
Santoso company
Ruang kerja Meli
"Akhhhhhhh"
Praanggggg
Praanggggg
Seketika kemarahan Mayang meledak-ledak, berbagai macam pajangan kaca yang ada di atas meja kerja Mama nya terlihat hancur berserakan kemana-mana.
Bahkan botol wine dan gelas wine yang ada di tangan nya ikut jadi korban amukan kemarahan nya.
Mayang jelas begitu marah Saat dia tahu apa yang terjadi selama dia di Palembang kemarin.
"Dia akan menikah dengan gadis itu? bagaimana bisa?"
Teriak nya pada sang asisten pribadi Mama nya, sang Mama nya jelas memijat-mijat kepalanya sejak tadi.
dia Fikir bagaimana bisa putri nya mulai gila karena cinta, toh mereka tidak akan hidup hanya karena cinta, jadi untuk apa menjadi gila karena cinta?!.
Meskipun tidak dia pungkiri dia cukup kecewa saat Aldi memutuskan pertunangan mereka sebab laki-laki itu jelas adalah penerus Mulyono Group, tapi bukankah Mayang telah menemukan batu loncatan yang baru?!.
Jika lain pemikiran Meri, maka lain lagi pula dengan pemikiran Mayang.
Mayang fikir bagaimana bisa Aldi dan Raisa akan menikah, dia sama sekali tidak pernah menyimpan kecurigaan kepada Raisa, dia fikir hubungan kedua orang itu hanya sekedar hubungan bos dan modelnya.
Lalu kenapa tiba-tiba ada berita tidak terduga di antara kedua orang tersebut?!.
"Siapa? siapa yang menyebarkan berita bohong ini?"
Pekik Mayang lagi pada perempuan yang ada di hadapannya itu.
"Saya belum tahu, nona"
Jawab Perempuan itu pelan.
Mayang terlihat marah, dia mencoba meraih handphonenya untuk menghubungi Aldi namun rupanya berkali-kali dia mencoba menghubungi, laki-laki itu sama sekali tidak mau mengangkat panggilannya. Bahkan panggilan terakhirnya direject secara terang-terangan.
"Bit..ch"
Umpat Mayang kesal.
Dia pada akhirnya mencoba menghubungi Raisa tapi handphone garis tersebut sama sekali tidak aktif.
Karena kesal lagi-lagi mayang Mencoba membanting apapun yang ada di hadapannya.
Tapi ditengah kemarahannya tiba-tiba dari pintu depan muncul seorang laki-laki.
"Ada apa ini?"
laki-laki dengan tubuh besar tinggi dan kaca mata berbingkai berusia sekitar 40 tahunan itu bertanya sedikit terkejut kearah Mayang.
Itu adalah sang pengacara Papa tiri nya Santoso, tuan Ibnu.
Alih-alih menjawab ucapan laki-laki itu, Mayang terlihat menaikkan ujung alisnya.
"Kenapa paman ada disini?"
Apalagi tingkah laku Mama nya mulai mencurigakan bagi diri nya.
"Apa kalian sedang berselingkuh?"
Tanya nya terang-terangan.
Ibnu terlihat mengembangkan senyuman nya.
"Kau terlalu jauh berfikir"
Ucap laki-laki itu sambil melangkah masuk menuju ke arah kursi sofa yang ada di sisi kanan Mayang.
Mayang melirik kearah Mama nya, wanita itu terlihat pura-pura tidak memperhatikan laki-laki itu, sibuk memperhatikan kuku-kuku indah nya.
"Kenapa kamu menghancurkan barang-barang lagi? apakah hal yang buruk terjadi?"
Tanya Ibnu pelan.
Mendengar pertanyaan Ibnu, Mayang langsung berkeluh-kesah.
"Paman tahu? Aldi akan menikah bulan depan dan itu hanya tinggal menghitung jari, ini sudah ada di tanggal berapa? coba paman hitung sendiri"
Perempuan itu bicara dengan nada menggebu-gebu, api kemarahan jelas terlihat dari balik bola mata nya.
Sejenak Ibnu tampak Diam, dia tidak mengeluarkan suaranya sama sekali.
"Lupakan Aldi, teruskan rencana untuk mendekati Jefrey dan Menjebak nya ke kandang kelinci"
Ucap laki-laki itu tiba-tiba.
"Tapi aku menentang keras pernikahan nya"
"Kau ingin ke-dua laki-laki itu?"
Mama nya bertanya dengan nada tidak percaya.
Mendengar ucapan mamanya, mayang Langsung menoleh kearah wanita tersebut.
"Bukankah Mama juga seperti itu?'
Tanya putri nya dengan tatapan sedikit sinis.
"Apa?"
Meri jelas bertanya dengan nada tidak percaya saat mendengar ucapan putrinya itu.
"Bukankah sudah mendunia istilah guru kencing berdiri murid kencing berlari?"
Ucap Mayang lagi.
Mendengar kata-kata Mayang Seketika wanita itu berdiri dari duduknya, dia langsung berteriak kesal kearah putri nya tersebut.
"Mayang"
Dan dalam hitungan detik Seketika ketegangan terjadi di antara mereka.
Realita nya ibu dan anak itu sering membuat perkara pertengkaran dibelakang semua orang.