
Isabella masih menyelesaikan sesi membersihkan dirinya, setelah gerah seharian dengan pakaian pengantin yang menempel di tubuhnya Perempuan itu jelas memilih untuk Langsung melesat masuk ke kamar mandi.
Sejak selesai melahap makan malam bersama putra nya Harvey, bermain bersama dan bercanda bersama, sang ibu mertua membawa putranya untuk segera beristirahat.
Ibu Jefrey berkata besok Harvey harus bangun lebih awal karena harus pergi ke sekolah.
Dia sebenarnya cukup keberatan saat Harvey harus tinggal di kamar ibu mertua nya, tapi wanita paruh baya lebih itu punya alasan yang cukup logis hingga membuat Isabella tidak bisa menolak ucapan nya.
Di lantai bawah setelah menyelesaikan makan malam nya, Jefrey Van Efron harus menyelesaikan beberapa urusan bersama sang sekretaris pribadi nya.
"Aku fikir ini cukup berhasil tuan"
Ucap Ken pada Jefrey.
Yang di ajak bicara mengerutkan keningnya, menoleh ke arah Ken saat tangan nya masih memegang beberapa berkas di tangan nya.
"Soal?"
"uan Aldi sedang berusaha mendekati Moma agar bisa mendapat kan kontrak kerja sama nya dengan Nona Isabella, mereka benar-benar akan mengganti kan model nya untuk papan iklan nya"
Mendengar ucapan Ken seketika Jefrey menaikkan ujung bibirnya.
"Urus persoalan itu, Pastikan dia mendapatkan nya"
Ucap Jefrey pelan.
"Dan aku tidak ingin dia memiliki kesempatan untuk bertemu dengan istri ku dengan cara yang gampang"
Pesan Jefrey kemudian sambil menatap tajam ke arah Ken.
"Kau tahu? aku tidak suka barang tak ternilai Ku di ganggu gugat kembali oleh laki-laki itu"
Mendapatkan tatapan membunuh dari sang tuan nya membuat Ken terlihat diam, dia tahu betul bagaimana Jefrey.
Laki-laki itu tidak suka mengalah belakangan ini jika menyangkut nona Isabella nya.
"Baik tuan"
Ucap nya cepat kemudian langsung mencoba beranjak dari sana setelah menerima berkas-berkas yang telah ditandatangani oleh Jefrey.
Dia memang seharusnya langsung memilih untuk pergi, sebab dia cukup tahu diri. Malam ini adalah malam pertama tuan nya tersebut.
Terlalu banyak menyita waktu manusia sedingin es tersebut bisa membuat dia kehilangan nyawanya cepat atau lamban.
Dan benar saja, begitu Ken beranjak pergi Jefrey langsung melesat naik menuju ke lantai atas tanpa banyak bicara.
Laki-laki itu fikir membersihkan diri jelas menjadi pilihan paling bijak untuk dirinya saat ini.
Seharian berkutat dan berbaur dengan orang-orang serta urusan pernikahan membuat laki-laki itu cukup merasa gerah.
Begitu dia berada di depan pintu kamar, laki-laki itu membuka pintu kamar nya secara perlahan, berjalan masuk ke dalam menuju ke arah tepian kasur.
Dia fikir kemana sang istri nya?!.
Sejenak dia mengerutkan keningnya.
Begitu terdengar suara aliran air dari arah kamar mandi, Jefrey jelas langsung menaikkan ujung bibirnya.
Laki-laki itu secara perlahan melepas satu persatu pakaian nya dan hanya menyisakan pakaian penutup dalam bawahan nya.
Bukankah kebetulan sekali fikir Jefrey?!.
Jefrey berjalan perlahan menuju ke arah pintu kamar mandi, mulai mencoba memutar knop pintunya dan memastikan pintu nya tidak terkunci dari dalam.
Dan...
Klekkkkk
Jackpot.
Bukankah dia tidak harus bersusah payah untuk mengetuk pintu dan menunggu gadis itu mempersilahkan dirinya masuk kedalam?!.
Begitu masuk kedalam, bisa dia lihat Isabella masih dalam proses membersihkan diri nya, mengusap wajahnya yang di penuhi bisa sabun dan membiarkan air shower 🚿 terus bergerak membersihkan seluruh area tubuh indah nya.
Gadis itu hanya menggunakan pakaian da..lam nya saja.
Menampilkan lekukan tubuh indah yang membuat Jefrey seketika menelan salivanya.
Seolah-olah sadar ada yang masuk dan memperhatikan dirinya, Isabella buru-buru mengusap mata nya beberapa kali, dia mencoba menoleh dengan cepat dan cukup terkejut saat tahu siapa yang sudah berdiri di hadapan nya saat ini.
"Oh god..."
Gadis itu seketika terkejut, mundur beberapa langkah ke belakang karena panik, dia mencari handuk nya yang entah ada dimana, keadaan Jefrey yang jelas nyaris te..lanjang Bu..lat mengejutkan Dirinya.
Alih-alih peduli dengan ekspresi sang istri, bagaikan manusia yang tidak memiliki dosa, dia bergerak mendekati Isabella dengan langkah perlahan.
"Ma..u apa?"
Isabella yang tidak menemukan Handuk nya Karena panik jelas bertanya sedikit gugup.
"Mandi"
Jawaban singkat dari bibir Laki-laki itu membuat Isabella menggerutu didalam hati nya.
Iya mandi, memang apa yang aku pikirkan.
Isabella buru-buru Bergerak kesamping.
"A..ku fikir aku sudah selesai"
Dia masih merasa gugup, mencoba menelusuri ruang kamar mandi dan menemukan handuk yang dia letakkan di dekat wastafel.
Begitu dia bergerak ingin menjauhi Jefrey, laki-laki itu dengan gerakan begitu refleks menyambar tubuh nya.
Seketika Isabella terkejut dan membulatkan bola matanya.
"Dengan busa sabun yang masih menempel di tubuh? aku fikir ini belum selesai"
Mendengar ucapan Jefrey, seketika Isabella mencoba menatap tubuh nya sendiri.
Hahhhh?!.
Iya bisa sabun.
"Aku...akan.. maksud ku... kamu bisa mandi lebih dulu, aku akan kembali setelah kamu selesai"
Dia benar-benar gugup saat tubuh laki-laki itu menempel pada dirinya, kata-kata nya seolah-olah tersusun berantakan, dia fikir bagaimana bisa dia bertahan disana melihat tubuh kekar yang hampir te..lan..jang sempurna tersebut.
Bahkan dia juga dalam keadaan yang.....akhh begitu memalukan.
"Bukankah suami istri bisa menghabiskan waktu mandi berdua? kenapa harus mandi secara terpisah?"
Jefrey kali ini menarik erat punggung Isabella, membuat tubuh mereka menempel Antara satu dengan yang lainnya.
"Ya?"
Seketika Isabella tercekat.
"Bukankah ini juga bagus untuk meningkatkan kan gai..rah di malam pertama? aku fikir kamar mandi pilihan pemanasan yang cukup baik untuk memulai semuanya"
Ucapan Jefrey yang begitu terus terang seketika membuat Isabella menelan salivanya.
Dia kenapa bicara begitu terus terang sekali?!.
Pekik Isabella didalam hati nya dengan wajah yang mulai memerah.