ingin sekali tertawa geli dengan semua ini, dia fikir apa kedua manusia di hadapannya itu saling mencintai?!.
Lucu sekali.
Jawab Jefrey pelan.
"bersiaplah, 10 menit lagi pemotretannya akan kembali dimulai"
Setelah berkata begitu entah sebenarnya ke arah siapa, Aldi berusaha untuk membalikkan tubuhnya.
Tapi lagi-lagi satu suara datang dari arah pintu masuk.
"Kami ada di sini?"
Itu adalah Mayang, entah sejak kapan perempuan itu menyusul ke Palembang, tahu-tahu dia sudah ada di sini.
Aldi terlihat mengeratkan rahangnya, menatap perempuan itu dengan pandangan yang tidak dia sukai.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Tanya Aldi sambil mengerutkan keningnya.
"Aku pergi bersama Mama, ada urusan bersama rekan bisnis nya disini, mereka melakukan kontrak kerjasama bersama calon investor baru nya"
Mendengar kata investor seketika Isabella melirik ke arah Jefrey.
Dia Fikir itukah alasan nya Jefrey menyusul dirinya ke Palembang!?.
Seolah-olah bola mata mayang baru menyadari soal sesuatu, dia cukup terkejut melihat Jefrey ada di antara Semua orang, dia menatap bahagia ke arah laki-laki tersebut.
"Bukankah kebetulan sekali? paman dan keponakan berada di ruangan yang sama?"
Tanya Mayang tiba-tiba.
Mendengar kata Paman dan keponakan, jelas membuat Isabella mengerutkan keningnya.
Bagiamana maksud nya?!..
Mayang langsung menoleh ke arah Aldi kemudian kembali bertanya.
"Aku fikir kamu dan Paman Van Efron mu sudah sangat lama sekali tidak berada dalam lingkaran bisnis yang sama sejak beberapa tahun yang lalu setelah kamu menikung nya paman mu dalam menikahi adik tiri ku"
Lanjut Mayang lagi sambil menaikkan ujung bibirnya.
Isabella jelas membulatkan bola matanya.
Apa?.
Paman dan keponakan? menikung? dirinya??.
Ada yang bisa menjelaskan apa yang telah terjadi sebenarnya?.