Istri Tak Ternilai Tuan Jefrey

Istri Tak Ternilai Tuan Jefrey
Suami yang tidak berdaya


Mansion ke dua


Keluarga Santoso


Terdengar derap suara langkah heels dari seseorang di atas tangga yang terus berjalan menghitung satu persatu anak tangga.


Pakaian hitam mendominasi dengan langkah pasti terus berjalan menapaki anak tangga satu persatu.


Satu gelas alkohol dan satu botol minuman terlihat di pegang oleh sosok seorang wanita yang terus berjalan melangkah menaiki anak tangga tersebut.


Wanita itu terlihat mulai berjalan menuju ke salah satu kamar yang terletak di lantai kedua yang dia datangi, sebuah kamar utama yang berukuran besar dimana pintunya terlihat penuh dengan ukiran-ukiran indah di depannya.


terlihat dua penjaga berbadan kekar berdiri di sisi kiri dan kanan pintu tersebut, kemudian tampak seorang perempuan berusia 42 tahun yang menunduk kan kepalanya saat dia mendekati pintu kamar tersebut, membuka pintu kamar tersebut secara perlahan.


Wanita itu masuk ke dalam kamar mendominasi berwarna putih itu dan terus berjalan menuju ke arah satu ranjang dimana si atas nya tergeletak satu sosok tubuh yang tidak berdaya, dimana di sekitar tubuh laki-laki tersebut dipenuhi dengan selang-selang yang menempel satu persatu di beberapa titik tubuhnya.


Seulas senyum mengembang dari bibir wanita tersebut, dia mulai berdiri di tepian kasur sambil menatap sosok laki-laki yang di antara mulutnya menggunakan alat bantu pernapasan.


"Apa kabar mu, suami ku?"


Ucap Meri sambil menatap tajam ke arah laki-laki tersebut.


Dia terlihat mulai duduk di atas kursi yang berada tepat di samping laki-laki tidak berdaya Tersebut.


Entah berapa tahun laki-laki itu terbaring tidak berdaya, yang jelas sejak laki-laki itu terbaring, seluruh perusahaan Santoso Meri lah yang mengelolanya.


"Kau begitu senang bermalas-malasan"


Bisik Meri sambil menyilang ke dua tangan nya, dia duduk di atas kursi sofa mendominasi berwarna hitam.


"Kau tahu suami ku?"


Tiba-tiba perempuan itu memajukan tubuhnya, dia berusaha mendekati laki-laki tidak berdaya itu secara perlahan, mendekati wajah nya ke arah wajah laki-laki tersebut kemudian dia berbisik.


Tanya Meri Lagi pelan.


"Aku akan memberitahu kan nya, tapi sebelum nya kamu harus memberikan aku cap jari kamu"


Setelah berkata begitu Meri menoleh ke belakang, memainkan jari telunjuk nya dan memerintah kan Perempuan yang ada di dekat pintu menghampiri dirinya.


Perempuan yang dipanggil terlihat berjalan mendekat, dia membawa kan Beberapa berkas di dalam map berwarna hitam dan memberikan nya kepada wanita yang ada di hadapannya itu.


Meri secara perlahan membuka map tersebut dan mengambil isi nya.


Beberapa lembar kertas yang harus di bubuhi tanda tangan dan stempel perusahaan tersebut kini berganti menjadi cap ibu jari dan stempel perusahaan.


Perempuan yang berdiri itu terlihat mengeluarkan sebuah bantalan cap dan memberikan nya ke arah Meri.


Wanita itu menarik jari jempol laki-laki tidak berdaya tersebut kemudian memaksa tangan itu memberikan cap di kertas yang ada di hadapannya.


Kemudian Meri mulai membubuhi stempel perusahaan pada tiap lembar kertas nya.


Dia memberikan kembali berkas tersebut ke arah Perempuan yang ada di samping nya tersebut dan membiarkan perempuan itu keluar dari ruangan itu lebih dulu


Meri kembali menjongkok kan tubuhnya kemudian kembali memasang posisi, dia berbisik di depan wajah laki-laki itu dengan Ekspresi yang begitu mengerikan.


"Putri mu Lira telah di makan kan di samping kuburan Mama nya, apakah kau menyukai nya?"


Setelah berkata begitu, Meri terlihat terkekeh kecil kemudian dia membenahi posisi nya, berdiri dengan perasaan yang begitu puas.


Meri kemudian membalikkan tubuhnya lantas melangkah keluar dengan cara yang begitu angkuh dan anggun dari dalam ruangan tersebut dan dipenuhi jutaan kebahagiaan.


Begitu pintu tertutup, sejenak terdapat gerakan beberapa kali dari jari laki-laki cukup tua tersebut.