Istri Tak Ternilai Tuan Jefrey

Istri Tak Ternilai Tuan Jefrey
Menipu untuk menipu


Di sebuah penjara yang gelap dan pengap, terlihat seseorang berjalan sambil membawa sebuah tongkat,Seorang laki-laki tampak berjalan sambil dikawal oleh dua pengawal di sisi kiri dan kanannya.


Berkali-kali dia membiarkan tongkat ditangan nya itu saling bertemu dengan lantai penjara Sehingga menimbulkan suara berisik disepanjang penjara tersebut.


Laki-laki itu menatap dua sipir yang ada dihadapan nya untuk beberapa waktu, seolah-olah bicara dari tatapan mata saja, dua sipir Tersebut menundukkan kepala mereka kemudian mereka membiarkan laki-laki itu berjalan masuk menuju ke sebuah ruangan tunggu dimana didalam sana terdapat seorang laki-laki yang duduk di atas sebuah kursi roda.


Ibnu terlihat tidak berdaya, tubuh ringkih karena sakit nya sisa tembakan di perut dan di paha kanan nya membuat laki-laki itu semakin menderita dengan ketidak berdayaan nya.


Dia beberapa kali mencoba menahan rasa perih dari luka nya yang sebenarnya belum pulih seutuhnya, tapi karena tuntutan hukuman yang dia jalani memaksa dirinya mau tidak mau berada di Balik jeruji besi saat ini.


Dikala laki-laki itu tengah berkutat dengan rasa sakit nya, tiba-tiba kehadiran seseorang membuat dirinya cukup terkejut.


"Kau.... bagaimana bisa...?"


Bola mata Ibnu jelas hampir melotot keluar, cukup terkejut dengan apa yang dilihat nya saat ini.


Dia Fikir apakah dia salah Melihat,atau dia sedang bermimpi saat ini, atau jangan-jangan dia sedang berhalusinasi.


Meksipun belum bisa benar-benar melihat wajah laki-laki dihadapan nya itu karena suasana gelap ruangan gedung.


Tapi saat sosok didepannya mengeluarkan suaranya, laki-laki itu jelas terbelalak kaget.


"Aku harap kamu cukup puas dengan kehidupan terbaru mu saat ini"


Mendengar suara itu membuat dia sadar jika dia tidak mengalami semua yang dia fikirkan tadi.


Ini adalah sebuah kenyataan yang menghantam dirinya.


"Kau masih hidup?"


Tanya Ibnu pada laki-laki itu.


Alih-alih menjawab, laki-laki yang di tanya itu menaikkan ujung bibirnya.


"Kau tahu? bahkan aku belum pernah sekalipun mati, jadi bagaimana caranya aku hidup kembali?"


"Kau bilang apa?"


Tanya nya sambil mengerutkan keningnya.


"Kadang untuk menjebak lawan agar hancur berkeping-keping, kamu butuh sedikit sandiwara untuk mengecoh mereka, bukankah prinsip orang pintar seperti ini selalu ditetapkan didalam rumah kita?'


Tanya laki-laki itu kemudian.


Kali ini laki-laki itu memajukan langkah kakinya secara perlahan, secercah cahaya lampu langsung menyeruak masuk mengenai wajah laki-laki tersebut.


Memperlihatkan wajah aslinya kearah Ibnu yang dimana senyuman licik terlihat di Balik wajah laki-laki tua tersebut.


"Kau membohongi dunia soal keadaan mu"


Ibnu jelas menggeram saat dia benar-benar yakin siapa yang ada dihadapan nya saat ini.


"Tidak, aku tidak melakukan nya. Kau lah yang membohongi seluruh dunia dan berkata akulah yang telah tiada"


Jawab laki-laki itu kemudian berjalan mendekati Ibnu


"Aku harap kau dan Meri menikmati sisa akhir hari-hari kalian dengan penuh kebahagiaan"


Mendapatkan pernyataan seperti itu dari laki-laki tua dihadapan nya membuat Ibnu berang, laki-laki itu mencoba berdiri dan melangkah mengejar laki-laki itu, berusaha untuk menggapai dan menghajar nya.


Tapi apalah daya baru dia akan berdiri, seluruh anggota tubuhnya Seolah-oleh mati.


"kau... Ba..jingan kau... Santoso"


Sebaris perkataan penuh makian dan teriakan melengking itu memecah keadaan didalam penjara tersebut.


Santoso yang mendengar kemarahan didalam diri Ibnu terlihat langsung bergerak memundurkan langkahnya, dia berbalik dan berjalan menjauhi laki-laki tersebut secara perlahan.